Minggu, Agustus 23, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Asap Rokok Roro Mendut dan Aroma Kebebasan

by teguh
April 27, 2026
in Vibes
A A
Home Vibes
Share on Facebook
Share on Twitter
Di pasar yang riuh, seorang perempuan menjual rokok sambil menjaga harga dirinya. Asapnya tipis, tetapi pesannya tebal tubuh perempuan bukan barang milik kuasa.

Tabooo.id: Vibes – Di tengah arus konten cepat dan debat soal posisi perempuan di ruang publik, unggahan Historia.id pada Minggu, 27/04/2026, membawa kembali nama Roro Mendut. Legenda Jawa itu hidup lagi bukan karena parasnya, melainkan karena keberaniannya menolak tunduk.

Karena itu, Roro Mendut mengingatkan kita bahwa sejak dulu selalu ada perempuan yang memilih harga diri di atas rasa aman.

Satu Kata yang Mengguncang Kuasa

Dalam kisah dari era Mataram abad ke-17, Tumenggung Wiraguna ingin mempersunting Roro Mendut. Pada masa feodal, banyak orang menganggap keinginan penguasa sebagai perintah. Namun, Roro Mendut berkata tidak.

Satu penolakan sering lebih mengguncang kuasa daripada seribu teriakan. Sebab, penguasa terbiasa menerima hormat, bukan bantahan.

Pasar Menjadi Arena Perlawanan

Setelah penolakan itu, pihak istana memberi beban pajak tinggi kepadanya. Dengan begitu, tekanan datang lewat aturan dan ancaman hadir lewat kekuasaan.

Ini Belum Selesai

Ketika Pusaka Harus Pergi: Warisan Keluarga Memilih Menjadi Sejarah

Pimpin Pawai, Respati Berubah Jadi Demang

Meski begitu, Roro Mendut tidak menyerah. Ia turun ke pasar dan menjual rokok. Dalam cerita populer, dagangannya laris karena kecerdikan dan pesonanya.

Akibatnya, banyak lelaki datang membeli, sementara istana melihat perempuan yang tetap berdiri sendiri.

Ia tidak sekadar menjual tembakau. Sebaliknya, ia menunjukkan cara bertahan tanpa menjual martabat.

Perempuan Kecil yang Membuat Kuasa Gelisah

Budayawan Y.B. Mangunwijaya, lewat trilogi Rara Mendut, melihat tokoh ini sebagai lambang manusia kecil yang berani menantang struktur besar. Karena itu, ia menjadikan Roro Mendut simbol harga diri.

Sosiolog Pierre Bourdieu pernah berkata, “Dominasi paling kuat adalah dominasi yang dianggap wajar.”

Kalimat itu terasa dekat dengan kisah ini. Dulu, banyak orang menganggap wajar jika laki-laki berkuasa mengatur hidup perempuan. Namun, Roro Mendut mematahkan anggapan itu.

Istana Kini Berganti Wajah

Hari ini, istana mungkin tidak berdiri dalam bentuk kerajaan. Akan tetapi, kuasa tetap hadir dalam kantor, birokrasi, panggung politik, industri hiburan, dan media sosial.

Karena itu, banyak perempuan masih menghadapi tekanan serupa. Orang menilai tubuh mereka, meremehkan suara mereka, dan menyerang pilihan mereka saat mereka menolak.

Jika dulu kuasa memakai pajak, kini kuasa sering memakai stigma.

Penulis feminis bell hooks pernah menulis, “Patriarki tidak punya gender.” Artinya, sistem timpang bisa bertahan selama orang terus menganggapnya biasa.

Perlawanan Tidak Selalu Berteriak

Tidak semua perlawanan lahir dari pidato. Selain itu, tidak semua keberanian membutuhkan panggung besar.

Kadang, seseorang melawan dengan bekerja mandiri, menolak relasi yang merendahkan, bertahan saat ditekan, dan berkata tidak ketika dunia menuntut iya.

Jadi, Roro Mendut menunjukkan bahwa keberanian sering tumbuh dari sikap tenang yang tak bisa dibeli.

Closing

Beberapa perempuan tidak perlu berteriak untuk mengguncang zaman. Mereka cukup berdiri tegak, menatap kuasa, lalu menolak tunduk. @teguh

Tags: BudayawanKebebasanPerlawananRokokRoro MendutSosiolog

Kamu Melewatkan Ini

John Lennon dan Harga Sebuah Keberanian

John Lennon dan Harga Sebuah Keberanian

by eko
Agustus 6, 2026

John Lennon membuktikan bahwa popularitas dan idealisme tidak selalu berjalan seiring. Kisahnya menunjukkan bagaimana seorang seniman dapat mengubah musik menjadi...

Imagine: Lagu Perdamaian yang Tak Pernah Berhenti Diperdebatkan

Imagine: Lagu Perdamaian yang Tak Pernah Berhenti Diperdebatkan

by eko
Juli 23, 2026

Meski telah berusia lebih dari 50 tahun, Imagine karya John Lennon terus memicu perdebatan. Simak makna, kritik, dan alasan lagu...

John Lennon: Musisi Perdamaian atau Sosok yang Pernah Ditakuti Penguasa?

John Lennon: Musisi Perdamaian atau Sosok yang Pernah Ditakuti Penguasa?

by eko
Juli 23, 2026

John Lennon bukan hanya personel The Beatles. Ia menjadikan musik sebagai alat kritik sosial, menginspirasi gerakan perdamaian, dan bahkan pernah...

Next Post
Profesi Penari Indonesia: Diakui Budaya, Diabaikan Ekonomi

Profesi Penari Indonesia: Diakui Budaya, Diabaikan Ekonomi

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id