Pokémon masuk ke dunia wayang. Bukan sekadar crossover karakter, tetapi eksperimen tentang bagaimana budaya lokal mencari bahasa baru di tengah derasnya pop culture global.
Tabooo.id – Bayangkan layar kelir terbentang. Bayangan wayang bergerak. Namun kali ini, sosok yang muncul bukan hanya Arjuna atau Gatotkaca tapi ada Pikachu. Lewat Poke Wayang, karakter Pokémon bertemu dengan salah satu bentuk seni tradisi Indonesia. Kolaborasi ini melibatkan kreator lokal, The Pokémon Company, serta sejumlah pihak pemerintah.
Proses pengembangan proyek tersebut berlangsung hampir satu tahun. Kementerian Ekonomi Kreatif juga melibatkan Kementerian Kebudayaan serta Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.
Selanjutnya, Poke Wayang akan hadir dalam rangkaian World Conference on Creative Economy (WCCE) di Jakarta, 21–23/10/2026.
Pada titik ini, persoalannya bukan sekadar kecocokan Pikachu dengan wayang. Ada pertanyaan yang jauh lebih besar di balik pertemuan tersebut.
Bisakah budaya lama berbicara menggunakan bahasa yang dipahami generasi baru?
Wayang Tidak Harus Tinggal di Museum
Wayang punya sejarah panjang sebagai bagian dari budaya Indonesia. Namun, generasi muda kini tumbuh dalam ekosistem budaya yang jauh berbeda.
Anime, gim, TikTok, YouTube, musik digital, dan karakter global hadir dalam keseharian mereka. Karena itu, pendekatan Poke Wayang menawarkan jalur yang cukup menarik.
Alih-alih meminta generasi muda meninggalkan dunia pop culture, proyek tersebut justru membawa salah satu karakter terkenalnya ke ruang tradisi.
Wamen Ekraf Irene Umar melihat pertemuan itu sebagai peluang untuk mendekatkan generasi muda dengan wayang.
“Pokémon merupakan IP internasional yang mempunyai pengaruh besar di dunia, sedangkan wayang adalah identitas nasional serta budaya yang mencerminkan nilai luhur dan kepribadian bangsa.”
Menurut Irene, pendekatan tersebut dapat membuat anak muda kembali merasa dekat dengan wayang.
Pesannya sederhana budaya membutuhkan audiens baru. Sementara itu, audiens baru membutuhkan pintu masuk yang terasa akrab. Di sinilah pop culture mulai menemukan fungsi lain selain hiburan.

Dari Batik ke Wayang
Pertemuan Pokémon dengan budaya Indonesia sebenarnya bukan cerita baru. Sebelumnya, Pikachu tampil menggunakan batik dan berkolaborasi dengan Garuda Indonesia. Selain itu, Pokémon menggandeng penyanyi Happy Asmara melalui kolaborasi musik “Goyang HEPIKA”.
Rangkaian kolaborasi tersebut memperlihatkan pola yang menarik. Pokémon tidak hanya hadir melalui produk dan gim, tetapi juga mulai masuk ke ruang budaya dan kreativitas lokal.
Kini, ruang tersebut melebar ke dunia pewayangan. Irene menyebut pendekatan sebelumnya sebagai bagian dari kekuatan ekonomi kreatif Indonesia.
“Pikachu berbatik yang melenggang ke Tokyo adalah wujud nyata kekuatan ekonomi kreatif dalam membawa kearifan lokal Indonesia ke panggung dunia.”
Jika batik menjadi pintu sebelumnya, maka wayang kini membawa percakapan itu ke wilayah yang lebih dalam.
Bukan cuma tampilan visual yang menjadi titik temu. Begitu pula musik tidak menjadi satu-satunya medium. Kali ini, Pokémon masuk ke dalam narasi budaya.
Pop Culture Bisa Jadi Pintu Masuk
Ada alasan mengapa Poke Wayang terasa lebih menarik daripada sekadar mengganti kostum karakter.
Tim kreatif juga mengolah musik dari gim Pokémon menggunakan gamelan. Selain itu, cerita pertunjukan membawa pesan tentang kerja sama dan pentingnya saling mendukung.
Dengan pendekatan tersebut, anak-anak tidak hanya melihat karakter yang sudah mereka kenal. Mereka sekaligus mendengar gamelan dan mengikuti cerita melalui medium yang berbeda. Di sisi lain, The Pokémon Company melihat Indonesia sebagai pasar yang terus berkembang.
