Tabooo.id: Global – Amerika Serikat mulai memperketat pintu masuknya. Departemen Keamanan Dalam Negeri (DHS) dan Bea Cukai serta Perlindungan Perbatasan (CBP) mengajukan proposal baru yang mewajibkan setiap pengunjung dari negara bebas-visa 90 hari menyerahkan riwayat media sosial lima tahun terakhir. Semua data itu kini masuk ke formulir Sistem Elektronik untuk Otoritas Perjalanan (ESTA), yang sebelumnya hanya meminta informasi dasar.
Pemerintah AS juga mewajibkan pelancong menyerahkan nomor telepon dan email yang mereka gunakan dalam 5–10 tahun terakhir, serta memberikan detail anggota keluarga bukan sekadar akun media sosial. Namun proposal itu belum menjelaskan informasi spesifik apa yang akan mereka gali dari akun-akun tersebut.
Siapa Diuntungkan dan Siapa Dirugikan?
Diuntungkan
- Pemerintah AS, terutama lembaga keamanannya, memperluas kemampuan menyaring ancaman yang dianggap laten dan sulit terdeteksi.
- Politisi pendukung kebijakan keamanan keras, termasuk Trump, bisa mempromosikan aturan ini sebagai bukti keseriusan mereka melindungi rakyat Amerika dari ancaman asing terlepas dari efektivitasnya.
Dirugikan
- Wisatawan internasional, khususnya pemegang visa waiver, harus menyerahkan privasi digital mereka sebelum mendarat.
- Industri pariwisata AS sejak awal sudah mendapat peringatan bahwa kebijakan imigrasi Trump akan memukul sektor ini. World Travel & Tourism Council mencatat AS menjadi satu-satunya dari 184 negara yang diperkirakan mengalami penurunan pengeluaran wisatawan internasional pada 2025, menegaskan dampak kebijakan ketat terhadap sektor pariwisata.
- Aktivis HAM dan advokat privasi menilai aturan ini membuka jalan bagi pengawasan massal tanpa batas yang jelas.
Trump: “Pariwisata Aman, Bro. Kita Nggak Akan Rugi.”
Donald Trump membantah kekhawatiran bahwa aturan super-ketat ini bakal menurunkan jumlah turis.
“Tidak. Kami melakukannya dengan sangat baik, Kami hanya ingin orang-orang datang ke sini dengan aman,”ujarnya santai.
Baginya, lonjakan wisatawan pada 2026 seiring Piala Dunia cukup menjamin pariwisata AS tetap sehat. Soal proyeksi turis yang turun? Itu urusan nanti.
Sejak kembali menjabat, Trump mendorong kembali standar “keamanan absolut”, mulai dari pembatasan perjalanan hingga pemeriksaan ekstra ketat di perbatasan. Baginya, ini bukan sekadar kebijakan, tapi identitas politik.
Dampak ke Publik: Dari Tiket Pesawat ke Jejak Digital
Kebijakan ini mengirim pesan jelas:
Kalau ingin liburan ke AS, pastikan feed Instagram, retweet lama, dan komentar 2019 tidak menjadi bumerang.
Media sosial kini berfungsi sebagai bagian dari paspor sosial yang harus pelancong rapikan sebelum petugas menginspeksinya bukan lagi sekadar ruang ekspresi bebas.
Pertanyaan klasik muncul kembali:
Bisakah pemerintah benar-benar memetakan ancaman teror hanya dari timeline lima tahun terakhir?
Atau AS justru semakin nyaman menambah lapisan pengawasan karena publik dunia tetap akan mengantre masuk?
Akhir Kata: Selamat Datang di Era “Border Control by Scrolling”
Jika proposal ini berlaku, perjalanan ke AS tak lagi soal membawa koper ringan, tetapi riwayat digital yang bersih, terorganisasi, dan aman dari kecurigaan petugas perbatasan.
Pertanyaannya tetap:
Apakah ini soal keamanan, atau sekadar negara ingin tahu apa yang Anda pikirkan sebelum menginjak tanahnya?
Tabooo meninggalkan satu sindiran lembut:
Di masa depan, hanya dua hal yang tidak bisa berbohong jejak digital dan negara yang sibuk mengawasinya. (red)





