Tabooo.id: Life – Tak semua orang lahir dengan pilihan. Namun, Asrorul Mais memilih melawan batasan yang sejak awal melekat pada tubuhnya. Ia lahir tanpa kedua kaki pada 29 Agustus 1983 di Kecamatan Rambipuji, Kabupaten Jember. Sejak hari pertama hidupnya, tubuh Mais seolah mengajukan pertanyaan besar tentang keadilan, makna, dan tujuan hidup.
Alih-alih menjawabnya dengan kemarahan, Mais merespons pertanyaan itu lewat satu jalan panjang dan sunyi pendidikan.
Keluarga Sederhana dan Doa yang Tak Pernah Pergi
Sejak kecil, Mais tumbuh dalam keluarga sederhana. Ayahnya, M. Sholeh, bekerja sebagai guru agama, sementara ibunya, Cholifah, mengurus rumah tangga dan menenun doa sebagai bahasa cintanya. Sang ayah memberi nama “Asrorul Mais” dengan harapan sederhana namun dalam rahasia kehidupan.
Meski hidup pas-pasan, keluarga itu tak pernah kehabisan harapan. Kondisi ekonomi yang terbatas, ditambah kehadiran adik dengan autisme, memang membagi perhatian orangtua. Namun, justru di rumah kecil itulah Mais belajar satu pelajaran penting keterbatasan tak pernah menjadi alasan untuk berhenti berharap.
Sekolah, Tantangan, dan Keberanian yang Tumbuh Perlahan
Ketika usia sekolah tiba, orangtua Mais mengambil keputusan besar. Mereka memilih pindah rumah dan berhenti berdagang demi mendekatkan anaknya ke SLB YPAC Kaliwates. Keputusan itu bukan sekadar soal jarak, melainkan tentang menjaga rasa aman dan keutuhan batin seorang anak.
Seiring waktu, prestasi akademik Mais mulai menonjol. Nilai ujian nasional tertinggi mengantarkannya masuk SMP Negeri 5 Jember tanpa tes. Di sekolah umum, ia justru menemukan tantangan baru yang perlahan membentuk keberaniannya.
“Tempat baru di sekolah umum jadi tantangan,” ujar Mais. Meski begitu, ia memilih beradaptasi ketimbang menghindar. Ia bergaul dengan siapa saja, gemar membaca, dan secara sadar menolak memberi ruang bagi rasa minder.
Becak, Jalanan, dan Cara Belajar Bersyukur
Di luar sekolah, Mais kerap menghabiskan waktu berbincang dengan tukang becak dan orang-orang pinggir jalan. Dari percakapan sederhana itu, ia kembali belajar tentang makna syukur. Ia percaya setiap manusia menghadapi ujian dengan cara berbeda, dan kondisi fisik hanyalah salah satunya bukan penentu nilai diri.
Memang, pernah ada fase ketika Mais belum sepenuhnya menerima dirinya. Bahkan, ia sempat menantang Tuhan untuk memberi ujian yang lebih berat. Kini, ia memahami satu hal penting: hidup bukan tentang menghapus keterbatasan, melainkan memperluas kemungkinan.
Motor Roda Tiga dan Hasrat untuk Mandiri
Menjelang kelulusannya dari SMAN 4 Jember pada 2002, orangtua Mais menghadiahkannya sebuah motor roda tiga hasil modifikasi. Motor itu menjadi yang pertama di Jember dan kelak menginspirasi banyak penyandang disabilitas lain.
Bagi Mais, motor tersebut bukan sekadar alat transportasi. Ia menjadikannya simbol kemandirian. Sejak saat itu, ia bertekad tidak menggantungkan hidup sepenuhnya pada siapa pun.
Pendidikan sebagai Perlawanan Paling Sunyi
Setelah lulus SMA, Mais melanjutkan kuliah di Universitas Jember, jurusan Teknik Elektro. Di sela perkuliahan, ia aktif berorganisasi. Pada fase inilah ia mulai menyadari satu kegelisahan besar penyandang disabilitas sering kehilangan daya tawar di ruang publik.