Corporate Officer Asia Business Division The Pokémon Company, Susumu Fukunaga, mengatakan pihaknya berdiskusi dengan tiga kementerian dalam proses pengembangan proyek tersebut.
Ia juga menyampaikan misi perusahaan untuk memperkenalkan Pokémon kepada lebih banyak anak di Indonesia. Artinya, kolaborasi ini bergerak dalam dua arah.
Indonesia membawa kekayaan budayanya. Sebaliknya, Pokémon membawa ekosistem pop culture globalnya. Pada akhirnya, keduanya bertemu di ruang pengalaman yang sama.

Yang Dipertaruhkan Bukan Cuma Pikachu
Panggung WCCE bisa menjadi awal. Namun, perjalanan Poke Wayang tidak berhenti di sana.
Pokémon berencana membawa pertunjukan tersebut ke sejumlah sekolah dasar di Indonesia. Tim juga menyiapkan perangkat wayang khusus untuk mendukung pengenalan budaya tersebut. Langkah ini membuat eksperimen tersebut semakin menarik.
Seorang anak yang mengenal Pikachu dari gim, misalnya, bisa menemukan karakter yang sama dalam bentuk wayang. Setelah itu, ia mendengar gamelan dan mengikuti cerita yang membawa pesan sosial.
Dari pengalaman tersebut, rasa ingin tahu terhadap wayang bisa muncul. Pop culture akhirnya menjadi pintu masuk menuju budaya. Meski demikian, pintu masuk saja belum cukup. Isi di baliknya tetap harus kuat.
Budaya + Pop Culture + Generasi = Relevansi
Dalam kacamata Tabooology, Poke Wayang memperlihatkan satu formula sederhana yaitu, Budaya + Pop Culture + Generasi = Relevansi Baru.
Tradisi tidak selalu bertahan karena bentuknya tidak berubah. Sebaliknya, sebuah tradisi dapat terus hidup ketika generasi baru menemukan alasan untuk mengenalnya.
Wayang memiliki cerita, karakter, musik, simbol, dan nilai. Tantangannya terletak pada cara menghadirkan semua unsur tersebut kepada audiens yang tumbuh dengan bahasa budaya berbeda.
Poke Wayang mencoba menjawab tantangan itu. Proyek tersebut tidak mengganti wayang dengan Pokémon. Sebaliknya, karakter global itu masuk ke ruang wayang dan membuka percakapan baru.
Ketua Umum SENAWANGI F.H. Bambang Soelistyo menyebut kolaborasi ini sebagai pertemuan budaya Indonesia dengan Pokémon.
“Ini adalah kolaborasi spesial di mana budaya Indonesia bertemu dengan Pokémon. Mari rasakan budaya kita lebih dekat dan kenali pesonanya bersama Poké Wayang.”
Pernyataan tersebut memperlihatkan satu gagasan penting. Budaya perlu menghadirkan pengalaman, bukan sekadar penjelasan.
Karena itu, ketika anak mengenal wayang melalui karakter yang mereka sukai, proses tersebut berpotensi terasa lebih dekat.
Pada tahap itu, pop culture tidak lagi sekadar menjadi tontonan. Ia bisa berubah menjadi jembatan.
Tradisi Harus Punya Bahasa Baru
Selama ini, budaya sering kita tempatkan sebagai sesuatu yang harus dijaga dalam bentuk aslinya. Pandangan tersebut memang punya alasan.
Namun, generasi terus berubah. Bersamaan dengan itu, cara mereka menikmati cerita juga ikut bergerak. Karena itu, menjaga budaya tidak cukup hanya dengan menyimpan artefaknya.
Generasi baru juga perlu menemukan hubungan personal dengan budaya tersebut. Poke Wayang mencoba membuka ruang itu melalui jalur yang tidak biasa.
Karakter global menjadi pintu untuk memperkenalkan identitas lokal. Pada saat yang sama, konteks budaya tetap harus hadir agar wayang tidak berhenti sebagai ornamen.
Risikonya tentu ada karena kolaborasi budaya bisa berubah menjadi gimmick apabila hanya mengejar perhatian. Sebaliknya, eksperimen tersebut dapat membuka ruang belajar ketika kreator membangun cerita, nilai, musik, dan konteks budaya secara serius.
Jangan Sampai Wayang Cuma Jadi Background Pikachu
Di sinilah pertanyaan kritisnya muncul. Ketika sebuah karakter global memasuki ruang budaya lokal, siapa yang akhirnya menjadi pusat perhatian?
Pikachu jelas memiliki basis penggemar yang besar. Wayang juga memiliki identitas dan sejarahnya sendiri. Karena itu, kolaborasi semacam ini perlu menjaga keseimbangan.
