Tabooo.id: Life – Di sebuah pagi yang masih basah oleh embun di Desa Bimomartani, Sleman, seorang perempuan berdiri di depan papan tulis dengan sepatu yang sedikit berdebu oleh tanah sawah. Angin membawa bau padi muda, sementara Gunung Merapi menggantung samar di kejauhan seperti latar yang sengaja dipilih alam.
“Kalau robot bisa mengerjakan semuanya, lalu manusia mau jadi apa?” tanyanya kepada belasan siswa.
Perempuan itu adalah Aishah Prastowo doktor lulusan University of Oxford sekaligus alumni LPDP generasi pertama (PK-6). Bidang risetnya mikrofluida multifase, sebuah cabang ilmu yang biasanya identik dengan laboratorium canggih dan instrumen presisi tinggi. Namun pagi itu, ia tidak sedang memegang pipet mikroliter. Ia memegang spidol.
Sorotan Publik dan Sebuah Pilihan Sunyi
Di tengah perdebatan publik tentang penerima beasiswa negara tentang siapa yang pulang dan siapa yang menetap kisah Aishah menghadirkan sudut pandang berbeda. Ia memang memiliki peluang membangun karier riset di luar negeri. Fasilitas lebih lengkap, ekosistem akademik lebih mapan, serta jalur profesional yang relatif stabil sudah terbentang di depan mata.
Akan tetapi, ia justru memilih kembali.
Keputusan tersebut bukan sekadar memenuhi kewajiban administratif. Sebaliknya, pilihan itu lahir dari refleksi panjang mengenai makna ilmu dan arah pengabdian.
Rumah yang Membesarkan Cinta pada Sains
Sejak kecil, dunia pendidikan telah menjadi ruang akrab bagi Aishah. Ayahnya dosen fisika di UGM, sedangkan ibunya lulusan kimia dari kampus yang sama. Dengan demikian, sains bukan sekadar pelajaran sekolah; ia adalah percakapan sehari-hari di rumah.
Pengalaman mengikuti sang ayah ke Kanada ketika menempuh doktoral di Queen’s University semakin memperluas cakrawalanya. Ketertarikan pada fisika tumbuh secara alami. Ia menyukai bagaimana hukum alam menjelaskan peristiwa sederhana bola dilempar, kendaraan melaju, cahaya dipantulkan.
Karena itu, pada usia 16 tahun, ia telah menjadi mahasiswa Teknik Fisika UGM. Sebelumnya, ia juga meraih medali perak Olimpiade Sains Nasional 2004.
Langkah akademiknya berlanjut ke Prancis. Pada usia 20 tahun, ia menempuh S2 Interdisciplinary Approach to Life Science di Université Paris Descartes. Di sanalah ia menyadari bahwa riset tidak bisa disentuh sepintas; ia menuntut kedalaman dan kesabaran.
Oxford dan Setetes Ilmu untuk Dunia
Ketika LPDP mulai beroperasi pada 2013, Aishah melihat peluang untuk melanjutkan studi doktoral. Setahun kemudian, ia resmi menjadi mahasiswa doktoral di Oxford pada usia 23 tahun.
Di sana, ia menekuni mikrofluida multifase teknologi yang memungkinkan pemrosesan cairan dalam volume sangat kecil, hingga nanoliter. Dengan pendekatan ini, eksperimen yang sebelumnya memerlukan tabung reaksi besar dapat dilakukan melalui droplet mikro.
Efisiensi meningkat, biaya menurun, dan peluang penerapan di bidang kesehatan terbuka lebih luas. Salah satu manfaatnya ialah drug screening untuk melihat respons sel terhadap obat. Bahkan, teknologi ini berpotensi menghadirkan alat diagnostik murah yang relevan bagi wilayah terpencil di Indonesia.
Sejumlah penelitiannya terbit di jurnal internasional bereputasi Q1 dan dikutip puluhan kali. Secara akademik, masa depannya terang.
Namun hidup, seperti fluida yang ia teliti, sering bergerak ke arah yang tak terduga.
Pandemi, Keibuan, dan Perubahan Arah
Setelah menyelesaikan doktoral, Aishah menikah. Ia sempat bergabung dalam tim peneliti dosen. Namun fase kehamilan dan kelahiran anak pertamanya bertepatan dengan pandemi Covid-19.
Situasi tersebut mengubah ritme hidupnya. Alih-alih berhenti berkarya, ia justru semakin aktif mengajar. Ia membuka kelas academic writing, membimbing penelitian mahasiswa, serta mendampingi siswa SMP dan SMA dalam lomba karya ilmiah.
Perlahan, perannya bergeser. Dari laboratorium ke ruang kelas. Dari eksperimen mikro ke pembentukan karakter.
Di sinilah paradoks terasa nyata. Masyarakat kerap memuja gelar doktor luar negeri sebagai simbol prestise. Akan tetapi, ketika seorang lulusan kampus kelas dunia memilih menjadi guru SMA di desa, sebagian orang mungkin mempertanyakan pilihannya.
Padahal justru di ruang kelas itulah ia menemukan makna yang lebih membumi.
Praxis High School dan Masa Depan yang Dipertaruhkan
Pada 2024, Aishah ikut merintis Praxis High School di Ngemplak, Sleman sekolah alternatif berbasis STEAM yang berdiri di tengah persawahan.
Transformasi dari Praxis Academy (IT bootcamp) menjadi sekolah formal membawa visi yang sama: menjembatani dunia akademik dan dunia kerja. Menurut Aishah, masa depan pekerjaan akan sangat dipengaruhi oleh otomasi, robotika, dan kecerdasan buatan.
Karena itu, pendidikan tidak boleh berhenti pada hafalan teori. Siswa perlu dibekali nalar kritis, kemampuan adaptasi, serta keberanian berinovasi.
Ia memahami kecepatan teknologi karena pernah berada di pusat riset global. Namun sebagai guru, ia juga menyadari bahwa kecerdasan manusia tidak semata-mata soal algoritma. Empati, etika, dan kreativitas tetap menjadi fondasi.
Pulang sebagai Kesadaran
Kisah Aishah bukan tentang membandingkan mereka yang pergi dan yang pulang. Mobilitas global adalah realitas zaman. Namun memilih kembali dan membangun dari bawah tetap membutuhkan keberanian.
Beasiswa negara pada akhirnya bukan sekadar kontrak finansial. Ia adalah investasi sosial. Dan hasil investasi itu tidak selalu tampak dalam bentuk jabatan atau publikasi. Terkadang, ia hadir dalam wujud lebih sunyi: siswa yang berani bermimpi lebih besar dari batas desanya.
Di tengah sawah Sleman, seorang doktor Oxford menghapus papan tulis setiap sore. Ia mungkin tidak lagi meneliti droplet nanoliter setiap hari. Namun ia sedang mengalirkan sesuatu yang lebih luas harapan.
Pertanyaannya kini berubah. Bukan lagi mengapa ia pulang. Melainkan, setelah ilmu setinggi itu kita raih, ke mana seharusnya ia kita arahkan? @eko