Karena itu, pada 2003, bersama empat rekannya, ia mendirikan Persatuan Penyandang Cacat (Perpenca) Jember. Organisasi ini lahir bukan dari belas kasihan, melainkan dari kemarahan yang ia olah menjadi keberanian kolektif.
Mengorganisir Harapan, Bukan Belas Kasihan
Seiring waktu, Perpenca berkembang pesat. Dari pertemuan ratusan orang, organisasi ini kini menaungi lebih dari 11.000 anggota. Slogannya sederhana namun tegas beri kami kesempatan dan kami akan buktikan.
Di tengah aktivitas advokasi, Mais membuka usaha rental komputer bermodal Rp2 juta dari ayahnya. Ia bekerja sejak pagi hingga dini hari dan hanya tidur sekitar dua jam sehari. Ia memilih jalan itu karena ingin mandiri dan tak lagi membebani orangtuanya.
Menjadi Guru, Lalu Menjadi Murid Lagi
Usai lulus kuliah, Mais mengajar komputer di berbagai SLB di Jember. Namun, pengalaman itu justru membuka matanya. Ia menyadari bahwa mengajar disabilitas membutuhkan pendekatan khusus dan pemahaman yang lebih mendalam.
Karena itu, pada 2008, Mais mengambil keputusan besar menempuh pendidikan Pendidikan Luar Biasa (PLB). Ia melanjutkan studi hingga jenjang S3 Pendidikan Inklusi di Universitas Negeri Surabaya. Di sanalah ia menemukan panggilan hidupnya yang sesungguhnya.
Melawan Sistem dari Dalam Kampus
Ketika sebuah kampus menolak mahasiswa netra dengan alasan sarana prasarana, Mais memilih bertindak. Ia menemui rektor, membawa persoalan itu ke Komnas HAM, dan memperjuangkan hak setara. Perjuangan itu membuahkan hasil: mahasiswa tersebut akhirnya diterima dengan beasiswa penuh.
Bagi Mais, sistem selalu bisa diubah asal ada yang cukup berani mengetuknya dari dalam.
Membangun Inklusi Tanpa Meminta Simpati
Karier akademik Mais di UNIPAR Jember tak selalu berjalan mulus. Tatapan sinis dan komentar meragukan kerap ia terima. Namun, alih-alih menyerah, ia membalasnya dengan kerja nyata.
Melalui kinerjanya, ia dipercaya menduduki berbagai posisi strategis kepala laboratorium, kaprodi, wakil dekan, wakil rektor, hingga kini menjabat Wakil Rektor III. Ia membangun legitimasi lewat prestasi, bukan simpati.
Kampus yang Belajar Menunduk
Perlahan, UNIPAR Jember mulai berubah. Kampus itu membangun sarana ramah disabilitas, membentuk unit layanan disabilitas, dan melatih dosen, tenaga pendidik, hingga satpam agar memahami isu disabilitas.
Kini, sebanyak 320 mahasiswa disabilitas menempuh pendidikan di kampus tersebut. Beasiswa tersedia, paradigma bergeser, dan inklusi tak lagi berhenti sebagai slogan.
Menolak Dikashani, Menuntut Setara
Dalam setiap kesempatan, Mais selalu menegaskan satu pesan jangan gunakan disabilitas untuk menoleransi kegagalan. Ia menolak dikasihani, tetapi menuntut kesetaraan.
Menurutnya, disabilitas sering lahir dari struktur sosial yang tak inklusif. Karena itu, ia memandang pendidikan sebagai investasi, bukan beban.
Di Rumah, Ia Tetap Seorang Ayah
Di balik peran publiknya, Mais menjalani hidup sebagai suami dan ayah dari dua anak. Ia menikah pada 2017 dengan Lailil Akhlakhul Yaum, rekan seperjuangan di dunia pendidikan inklusi.
Dari rumah sederhana di Jember, ia terus membuktikan satu hal nasib memang tak selalu bisa dipilih. Namun, arah hidup selalu bisa diperjuangkan.
Dan di tangan Asrorul Mais, pendidikan bukan sekadar alat mobilitas sosial. Ia menjadikannya sebagai bentuk perlawanan paling sunyi sekaligus paling bermakna. @dimas







