Tabooo.id: Figures – Ani Sekarningsih tidak pernah benar-benar “diam”, meskipun hidup di zaman yang terus berusaha membungkamnya. Ia lahir bukan di era yang ramah pada suara perempuan, tapi justru di situlah keberaniannya terbentuk.
Ia tidak menunggu siapa pun membuka ruang. Ia langsung menciptakan ruangnya sendiri, melalui tulisan, riset, dan cara berpikir yang menabrak batas zamannya.
Ani Sekarningsih bukan sekadar penulis. Ia adalah pengamat yang tidak puas melihat permukaan, lalu memilih turun langsung ke akar persoalan.
Ani Sekarningsih Tidak Lahir di Zaman yang Memberi Ruang
Ani Sekarningsih lahir di Tasikmalaya pada 27 Oktober 1940, saat Indonesia belum benar-benar merdeka, setidaknya bagi rakyatnya sendiri. Ia tidak tumbuh dalam kenyamanan. Ia berpindah, bertahan, dan hidup sebagai pengungsi di tengah perang. Dari situ, ia tidak hanya belajar bertahan. Ia belajar melihat dunia tanpa ilusi.
Ia tidak tumbuh dengan ilusi stabilitas. Ia tumbuh dengan kesadaran bahwa dunia bisa berubah kapan saja. Dan dari situlah, muncul satu hal yang kemudian menjadi ciri khasnya: keberanian untuk mempertanyakan.
Rumahnya adalah Gerbang ke Dunia
Ayahnya, Raden Odjoh Ardiwinata, bukan sekadar intelektual—ia menguasai berbagai bahasa asing dan membuka akses ke dunia yang lebih luas. Dari rumah, Ani tidak hanya belajar membaca. Ia belajar melihat dunia dari banyak sudut. Sejak dini, ia menyerap literatur Barat dan bertemu ide-ide yang bahkan belum tentu diterima oleh lingkungannya saat itu.
Namun di sinilah ironi mulai terbentuk. Dunia dalam buku begitu luas dan bebas. Sementara dunia nyata, terutama bagi perempuan, penuh batasan. Ia hidup di antara dua realitas yang bertolak belakang. Dan justru dari gesekan itu, lahir kesadaran kritis yang kemudian membentuk arah hidupnya.
Saat Perempuan Diharapkan Diam, Ia Justru Menulis Lebih Keras
Sejak usia sekolah dasar, Ani sudah menunjukkan ketertarikan pada dunia tulis-menulis. Ia mulai menulis puisi, mengirimkan karyanya ke media, bahkan aktif di siaran radio. Di usia remaja, ia sudah menjadi kontributor di berbagai kota besar, Bandung, Jakarta, Yogyakarta, hingga Surabaya.
Namun di titik tertentu, ia berhenti.
Bukan karena kehilangan kemampuan. Tapi karena tekanan sosial yang nyata. Ia dihadapkan pada pilihan klasik perempuan pada zamannya: rumah atau ruang publik. Ani memilih keluarga, membesarkan anak-anaknya, dan menjalani peran domestik.
Namun berhenti menulis tidak berarti berhenti berpikir. Ia hanya memindahkan ruang ekspresinya ke dalam diam.
Kevakumannya adalah Proses Inkubasi
Selama bertahun-tahun, Ani tidak aktif sebagai penulis publik. Tapi fase ini bukan kehampaan. Justru sebaliknya, ini adalah masa di mana ia menyerap kehidupan secara langsung, tanpa filter dan jarak.
Ia melihat kehidupan dari perspektif yang lebih dekat. Ia memahami manusia tidak lagi sebagai objek tulisan, tetapi sebagai realitas yang hidup. Pengalaman ini menjadi fondasi yang jauh lebih kuat dibanding sekadar observasi akademis.
Saat ia kembali ke dunia tulis-menulis, ia tidak lagi sekadar bercerita. Ia membawa pengalaman hidup sebagai bahan utama narasinya.
Papua Mengubah Arah Hidupnya
Pada tahun 1986, Ani bergabung dengan Yayasan Asmat lalu langsung melangkah ke Papua—wilayah yang jauh secara geografis dan kerap diabaikan secara sosial. Di sana, ia tidak sekadar datang. Ani melihat sendiri realitas yang sama sekali berbeda dari narasi yang selama ini beredar di pusat.
Ia melihat masyarakat yang hidup dalam keterisolasian. Ia melihat keterbatasan akses pendidikan dan kesehatan. Tapi yang paling mencolok: posisi perempuan dalam sistem adat yang tidak memberi banyak ruang.
Ani tidak hanya mencatat. Ia merasakan. Ia menyerap.
Dan dari situlah, muncul dorongan untuk menuliskan apa yang ia lihat, bukan sebagai laporan, tapi sebagai pengalaman manusia.
“Namaku Teweraut” Novel yang Menjadi Cermin Ketimpangan
Melalui novel Namaku Teweraut, Ani menghadirkan potret kehidupan perempuan Asmat dengan pendekatan yang tidak romantis. Ia tidak memperindah realita. Ia menampilkannya apa adanya.
Tokoh Teweraut menjadi simbol perempuan yang cerdas, tapi terjebak dalam sistem yang tidak memberinya pilihan. Ia hidup di antara dua dunia, tradisi yang membatasi, dan modernitas yang belum sepenuhnya hadir.
Novel ini menjadi lebih dari sekadar karya sastra. Ia menjadi ruang refleksi sosial. Ia mengangkat isu pendidikan perempuan, patriarki, dan ketimpangan pembangunan dengan cara yang langsung menyentuh pembaca.
