Tabooo.id: Edge – Di Indonesia, kalender bukan sekadar penunjuk hari. Ia berubah menjadi mesin waktu. Ketika kalender masih menunjuk 2026, elite politik justru ramai hidup di 2029. Saat rakyat masih antre minyak goreng, politisi sudah antre wacana. Yang satu sibuk menghitung pengeluaran, yang lain sibuk menghitung peluang.
Dengan demikian, beginilah negeri ini bekerja: program hari ini boleh tertunda, tetapi spekulasi kekuasaan esok hari tidak boleh terlambat.
Pekan ini, mesin waktu itu kembali dinyalakan.
Presiden ke-7 RI Joko Widodo menyebut satu kalimat yang langsung memantik diskusi nasional Prabowo-Gibran dua periode.
Kalimatnya singkat. Pesannya padat. Dampaknya meluas.
Jokowi dan Seni Melempar Batu Tanpa Mengaku Melempar
Saat ditemui di Solo, Jumat (30/1/2026), Jokowi menyampaikan dukungannya secara lugas.
“Kan sudah saya sampaikan Prabowo-Gibran dua periode. Sudah, itu saja.”
Tidak ada metafora. Tidak ada pantun. Bahkan tidak ada senyum misterius. Namun, publik langsung membaca makna di baliknya.
Pernyataan itu muncul sebagai respons atas pandangan Ketua Harian PSI Ahmad Ali yang sebelumnya menyebut Gibran berpotensi menjadi kompetitor kuat pada Pilpres 2029.
Alih-alih meredam spekulasi, pernyataan Jokowi justru memperlebar arena tafsir. Seketika, suhu politik naik beberapa derajat.
Di titik ini, publik kembali melihat pola lama: setiap kali Jokowi berbicara singkat, politik nasional bekerja lembur.
Prabowo Hampir Disepakati, Pasangan Masih Menggantung
Seiring menguatnya wacana tersebut, partai-partai pendukung mulai menyusun sikap. Menariknya, hampir semua sepakat pada satu nama Prabowo Subianto.
Namun, pembicaraan mendadak melambat ketika masuk ke soal wakil presiden.
Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar menyatakan partainya puas dengan kinerja Prabowo dan siap mendukung dua periode.
“Kita pokoknya intinya puas dengan pemerintahan Pak Prabowo dan kompak minimal dua periodelah.”
Akan tetapi, saat wartawan menanyakan apakah dukungan itu otomatis sepaket dengan Gibran, Cak Imin memilih berhenti.
“Oh belum dibahas. Belum.”
Artinya sederhana presidennya iya, wakilnya nanti dulu.
PAN: Setia ke Prabowo, Bimbang soal Duet
Sikap serupa datang dari PAN. Wakil Ketua Umum PAN Eddy Soeparno menegaskan partainya sudah final mendukung Prabowo pada Pilpres 2029.
Ia bahkan mengingatkan bahwa PAN merupakan satu-satunya partai di luar Gerindra yang konsisten mendukung Prabowo dalam tiga Pilpres.
Meski begitu, PAN belum mau mengunci nama calon wakil presiden.
Menurut Eddy, pasangan capres-cawapres harus memiliki simbiosis, kemampuan kerja sama, serta daya tarik elektoral.
Di sisi lain, Eddy mengaku secara pribadi lebih mendukung Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan untuk mendampingi Prabowo.
Namun, ia buru-buru menambahkan itu belum menjadi sikap resmi partai.
Dengan kata lain, semua orang punya preferensi, tetapi belum ada yang mau menandatangani keputusan.
Golkar dan Demokrat Memilih Jalur Aman
Berbeda dengan PKB dan PAN, Golkar memilih menggunakan bahasa yang lebih elastis.
Sekjen Golkar Sarmuji menilai bahwa keberhasilan visi Prabowo akan menjadi kunci.
“Kalau rakyat cinta, urusan 2029 bisa lebih mudah.”
Pernyataan ini terdengar seperti optimisme, sekaligus pagar pengaman.
Sementara itu, Demokrat menampilkan sikap yang lebih berhati-hati.
Sekjen Demokrat Herman Khaeron menegaskan partainya masih fokus membantu Presiden Prabowo menyukseskan program-program pemerintah.
Menurutnya, tantangan politik, ekonomi, dan sosial masih terlalu besar untuk ditinggalkan.
Dengan demikian, Demokrat belum ingin berbicara jauh soal dua periode.
Cepat Mengatur Kekuasaan, Lambat Mengurus Pekerjaan Rumah
Di sinilah absurditasnya terasa lengkap.
Masalah harga pangan, lapangan kerja, pendidikan, serta akses layanan publik masih menjadi keluhan sehari-hari. Namun, elite politik justru lebih dulu membahas konfigurasi kekuasaan tiga tahun ke depan.
Ironisnya, hampir setiap elite menutup pernyataan mereka dengan kalimat klise “fokus kerja dulu.”
Padahal, mereka sendiri yang paling rajin membuka obrolan tentang 2029.
Situasi ini mirip seseorang yang mengaku sedang diet, tetapi terus membuka aplikasi pesan makanan.
Rakyat Hadir sebagai Angka, Bukan Cerita
Nama elite berseliweran di ruang publik.
Jokowi. Prabowo. Gibran. Cak Imin. Zulhas.
Sebaliknya, rakyat lebih sering muncul sebagai variabel: elektabilitas, survei, dan basis suara.
Mereka jarang hadir sebagai manusia dengan cerita konkret tentang biaya hidup, cicilan, dan masa depan anak-anaknya.
Akibatnya, politik terasa seperti permainan papan yang hanya bisa dimainkan elite, sementara rakyat menjadi pion yang dipindah-pindah.
Punchline: Kampanye Tidak Pernah Libur, Kerja Sering Cuti
Indonesia mungkin satu-satunya negara di mana kampanye selalu datang lebih cepat daripada penyelesaian masalah.
Tiga tahun sebelum Pilpres, elite sudah membagi kursi.
Namun, bertahun-tahun setelah janji kampanye, banyak janji masih duduk di ruang tunggu.
Maka pertanyaannya sederhana:
Jika sekarang saja mereka sibuk mengatur 2029, kapan tepatnya mereka benar-benar mengatur 2026?
Atau jangan-jangan, yang benar-benar dua periode di negeri ini bukan presidennya melainkan janji politiknya selalu diperpanjang, jarang diselesaikan. @dimas




