Minggu, September 20, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Angke 1740: Ketika Batavia “Terbakar”

by Tabooo
Oktober 13, 2025
in Vibes
A A
Home Vibes
Share on Facebook
Share on Twitter

Tabooo.id: Vibes – Pagi di Batavia, Oktober 1740, seharusnya biasa saja. Kabut masih turun di atas sungai, burung camar berputar di pelabuhan Sunda Kelapa, dan para pedagang Tionghoa menata barang dagangan di tepi Kali Besar.

Tak ada yang menyangka, dalam hitungan jam, kota yang mereka bangun akan berubah jadi neraka.

Api Pertama dari Dapur Gula

Segalanya berawal dari gula, barang manis yang menciptakan getir. Pada awal abad ke-18, Batavia dikenal sebagai pusat industri gula terbesar di Asia Tenggara.

Ribuan buruh Tionghoa bekerja di pabrik-pabrik milik pengusaha Eropa, menyalakan tungku yang menyuplai manisnya kekayaan VOC. Namun, ketika harga gula jatuh di pasar dunia, manis itu membusuk jadi bencana.

Ribuan buruh kehilangan pekerjaan. Batavia dipenuhi penganggur dan kemarahan yang mengendap. Pemerintah kolonial panik. Solusinya bukan empati, melainkan perintah, deportasi paksa warga Tionghoa “tidak produktif” ke luar Jawa.

Ini Belum Selesai

Ketika Wayang Tak Lagi Cuma Milik Masa Lalu

Dari Kelapa ke Sawit: Siapa yang Mengubah Isi Wajan Kita?

Kabar burung menyebar cepat, bahwa kapal-kapal deportasi itu menenggelamkan penumpangnya di laut. Ketakutan berubah jadi kemarahan. Dan seperti kota yang menunggu percikan, Batavia pun meledak.

9 Oktober 1740: Hari Ketika Kota Membakar Dirinya Sendiri

Gubernur Jenderal Adriaan Valckenier, yang tengah berseteru dengan pejabat VOC lain, menemukan alasan untuk mengamankan kekuasaannya: mengorbankan etnis Tionghoa. Ia menuduh mereka berencana memberontak.

Pagi 9 Oktober, pasukan VOC menutup seluruh pintu kota. Perintah keluar: “Bersihkan Batavia.”

Asap pertama terlihat dari kawasan Pecinan Lama, tak jauh dari Stadhuis. Rumah-rumah di sepanjang Kali Besar mulai terbakar. Perempuan, anak-anak, dan orang sakit dikejar keluar rumah, dibunuh di jalanan. Bau darah bercampur kayu terbakar memenuhi udara.

Sejarawan menulis, lebih dari 10.000 jiwa tewas hanya dalam tiga hari.

Di rumah sakit pusat kota, para pasien Tionghoa diseret keluar dan ditembak di depan pintu. Tidak ada belas kasihan, tidak ada pengadilan. Batavia, kota yang dibangun di atas prinsip “ketertiban”, memperlihatkan wajah sejatinya, sebuah mesin kekuasaan yang memakan manusia.

Angke 1740: Ketika Batavia “Terbakar”
Rumah orang Tionghoa dibakar dalam Tragedi Angke 1740 (Wikipedia)

Dari Kali Besar ke Sungai Merah

Ketika api mulai padam, kota itu bukan lagi Batavia yang sama. Di sepanjang Kali Besar, hanya puing, abu, dan mayat yang tersisa. Sungai yang dulu menjadi nadi perdagangan kini mengalirkan darah. Dan di luar tembok, mereka yang selamat mencoba melawan.

Sekitar 500 orang Tionghoa bersenjata mundur ke arah barat, ke wilayah Cadouwang, yang kini kita kenal sebagai Angke. Pertempuran terakhir pecah di tepi sungai. Pasukan kavaleri VOC datang membawa meriam. Perlawanan berakhir dalam genangan merah.

Warga Hokkian yang menyaksikan tragedi itu menamai sungainya “Ang Khee” yang artinya Sungai Merah. Nama itu melekat, menandai luka yang tak pernah sembuh sepenuhnya.