Jangan sampai anak-anak hanya mengingat Pikachu, tetapi lupa bahwa mereka baru saja berkenalan dengan wayang. Sebaliknya, karakter Pokémon bisa menjadi pemantik rasa ingin tahu.
Setelah pertunjukan selesai, anak dapat mencari tahu tentang wayang. Mereka bisa mengenal gamelan. Bahkan, pengalaman tersebut dapat membuka percakapan tentang cerita dan nilai budaya Indonesia.
Dengan demikian, ukuran keberhasilan tidak cukup berhenti pada viral atau ramainya penonton. Pertanyaan berikutnya justru lebih penting. Apa yang tersisa setelah Pikachu meninggalkan panggung?
Dari Karakter Global ke Identitas Lokal
Ada ironi menarik di balik proyek ini. Untuk mendekatkan budaya lokal kepada anak-anak, kita menggunakan karakter yang berasal dari Jepang.
Sekilas, situasi tersebut terdengar paradoks. Namun, sejarah budaya selalu mengenal pertemuan.
Musik bertemu musik, Cerita bertemu cerita, Karakter bertemu karakter dan Kemudian, lahirlah bentuk baru.
The Pokémon Company juga menyebut adanya pekerja Indonesia di dalam perusahaan yang memberikan masukan terkait Indonesia. Perspektif lokal tersebut membantu perusahaan memahami konteks Indonesia dalam berbagai pengembangan programnya.
Hal itu penting karena budaya bukan sekadar ornamen. Di dalamnya terdapat sejarah, simbol, nilai, serta masyarakat yang hidup bersama warisan tersebut.
Oleh sebab itu, kolaborasi global membutuhkan pemahaman lokal. Tanpa konteks, budaya mudah berubah menjadi sekadar estetika.
Ketika Wayang Masuk Sekolah
Rencana membawa Poke Wayang ke sekolah dasar membuat proyek ini memiliki dimensi lain.
Pertunjukan tidak lagi berhenti di panggung WCCE. Sebaliknya, Pokémon ingin membawa pengalaman tersebut lebih dekat kepada anak-anak.
Perangkat wayang khusus juga menjadi bagian dari rencana pengenalan tersebut. Bayangkan seorang anak yang sebelumnya hanya mengenal Pikachu melalui layar.
Kini, ia melihat karakter itu bergerak sebagai wayang. Tak lama kemudian, gamelan terdengar, Cerita berjalan, Nilai tentang kerja sama muncul.
Pada momen seperti itu, teknologi dan pop culture bertemu dengan tradisi melalui pengalaman langsung. Itulah ruang yang selama ini sering hilang dalam pembicaraan soal pelestarian budaya.
Anak tidak hanya diberi tahu bahwa wayang itu penting. Mereka diberi kesempatan untuk mengalami mengapa wayang bisa menarik.
Ketika Wayang Menemui Generasi Baru
Pada akhirnya, Pikachu mungkin hanya menjadi pintu. Yang lebih penting adalah apa yang ditemukan anak-anak setelah pintu tersebut terbuka.
Mereka bisa mengenal wayang. Mereka dapat mendengar gamelan untuk pertama kali. Bahkan, rasa penasaran bisa mendorong mereka mencari tahu lebih jauh tentang cerita pewayangan.
Semua kemungkinan itu memang belum menjadi hasil yang bisa kita pastikan.
Namun, Poke Wayang setidaknya menawarkan sebuah eksperimen.
Tradisi mencoba berbicara dengan bahasa yang lebih dekat dengan generasi baru. Pop culture pun mendapat kesempatan untuk memperkenalkan sesuatu di luar dunianya sendiri.
Karena itu, pekerjaan sebenarnya baru dimulai setelah lampu panggung padam.
Kreator lokal, seniman, perajin, pendidik, anak-anak, dan ekosistem ekonomi kreatif perlu ikut merasakan manfaatnya.
Sebab, menjaga budaya bukan hanya soal membuatnya terlihat keren. Menjaga budaya berarti membuatnya tetap punya tempat dalam kehidupan.
Maka, ketika Pikachu masuk ke balik kelir, yang bergerak bukan cuma karakter Pokémon. Cara kita memperkenalkan budaya juga ikut berubah.
Dan mungkin, kali ini wayang tidak perlu menunggu generasi muda datang. Wayang ikut berjalan menemui mereka. Di situlah tradisi mungkin menemukan bahasa barunya. @teguh








