Tabooo.id: Deep – Rasanya seperti semua usaha saya dihapus hanya dalam sekejap.” Suara Andi Mesyara Jerni Maswara pecah dalam video yang diunggahnya di Instagram, Senin (15/12/2025). Mata atlet kickboxing berusia 26 tahun itu memancarkan kelelahan dan frustrasi, bukan karena kalah, tetapi karena ketidakadilan yang menggerogoti. Di tatami SEA Games 2025, yang seharusnya menjadi panggung kebanggaan, Andi merasa dikhianati oleh sistem yang seharusnya adil.
Di babak semifinal nomor women’s tatami point fighting 50 kg, Andi berhadapan dengan perwakilan Vietnam, Hoang Thi Thuy Giang. Selama pertarungan, pukulan dan tendangan Andi jelas menambah skor. Namun, keputusan wasit tak sesuai harapan. Alih-alih pengakuan atas kerja kerasnya, hasil penilaian justru memunculkan tanda tanya. Dari video unggahannya, Andi mengekspresikan kebingungan sekaligus kekecewaan:
“Ada beberapa poin yang ingin saya sampaikan, yang sejujurnya saya heran dengan sistem penilaiannya mereka bagaimana.”
Meski gagal melaju ke babak final, Andi tetap membawa pulang medali perunggu, menambah koleksi prestasi Indonesia. Akun Instagram resmi @kemenpora menulis:
“Andi Mesyara Jerni Maswara dari cabang olahraga kickboxing menambah jumlah raihan medali perunggu Indonesia di nomor Women’s Point Fighting 50 Kg.”
Namun, medali itu terasa pahit. Di balik kilau perunggu, terselip pertanyaan besar: seberapa adil sistem olahraga internasional saat kompetisi berlangsung di bawah tekanan politik dan kepentingan lokal?
Darah Biru dan Raga Terlatih
Andi lahir di Ujung Pandang, Sulawesi Selatan, 23 September 1999. Dari keluarga Bugis dengan garis keturunan kerajaan Soppeng, Bone, dan Barru, ia mewarisi disiplin dan keteguhan dari leluhurnya. Namun, darah bangsawan tak membuat perjalanan di dunia olahraga profesional menjadi mudah.
Ia mulai belajar karatek pada 2008, dilatih langsung oleh ayahnya.
“Awalnya hanya permainan, tapi lama-lama saya merasakan tantangan yang mengubah cara pandang saya terhadap kehidupan,” ujarnya dalam wawancara sebelumnya.
Sekolah menengah menjadi ajang mengasah mental dan fisik. Perlahan, ia menorehkan prestasi kejuaraan lokal, nasional, hingga internasional.
Selain karate, Andi menggeluti kickboxing, olahraga yang menuntut ketangkasan, strategi, dan ketahanan mental. Ia menjadi satu-satunya atlet Indonesia yang mewakili Asia dalam The World Games 2025. Prestasinya tercatat gemilang:
- Juara 1 Kejuaraan Karate Nasional Piala Panglima 2017, Jakarta
- Juara 2 Pekan Olahraga Mahasiswa Nasional 2019, Jakarta
- Juara 1 Kejuaraan Nasional Kickboxing IMAG (PRAPON) 2023, Bogor
- Juara 1 Asian Kickboxing Championship 2024, Kamboja
Di balik angka dan medali itu, tersimpan kerja keras, rasa sakit, dan malam-malam tanpa tidur. Tubuhnya yang terlihat kuat menyimpan cerita tentang kegigihan dan pengorbanan yang jarang terlihat mata publik.
Tatami yang Membisu
Bagi penonton, pertandingan semifinal SEA Games 2025 tampak normal pukulan, tendangan, strategi, dan ketegangan. Bagi Andi, tatami itu menjadi saksi bisu ketidakadilan. Setiap pukulan yang berhasil dicatat, setiap gerakan sempurna, tak lagi cukup jika skor di papan penilaian tak mencerminkan usaha.
Setiap detik di tatami membakar energi fisik dan mentalnya. Ia menatap lawan, fokus pada gerakan yang telah dilatih bertahun-tahun, namun penilaian wasit menghadirkan ketidakpastian yang menusuk. Dalam hati, Andi bergulat antara menerima kenyataan dan menuntut keadilan.
Ketika video protesnya viral, komentar netizen muncul beragam dukungan, pertanyaan, hingga kritik. Ada yang memahami frustrasinya, ada yang menilai emosinya berlebihan. Namun di balik layar, Andi merasakan kesepian dan ketegangan antara aspirasi pribadi dan mekanisme sistem olahraga internasional.
Sistem yang Terselubung
Tabooo melihat peristiwa ini bukan sekadar soal medali atau kemenangan. Sistem penilaian, tekanan politik, dan kepentingan regional dalam olahraga internasional sering tersembunyi. Wasit dan panitia, yang seharusnya netral, kadang menjadi bagian dari kepentingan yang lebih besar. Atlet seperti Andi pun menjadi korban.
Di dunia yang memuja angka dan medali, manusia sering terlupakan. Seorang atlet bukan mesin penghitung poin. Ia individu yang menginvestasikan hidup pada disiplin, pengorbanan, dan impian. Ketika sistem mengabaikan itu, yang tersisa hanyalah rasa sakit dan kebingungan.
Dugaan kecurangan yang menimpa Andi menyentil isu transparansi dan profesionalisme penyelenggaraan SEA Games. Bagaimana sistem dapat dipercaya jika suara dan bukti atlet sendiri tak memiliki bobot? Apa artinya adil, jika penilaian subjektif tetap mendominasi?
Permintaan Maaf yang Reflektif
Beberapa hari setelah insiden, Andi mengunggah video permintaan maaf. Nada suaranya lebih tenang, lebih reflektif. Ia meminta maaf kepada Asian Kickboxing Confederation (WAKO Asia) dan pelatihnya, menegaskan emosinya saat protes bersifat spontan.
“Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Mr. Nasiri dan Mr. Icun untuk memercayai saya. Saya ingin mengucapkan minta maaf dan terima kasih karena sangat emosional kemarin.”
Video itu menunjukkan sisi lain Andi kematangan dalam menghadapi publik dan tekanan. Meski kekecewaan masih ada, ia memilih menyelesaikan konflik internal dengan elegan. Bukan sekadar untuk dirinya, tetapi untuk integritas olahraga dan citra Indonesia.
Tatami dan Kehidupan
Kisah Andi bukan hanya soal satu pertandingan kickboxing. Ia cermin konflik batin banyak atlet: kerja keras versus sistem yang tak adil, prestasi versus politik, kemarahan versus kontrol diri. Tatami menjadi metafora kehidupan, tempat di mana usaha, emosi, dan integritas diuji.
Yang menohok, manusia sering terjebak dalam mekanisme besar yang tak sepenuhnya dapat dikontrolnya. Di sinilah tragedi dan pelajaran bersatu: kemenangan sejati bukan selalu diukur dari medali, tetapi dari keberanian menghadapi ketidakadilan dan tetap berdiri dengan kepala tegak.
Andi tetap membawa pulang medali perunggu, tetapi yang lebih penting ia membawa cerita tentang keberanian, integritas, dan refleksi manusia di tengah sistem kompleks. Sebuah pertanyaan menggantung: berapa banyak talenta lain yang tenggelam di bawah permukaan, tanpa suara, tanpa pengakuan?
SEA Games 2025 telah usai, tatami kembali sunyi. Tapi bayangan kecurangan, rasa sakit, dan pertanyaan moral tetap menempel, mengundang kita menatap lebih dalam, bukan sekadar angka di papan skor. @dimas





