Tabooo.id: Vibes – Pagi di Batavia, Oktober 1740, seharusnya biasa saja. Kabut masih turun di atas sungai, burung camar berputar di pelabuhan Sunda Kelapa, dan para pedagang Tionghoa menata barang dagangan di tepi Kali Besar.
Tak ada yang menyangka, dalam hitungan jam, kota yang mereka bangun akan berubah jadi neraka.
Api Pertama dari Dapur Gula
Segalanya berawal dari gula, barang manis yang menciptakan getir. Pada awal abad ke-18, Batavia dikenal sebagai pusat industri gula terbesar di Asia Tenggara.
Ribuan buruh Tionghoa bekerja di pabrik-pabrik milik pengusaha Eropa, menyalakan tungku yang menyuplai manisnya kekayaan VOC. Namun, ketika harga gula jatuh di pasar dunia, manis itu membusuk jadi bencana.
Ribuan buruh kehilangan pekerjaan. Batavia dipenuhi penganggur dan kemarahan yang mengendap. Pemerintah kolonial panik. Solusinya bukan empati, melainkan perintah, deportasi paksa warga Tionghoa “tidak produktif” ke luar Jawa.
Kabar burung menyebar cepat, bahwa kapal-kapal deportasi itu menenggelamkan penumpangnya di laut. Ketakutan berubah jadi kemarahan. Dan seperti kota yang menunggu percikan, Batavia pun meledak.
9 Oktober 1740: Hari Ketika Kota Membakar Dirinya Sendiri
Gubernur Jenderal Adriaan Valckenier, yang tengah berseteru dengan pejabat VOC lain, menemukan alasan untuk mengamankan kekuasaannya: mengorbankan etnis Tionghoa. Ia menuduh mereka berencana memberontak.
Pagi 9 Oktober, pasukan VOC menutup seluruh pintu kota. Perintah keluar: “Bersihkan Batavia.”
Asap pertama terlihat dari kawasan Pecinan Lama, tak jauh dari Stadhuis. Rumah-rumah di sepanjang Kali Besar mulai terbakar. Perempuan, anak-anak, dan orang sakit dikejar keluar rumah, dibunuh di jalanan. Bau darah bercampur kayu terbakar memenuhi udara.
Sejarawan menulis, lebih dari 10.000 jiwa tewas hanya dalam tiga hari.
Di rumah sakit pusat kota, para pasien Tionghoa diseret keluar dan ditembak di depan pintu. Tidak ada belas kasihan, tidak ada pengadilan. Batavia, kota yang dibangun di atas prinsip “ketertiban”, memperlihatkan wajah sejatinya, sebuah mesin kekuasaan yang memakan manusia.

Dari Kali Besar ke Sungai Merah
Ketika api mulai padam, kota itu bukan lagi Batavia yang sama. Di sepanjang Kali Besar, hanya puing, abu, dan mayat yang tersisa. Sungai yang dulu menjadi nadi perdagangan kini mengalirkan darah. Dan di luar tembok, mereka yang selamat mencoba melawan.
Sekitar 500 orang Tionghoa bersenjata mundur ke arah barat, ke wilayah Cadouwang, yang kini kita kenal sebagai Angke. Pertempuran terakhir pecah di tepi sungai. Pasukan kavaleri VOC datang membawa meriam. Perlawanan berakhir dalam genangan merah.
Warga Hokkian yang menyaksikan tragedi itu menamai sungainya “Ang Khee” yang artinya Sungai Merah. Nama itu melekat, menandai luka yang tak pernah sembuh sepenuhnya.
Dari Abu Lahir Glodok
Setelah kekejaman itu, VOC melakukan satu hal lagi: menggambar ulang peta Batavia. Warga Tionghoa yang tersisa, sekitar tiga ribu orang, dipaksa keluar dari tembok kota. Mereka ditempatkan di sebuah kawasan kecil di luar benteng, di bawah pengawasan meriam, daerah yang sekarang dikenal sebagai Glodok.
VOC menyebutnya “pecinan baru”, tapi sejatinya ia adalah penjara terbuka. Gerbang kota yang disebut Pintoe Ketjil menjadi perbatasan. Dari sanalah orang Tionghoa boleh masuk ke kota, tapi tak pernah boleh menetap di dalamnya lagi.
Segregasi rasial menjadi sistem resmi tata ruang Batavia, yang kelak diwariskan pada pemerintahan kolonial berikutnya, hingga pola sosial Jakarta modern masih menyisakan bayangannya.
Ironisnya, dari luka itulah Glodok tumbuh jadi pusat kehidupan ekonomi. Tempat yang dulu dibangun untuk membatasi, kini menjadi ruang untuk bertahan.
Luka yang Mengalir ke Abad 21
Kita mungkin mengira sejarah itu telah terkubur di arsip dan museum, tapi ia masih bernafas di udara Jakarta.
Kali Besar kini jadi destinasi wisata heritage, tempat orang berfoto dengan gedung kolonial yang dicat ulang, tapi sedikit yang tahu, setiap bata di sana pernah menyerap darah manusia.
Kita hidup di kota yang dibentuk oleh ketakutan lama. Takut pada “yang lain”, pada perbedaan, pada suara yang berbeda bahasa atau warna kulit.
Dulu, pembakaran dilakukan dengan mesiu dan obor. Kini, ia terjadi lewat gentrifikasi, harga sewa, dan kebijakan pembangunan yang menyingkirkan warga kecil dari ruang yang mereka bangun sendiri.
Api Itu Masih Menyala
Angke 1740 bukan sekadar peristiwa berdarah, melainkan pelajaran paling gelap tentang bagaimana kekuasaan bisa membakar kota demi rasa aman semu. Tragedi itu menandai lahirnya Jakarta modern, kota yang dibangun dari abu, tapi jarang mau mengakui abunya sendiri.
Dan mungkin di situlah letak kejujuran sejarah, peradaban tidak selalu tumbuh dari kemenangan, tapi dari rasa bersalah yang tidak pernah ditebus.
Selama kita masih membiarkan perbedaan dicurigai dan sejarah dilupakan, api Batavia tak akan pernah benar-benar padam. @tabooo