Tidak Berhenti di Sastra
Setelah mengukuhkan posisinya di dunia sastra, Ani tidak berhenti. Ia justru masuk ke wilayah yang sering dianggap tabu: Tarot.
Namun pendekatannya berbeda. Ia tidak melihat Tarot sebagai praktik mistik semata, tetapi sebagai sistem simbolik yang bisa dipelajari dan dipahami. Ia menjalani proses panjang hingga meraih gelar Certified Tarot Grand Master, sebuah pencapaian yang menunjukkan otoritas tinggi di bidang tersebut.
Langkah ini menunjukkan bahwa Ani tidak takut memasuki wilayah yang tidak populer. Ia justru tertarik pada apa yang belum dipahami.
Tarot Wayang: Saat Barat Bertemu Timur
Salah satu kontribusi terbesarnya adalah penciptaan Tarot Wayang. Ia mengadaptasi sistem Tarot Barat ke dalam konteks budaya lokal, khususnya filosofi pewayangan Jawa.
Ia menggunakan tokoh-tokoh Mahabarata dan Ramayana sebagai representasi simbol dalam kartu. Ia mengubah istilah, pendekatan, bahkan cara membaca Tarot agar lebih sesuai dengan konteks Indonesia.
Ini bukan sekadar inovasi teknis. Ini adalah upaya dekolonisasi pengetahuan, mengambil sistem global, lalu mengakarinya ke dalam budaya lokal.
Bukan Cerita Sukses. Ini Peta Perlawanan Ani Sekarningsih
Jika dilihat secara linear, hidup Ani tampak seperti perjalanan yang penuh pencapaian. Namun jika dilihat lebih dalam, ini adalah rangkaian perlawanan terhadap batasan.
Ia tidak mengikuti jalur yang tersedia. Ia menciptakan jalurnya sendiri.
Setiap fase hidupnya menunjukkan satu hal, ia tidak pernah sepenuhnya tunduk pada sistem yang ada.
Dari Ibu ke Anak: Cara Berpikir yang Tidak Pernah Putus
Dalam kehidupan pribadi, Ani juga berperan sebagai ibu dari Connie Rahakundini Bakrie yang dikenal luas sebagai analis pertahanan dan militer dengan pandangan yang tajam dan berani.
Jika kamu lihat lebih dalam, pola itu tidak muncul begitu saja.
Ani bergerak di ranah budaya dan spiritualitas. Sementara itu, Connie Rahakundini Bakrie bergerak di ranah geopolitik dan militer. Namun keduanya memilih jalur yang sama-sama tidak nyaman: masuk ke wilayah yang kompleks dan sering dihindari.
Di sinilah benang merahnya terlihat jelas.
Cara berpikir tidak hanya lahir dari darah. Ia tumbuh dari lingkungan, dari nilai, dan dari keberanian untuk tidak ikut arus.
Citra yang Tenang, Realita yang Mengganggu Sistem
Secara publik, Ani mungkin tidak tampil sebagai figur kontroversial. Ia tidak mencari panggung. Ia tidak membangun sensasi, apalagi viral.
Namun isi karyanya menunjukkan hal yang berbeda. Ani membahas isu yang tidak nyaman. Ia menyentuh wilayah yang sensitif. Dan ia membuka realitas yang sering disembunyikan.
Dan justru karena itu, dampaknya terasa lebih dalam.
Dampaknya Tidak Selalu Terlihat, Tapi Terasa
Hari ini, nama Ani Sekarningsih mungkin tidak selalu muncul dalam percakapan populer. Namun pengaruhnya tetap hidup.
Karyanya masih dikaji. Pemikirannya masih relevan. Komunitas yang ia bangun masih berjalan.
Ia menjadi bagian dari fondasi yang memungkinkan diskusi tentang perempuan, budaya, dan spiritualitas berkembang lebih luas.
Ia Pergi, Tapi Cara Berpikirnya Tidak Ikut Hilang
Ani Sekarningsih wafat pada tahun 2014. Namun kepergiannya tidak benar-benar mengakhiri pengaruhnya.
Ia mungkin tidak lagi hadir secara fisik. Tapi gagasan-gagasannya tetap hidup, di buku, di komunitas, dan di cara orang memahami budaya serta spiritualitas hari ini.
Masalahnya, banyak orang menikmati dampaknya tanpa pernah tahu sumbernya.
Ani Sekarningsih tidak meninggalkan sensasi. Ia meninggalkan fondasi.
Dan seperti banyak tokoh yang mendahului zamannya, pengakuan sering datang… terlambat.
Bukan Sekadar Kisah Masa Lalu
Kehidupan Ani bukan hanya tentang masa lalu. Ia menjadi refleksi bagi kondisi saat ini.
Di era yang lebih terbuka, akses terhadap informasi dan ruang ekspresi jauh lebih luas. Namun kebebasan itu tidak selalu diikuti dengan keberanian untuk berbicara.
Di sinilah relevansinya terasa.
Ani Sekarningsih Tidak Sekadar Menulis Dunia, Ia Mengubah Cara Dunia Ditulis
Ani Sekarningsih tidak hanya menghasilkan karya. Ia membentuk cara berpikir.
Ia menunjukkan bahwa pengetahuan bisa dibangun dari berbagai arah. Bahwa budaya lokal memiliki nilai yang setara. Bahwa perempuan memiliki ruang untuk berbicara, bahkan ketika ruang itu tidak disediakan.
Dan mungkin, yang paling penting, ia membuktikan bahwa perubahan tidak selalu datang dari suara yang paling keras, tetapi dari keberanian untuk tetap berpikir, bahkan ketika dunia tidak mendengarkan.
Sosok Ani Sekarningsih adalah Kartini di era Industri. @tabooo





