Selasa, November 3, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Bali Kandang Gajah, PSI Janji Politik Berbasis Budaya

by dimas
Januari 26, 2026
in Edge
A A
Home Edge

Tabooo.id: Edge – Bayangkan seekor gajah masuk pura, bukan untuk mengamuk, bukan pula untuk pawai.
Sebaliknya, ia datang untuk belajar adat.

Gambaran absurd itulah yang muncul pekan ini ketika Partai Solidaritas Indonesia (PSI) mendeklarasikan Bali sebagai “kandang gajah”. Tenang, ini bukan adegan film animasi. Ini politik Indonesia edisi 2026, dengan rasa meme yang sengaja dibiarkan matang.

Sementara itu, di sebuah hotel mewah di Badung tempat AC bekerja lebih dingin daripada debat politik Ketua Harian PSI Ahmad Ali berdiri di hadapan ratusan kader. Dengan nada serius, ia menyampaikan satu pesan yang terdengar sederhana, tetapi terasa revolusioner: jangan sok tahu adat Bali.

Pesan semacam ini, jujur saja, jarang muncul dalam rapat partai.

Gajah yang Tak Mau Menginjak Pura

Pertama-tama, Ahmad Ali menegaskan bahwa PSI datang ke Bali bukan untuk mengubah, apalagi mengacak-acak budaya. Menurutnya, dunia mengenal Bali bukan karena tambang atau sawit, melainkan karena budaya yang hidup dan dirawat turun-temurun. Karena itu, PSI memilih untuk memperkuat budaya tersebut, bukan menggantikannya.

Ini Belum Selesai

Dijanjikan Kerja, WNI Justru Direkrut ke Medan Perang Rusia

Tujuh Polisi Dimutasi Usai Ungkap Kasus Narkoba Anggota DPRD

Secara teks, pernyataan ini terdengar indah.
Namun, secara konteks, pernyataan ini terasa tidak biasa.

Biasanya, partai datang membawa spanduk, jargon, dan janji berlapis. Akan tetapi, kali ini PSI justru membawa pesan rendah hati: belajar dulu, baru bicara.

Di sisi lain, Bali memang bukan ladang empuk bagi partai politik. Kursi parlemen di sana keras kepala. Tradisi berdiri kokoh. Warganya kritis. Salah sikap sedikit, bisa viral. Bahkan, salah kostum saja dapat berubah menjadi bahan roasting nasional.

Karena itu, PSI tampaknya sadar betul medan yang mereka pijak.

Politik yang Tak Mau Jadi Manusia Jadi-jadian

Selanjutnya, Ahmad Ali menambahkan nasihat klasik yang tetap relevan: jangan ramah hanya saat pemilu.

“Jangan jadi manusia jadi-jadian,” tambahnya.

Kalimat ini terdengar seperti sindiran halus, bukan hanya bagi kader PSI, melainkan juga bagi hampir seluruh partai politik. Publik sudah hafal tipikal politisi musiman: rajin senyum menjelang coblosan, lalu menghilang seperti sinyal di desa wisata.

Namun, setidaknya di forum itu, PSI mencoba menempuh jalur berbeda. Ahmad Ali meminta kader menjadi pribadi yang dermawan, suka menolong, dan hadir dalam kehidupan sehari-hari. Bukan sekadar hadir di baliho atau baliho digital.

Apakah pendekatan ini benar-benar akan hidup di lapangan?
Tentu saja, pertanyaan itu belum memiliki jawaban.

Politik Takut Salah Ucap

Menariknya, Ahmad Ali juga mengingatkan bahaya salah paham adat. Menurutnya, satu gestur keliru atau satu kalimat ceroboh dapat berujung perundungan massal di media sosial. Kini, politik tidak lagi hanya soal kebijakan, melainkan juga soal caption.

Di era algoritma, kesalahan kecil dapat berulang tanpa ampun. Karena itu, Bali dengan adat yang hidup dan sakral jelas bukan ruang aman bagi politik asal comot.

Atas dasar itu, PSI memilih pendekatan “diam, dengar, belajar”. Strategi ini terdengar dewasa. Namun, justru karena itu, strategi ini terasa sedikit mencurigakan.

Gajah, Loyalitas, dan Barisan

Kemudian, simbol utama pun kembali muncul gajah.

Ahmad Ali mengulang filosofi lama. Gajah kuat karena berkelompok. Ia setia pada barisan. Ia patuh pada pemimpin. Metafora ini tersusun rapi. Bahkan, mungkin terlalu rapi.

Menurutnya, loyalitas tidak diarahkan pada individu, melainkan pada cita-cita. Kalimat ini sering muncul dalam pidato politik. Sayangnya, kalimat yang sama jarang bertahan ketika konflik internal datang mengetuk pintu.

