Selasa, Oktober 20, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Ahmad Nabil Rosli: Kurir Bertangan Satu di Terengganu Menaklukkan Jalanan

by dimas
Januari 10, 2026
in Life
A A
Home Life
Share on Facebook
Share on Twitter

Tabooo.id: Life – Pagi itu, Jalan Raya Terengganu masih basah oleh embun. Sepeda motor berderu pelan, membawa seorang pria bertangan satu melintasi kota dengan presisi yang menakjubkan. Ahmad Nabil Rosli atau Nosli, begitu ia akrab disapa memeriksa alamat tujuan dengan mata tajam, sementara satu lengannya yang tersisa menggenggam setang motor seolah menari dalam ritme kerja yang keras namun penuh ketenangan.

Video singkat yang merekam momen Nosli dihentikan polisi lalu lintas pada November lalu menjadi awal gelombang perhatian publik. Polisi menatapnya dengan terkejut, bertanya, “Apakah tangan Anda terluka, bang?” Reaksi sederhana itu, meski sepele, menyingkap paradoks yang lebih besar: seorang kurir pengantar makanan dengan satu lengan menaklukkan jalanan, di tengah risiko yang bisa merenggut nyawa siapa pun.

Kecelakaan yang Menjadi Titik Balik

Kehidupan Nosli berubah drastis pada Mei 2017. Sebuah kecelakaan lalu lintas yang menyayat sepeda motornya terseret, terbakar, dan membawa tubuhnya ke ambang kematian merenggut lengan kirinya dan menghadapkan Nosli pada pilihan paling sulit menyerah atau bangkit. Ia mengingat detik-detik kritis itu, saat koma dan henti jantung selama 30 menit menguji batas kesadarannya.

“Para dokter melakukan segala cara untuk menyelamatkan saya. Itu momen yang sangat kritis,” katanya. Namun, alih-alih menyerah, Nosli memilih melihat kecelakaan itu sebagai anugerah terselubung kesempatan kedua untuk hidup dengan lebih kuat dan penuh optimisme.

Dukungan keluarga menjadi fondasi yang meneguhkan langkahnya. Orang tua dan saudara selalu ada di sisi, memberi dorongan agar Nosli tidak menyerah pada kondisi fisik yang membatasinya. Fondasi itu perlahan menumbuhkan keberanian dan rasa percaya diri yang menuntun Nosli ke jalur pekerjaannya sekarang.

Ini Belum Selesai

Americano: Sehat atau Cuma Gaya?

Kebijakan Pemerintah Berubah, Kehidupan Warga Ikut Berubah?

Satu Lengan, Puluhan Pesanan

Sejak 2021, Nosli bekerja sebagai kurir pengantar makanan. Setiap hari, ia menaklukkan jalanan kota, menyelesaikan lebih dari 30 pesanan, kadang hingga 50 pesanan, dari pagi hingga malam. Satu lengan yang tersisa bukan sekadar anggota tubuh ia menjadi simbol tekad dan ketekunan yang sulit dipatahkan.

Respons pelanggan sebagian besar positif, dengan banyak yang menyemangati dan memahami perjuangannya. Nosli bahkan memilih tidak menggunakan lengan prostetik karena rasa sakit yang muncul dari penggunaan intensif. Keputusan itu memungkinkan ia bekerja optimal tanpa memperparah kondisi fisiknya.

Motivasi terbesar Nosli bukan hanya pekerjaan atau popularitas di media sosial. Ia menabung untuk pernikahannya, menyiapkan masa depan dengan pasangannya yang tinggal di Singapura. Targetnya sederhana namun berharga pernikahan pada Desember tahun depan, sebuah mimpi yang ia pertahankan dengan kerja keras dan dedikasi.

Paradoks dan Dukungan Publik

Kisah Nosli menjadi refleksi paradoks hidup kekuatan dan keterbatasan sering berjalan berdampingan. Publik menyemangatinya, bahkan seorang pendengar radio menawarkan menanggung biaya pernikahannya. Warganet membanjiri kolom komentar dengan doa dan pujian. Namun, kekhawatiran pun hadir beberapa menilai pekerjaannya terlalu berisiko, menyarankan ia mencari pekerjaan di dalam ruangan.

Di sini, Nosli berdiri di tengah perdebatan itu, mengekspresikan keberanian yang sederhana namun monumental keterbatasan fisik tidak meniadakan kemampuan seseorang untuk bekerja, bermimpi, dan menginspirasi.

Refleksi: Hidup di Antara Risiko dan Harapan

Melihat Nosli menavigasi jalanan dengan satu lengan, kita diingatkan bahwa batasan fisik hanyalah salah satu dimensi dari kehidupan. Ada risiko, tentu, tapi ada juga semangat, tekad, dan kemampuan untuk menaklukkan rintangan. Dalam dunia yang sering menilai dari apa yang terlihat, Nosli mengajarkan bahwa kerja keras dan ketekunan tak mengenal keterbatasan.

Ketika ia melaju di jalanan Terengganu, satu lengan menggenggam setang motor, mata menatap tujuan, kita tersadar keberanian sejati bukan tentang memiliki semua yang sempurna, tapi tentang tetap melangkah saat dunia menunjukkan ketidakadilan dan risiko. Dan mungkin, dalam setiap pedal gas dan setiap pesanan yang diantarkan, tersimpan pelajaran sederhana hidup tidak menunggu kesempurnaan. Ia menunggu keberanian. @dimas

Tags: DisabilitasInspirasiMedia SosialPerjuanganPernikahan

Kamu Melewatkan Ini

Soe Hok Gie: Sehari Sebelum Ulang Tahun ke-27, Semeru Menjadi Perhentian Terakhirnya

Soe Hok Gie: Sehari Sebelum Ulang Tahun ke-27, Semeru Menjadi Perhentian Terakhirnya

by jeje
September 22, 2026

Aktivis Angkatan 66 itu meninggal di Gunung Semeru pada 16 Desember 1969, sehari sebelum ulang tahunnya. Ia pergi bersama sahabatnya,...

Satu Video, Dua Narasi: Hercules dan Perang Tafsir di Tengah Kericuhan

Satu Video, Dua Narasi: Hercules dan Perang Tafsir di Tengah Kericuhan

by teguh
Agustus 30, 2026

Malam 27/08/2026 menyisakan banyak rekaman dari situasi demonstrasi yang memanas di Jakarta. Salah satu video memperlihatkan Rosario de Marshall alias...

Sepekan Sebelum Proklamasi, Indonesia Menolak Menunggu

Sepekan Sebelum Proklamasi, Indonesia Menolak Menunggu

by dimas
Agustus 13, 2026

Sepekan sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945, Indonesia menghadapi tekanan, perdebatan, dan perubahan situasi perang sebelum merebut hak menentukan kemerdekaannya sendiri....

Next Post
Denada Digugat Rp 7 Miliar: Gugatan Anak dan Harga Sebuah Citra

Denada Digugat Rp 7 Miliar: Gugatan Anak dan Harga Sebuah Citra

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id