Tabooo.id: Nasional – Konflik internal Partai Ummat akhirnya keluar dari ruang tertutup dan menggelinding ke panggung hukum. Sebanyak 34 kader dari berbagai daerah maju bersama untuk menggugat petinggi partai, termasuk Amien Rais, dengan nilai yang tidak main-main Rp24 miliar. Mereka mendaftarkan gugatan itu ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan pada 13 November 2025, dengan nomor perkara 1247/Pdt.Sus-Parpol/2025/PN JKT.SEL.
Sejak awal, gugatan ini langsung menarik perhatian publik karena menyasar tokoh sentral partai:
- Amien Rais, Ketua Majelis Syuro
- Ridho Rahmadi, Ketua Umum sekaligus menantu Amien
- Ansufri Idrus Sambo, Sekretaris Majelis Syuro
- Taufik Hidayat, Sekjen Partai
Di sisi penggugat, nama-nama seperti Zul Badri, Niko Fransisco, Irsyadul Fauzi, dan Abdul Hakim muncul sebagai representasi kader yang selama ini bekerja membangun struktur partai di daerah.
Krisis yang Meletup Setelah Sunyi Panjang
Setelah tersisih di Pemilu, Partai Ummat tampak berjalan tenang. Namun, ketenangan itu ternyata hanya permukaan. Gugatan besar ini memperlihatkan bahwa kekecewaan kader sudah lama menumpuk. Banyak kader, terutama di lapangan, menilai arah partai terlalu elitis dan kurang transparan.
Karena itu, ketika puluhan kader memilih jalur hukum, publik bisa menebak bahwa persoalan internal sudah tidak bisa lagi diselesaikan dengan musyawarah biasa.
Ridho Rahmadi Tidak Tinggal Diam
Ketua Umum Partai Ummat, Ridho Rahmadi, langsung merespons ketika kabar gugatan muncul. Ia menegaskan bahwa pihaknya siap mengikuti seluruh proses hukum. Lebih jauh, ia bahkan menyiapkan langkah balasan.
“Kami sangat siap mengikuti proses selanjutnya. Kami juga akan mengajukan gugatan balik,” tegas Ridho, Senin (17/11/2025).
Dengan demikian, konflik ini tampaknya tidak akan berakhir dalam satu putaran sidang. Sebaliknya, Partai Ummat justru membuka babak baru dari drama internal yang semakin kompleks.
Apa Dampaknya?
Konflik bernilai miliaran ini tidak hanya mengusik elite Partai Ummat. Ia membawa serangkaian implikasi yang lebih luas.
Pertama, pemilih mengamati kondisi ini dengan gelisah. Partai baru seperti Partai Ummat membutuhkan kepercayaan publik, dan konflik terbuka justru mengikis fondasi itu.
Kedua, sengketa ini bisa menguras energi dan dana partai. Dengan demikian, struktur di daerah berpotensi kehilangan dukungan padahal mereka merupakan tulang punggung organisasi.
Ketiga, nama Amien Rais kembali masuk pusaran kontroversi. Tokoh yang selama ini identik dengan moralitas dan reformasi kini berhadapan dengan tuntutan “perbuatan melawan hukum” dari kadernya sendiri. Karena itu, reputasinya sebagai penjaga etika politik ikut dipertaruhkan.
Sementara itu, siapa yang diuntungkan dari kekacauan ini?
Jawabannya sederhana partai lain. Kompetitor yang berebut ceruk pemilih Islam tentu melihat peluang emas ketika Partai Ummat sibuk mengurus perpecahan internal.
Sidang Perdana Menjadi Titik Awal Pertarungan
Pengadilan Negeri Jakarta Selatan menjadwalkan sidang perdana pada 24 November mendatang. Publik masih menunggu isi petitum karena SIPP belum memunculkannya. Namun, nilai gugatan dan pihak yang terlibat sudah cukup untuk menegaskan bahwa sidang ini akan menjadi tontonan politik yang menarik.
Jika Partai Ummat ingin bertahan, mereka harus memilih menyelesaikan konflik dengan dewasa atau membiarkan badai ini menghancurkan kapal yang bahkan belum sempat berlayar jauh.
Pada akhirnya, publik mungkin bertanya sinis
Jika rumah sendiri masih bocor, bagaimana partai ini mau memperbaiki rumah besar bernama Indonesia? @dimas