Meski begitu, PSI ingin memastikan satu hal kader muda harus solid, jangan lompat pagar, jangan baper politik.

Sebab, di dunia politik, gajah yang keluar dari kawanan biasanya tidak viral tetapi cepat dilupakan.

Podcast, Judul, dan Realitas Clickbait

Di sisi lain, Ahmad Ali juga meluruskan satu isu penting podcast.

Ia merasa judul-judul pemberitaan memicu tafsir liar, seolah dirinya membuka konflik antara Prabowo dan Gibran. Padahal, menurutnya, isi podcast justru menekankan kesinambungan dan kerja sama.

Fenomena ini sebenarnya klasik, konten panjang kalah oleh judul pendek, konteks tumbang oleh klik dan politisi, mau tak mau, terseret arus algoritma.

Di titik ini, absurditas politik modern terlihat jelas. Bukan pernyataannya yang viral, melainkan tafsir tercepatnya.

Kaesang dan Gajah yang Lahir di Bali

Lalu, Kaesang Pangarep masuk dengan gaya santainya.

Ia bercerita bahwa logo gajah PSI justru lahir di Bali, tepatnya di Tabanan, sekitar tiga minggu sebelum kongres. Detail kecil ini kemudian berkembang menjadi narasi besar.

Menurut Kaesang, gajah melambangkan kekuatan, kesetiaan, ilmu pengetahuan, kebijaksanaan, dan kemakmuran. Hampir semua sifat yang ingin dimiliki partai politik, meski jarang benar-benar dimiliki.

Target PSI sendiri tidak terdengar muluk. Mereka membidik posisi keempat parlemen pada Pemilu 2029. Tidak berteriak menjadi raja, tetapi ingin duduk di meja.

Ambisi ini terdengar realistis. Karena itu pula, ambisi ini terasa sedikit lebih bisa dipercaya.

Edgenya di Mana? Di Sistemnya

Namun, di balik semua pesan manis ini, tersimpan satu ironi besar.

Politik Indonesia terlalu lama bicara soal budaya, tetapi sering lupa mendengarkannya. Banyak partai mengaku merawat tradisi, tetapi hanya saat membutuhkan legitimasi. Setelah itu, mereka lupa.

Kini, PSI datang dengan narasi berbeda: jangan mengubah, jangan sok tahu, jangan arogan. Narasi ini terdengar segar. Akan tetapi, publik sudah kebal janji.

Sebab, di negeri ini, masalah utamanya bukan kekurangan slogan, melainkan konsistensi setelah kamera mati.

Punchline: Gajah Bisa Belajar, Politik Bisa?

Pada akhirnya, Bali resmi disebut sebagai kandang gajah.

Bukan kandang besi.
Bukan kandang pamer.
Melainkan kandang belajar.

Pertanyaannya sederhana, tetapi mungkin menyakitkan:
Jika gajah saja diminta belajar adat dan menunduk pada budaya lokal, kapan politik Indonesia benar-benar melakukan hal yang sama?

Atau jangan-jangan, yang paling sulit bukan mengajari gajah masuk pura melainkan mengajari politik untuk tahu kapan harus diam. @dimas

Tags: algoritmabaliBudayaGajahKaesang PangarepkekuasaanLokalPolitik IndonesiaPSISatir

Kamu Melewatkan Ini

Pertalite Langka, Antrean SPBU Mengular di Bali dan Malang

Pertalite Langka, Antrean SPBU Mengular di Bali dan Malang

by dimas
Oktober 15, 2026

Kelangkaan Pertalite di Bali dan Malang memicu antrean panjang di SPBU. Pertamina menyebut keterlambatan bongkar muat kapal dan lonjakan permintaan...

JABFest 2026: Seni Melawan Pendangkalan, Buku Menjaga Ingatan

JABFest 2026: Seni Melawan Pendangkalan, Buku Menjaga Ingatan

by dimas
Oktober 13, 2026

JABFest 2026 di Yogyakarta menghadirkan seni, buku, film, dan diskusi untuk melawan pendangkalan berpikir serta menjaga ingatan kolektif. Tabooo.id: Yogyakarta...

Jokowi Tak Lagi Bicara Dua Periode: Sinyal Politik atau Sekadar Menahan Diri?

Jokowi Tak Lagi Bicara Dua Periode: Sinyal Politik atau Sekadar Menahan Diri?

by dimas
Oktober 10, 2026

Jokowi tak lagi menegaskan dukungan dua periode untuk Prabowo-Gibran. Sinyal politik menuju Pilpres 2029 atau sekadar sikap hati-hati? Tabooo.id -...

Next Post
Kisah Asrorul Mais: Dari Keterbatasan Fisik ke Kursi Wakil Rektor III

Kisah Asrorul Mais: Dari Keterbatasan Fisik ke Kursi Wakil Rektor III

Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id