Dari Abu Lahir Glodok

Setelah kekejaman itu, VOC melakukan satu hal lagi: menggambar ulang peta Batavia. Warga Tionghoa yang tersisa, sekitar tiga ribu orang, dipaksa keluar dari tembok kota. Mereka ditempatkan di sebuah kawasan kecil di luar benteng, di bawah pengawasan meriam, daerah yang sekarang dikenal sebagai Glodok.

VOC menyebutnya “pecinan baru”, tapi sejatinya ia adalah penjara terbuka. Gerbang kota yang disebut Pintoe Ketjil menjadi perbatasan. Dari sanalah orang Tionghoa boleh masuk ke kota, tapi tak pernah boleh menetap di dalamnya lagi.

Segregasi rasial menjadi sistem resmi tata ruang Batavia, yang kelak diwariskan pada pemerintahan kolonial berikutnya, hingga pola sosial Jakarta modern masih menyisakan bayangannya.

Ironisnya, dari luka itulah Glodok tumbuh jadi pusat kehidupan ekonomi. Tempat yang dulu dibangun untuk membatasi, kini menjadi ruang untuk bertahan.

Luka yang Mengalir ke Abad 21

Kita mungkin mengira sejarah itu telah terkubur di arsip dan museum, tapi ia masih bernafas di udara Jakarta.

Kali Besar kini jadi destinasi wisata heritage, tempat orang berfoto dengan gedung kolonial yang dicat ulang, tapi sedikit yang tahu, setiap bata di sana pernah menyerap darah manusia.

Kita hidup di kota yang dibentuk oleh ketakutan lama. Takut pada “yang lain”, pada perbedaan, pada suara yang berbeda bahasa atau warna kulit.

Dulu, pembakaran dilakukan dengan mesiu dan obor. Kini, ia terjadi lewat gentrifikasi, harga sewa, dan kebijakan pembangunan yang menyingkirkan warga kecil dari ruang yang mereka bangun sendiri.

Api Itu Masih Menyala

Angke 1740 bukan sekadar peristiwa berdarah, melainkan pelajaran paling gelap tentang bagaimana kekuasaan bisa membakar kota demi rasa aman semu. Tragedi itu menandai lahirnya Jakarta modern, kota yang dibangun dari abu, tapi jarang mau mengakui abunya sendiri.

Dan mungkin di situlah letak kejujuran sejarah, peradaban tidak selalu tumbuh dari kemenangan, tapi dari rasa bersalah yang tidak pernah ditebus.

Selama kita masih membiarkan perbedaan dicurigai dan sejarah dilupakan, api Batavia tak akan pernah benar-benar padam. @tabooo

Tags: BataviaHindia BelandaJakartaKolonialSejarah

Kamu Melewatkan Ini

Kompolnas Desak Polisi Bongkar Dalang Kerusuhan Demo DPR

Kompolnas Desak Polisi Bongkar Dalang Kerusuhan Demo DPR

by eko
Agustus 30, 2026

Kompolnas mendesak polisi mengusut tuntas dalang, pelaku, aliran dana, dan pemasok dalam kerusuhan demo DPR. Tabooo.id - Kerusuhan seusai demonstrasi...

Hercules Ada di Lokasi Kericuhan Demo DPR, Benarkah Terlibat?

Hercules Ada di Lokasi Kericuhan Demo DPR, Benarkah Terlibat?

by eko
Agustus 30, 2026

Hercules memang berada di lokasi kericuhan demo DPR. Namun, apakah ia ikut terlibat? Cek fakta berdasarkan keterangan GRIB Jaya dan...

500 Warga Kebumen ke Jakarta: Dukung Pemerintah, Tapi Tetap Kritik MBG

500 Warga Kebumen ke Jakarta: Dukung Pemerintah, Tapi Tetap Kritik MBG

by teguh
Agustus 24, 2026

Sebanyak 500 warga Kebumen, Jawa Tengah, bersiap menuju Jakarta pada 27/08/2026. Mereka membawa dukungan untuk program prioritas Presiden Prabowo Subianto....

Next Post
Nasib Kluivert dan Cermin Buram Sepak Bola Kita

Nasib Kluivert dan Cermin Buram Sepak Bola Kita

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id