Minggu, Agustus 23, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

DPR Nilai Tragedi Siswa SD di NTT Alarm Keras Dunia Pendidikan

by dimas
Februari 4, 2026
in Nasional, Reality
A A
Home Reality Nasional
Share on Facebook
Share on Twitter

Tabooo.id: Nasional – Anggota Komisi X DPR RI, Habib Syarief, menilai kasus wafatnya seorang siswa sekolah dasar di Nusa Tenggara Timur (NTT) sebagai potret kelam pemenuhan hak dasar anak di sektor pendidikan. Ia merespons dugaan bunuh diri siswa tersebut yang dipicu ketidakmampuan membeli buku dan alat tulis.

Menurut Syarief, peristiwa ini menunjukkan masih lebarnya celah dalam sistem pendidikan nasional, terutama dalam melindungi anak-anak dari keluarga kurang mampu.

“Peristiwa tersebut merupakan potret buram dunia pendidikan nasional yang menunjukkan masih adanya celah besar dalam pemenuhan hak dasar belajar bagi anak dari keluarga kurang mampu,” ujar Syarief dalam keterangan tertulis, Rabu (4/2/2026).

Anggaran Besar, Masalah Tetap Terjadi

Syarief menyoroti besarnya alokasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk sektor pendidikan dan bantuan sosial. Dengan anggaran sebesar itu, ia menilai pemerintah seharusnya mampu memastikan seluruh siswa memperoleh kebutuhan dasar untuk bersekolah.

Ia menegaskan, negara tidak boleh membiarkan anak kehilangan akses pendidikan hanya karena tidak mampu membeli buku atau alat tulis.

Ini Belum Selesai

Relawan Gugur Antar Bantuan Gempa NTT, Siapa Melindungi Mereka?

11 Desa, 21.171 Jiwa, Bantuan Terbatas: Camat Manggarai Protes

“Sejauh yang kami ketahui, anggaran pendidikan dari APBN itu besar. Karena itu, kebutuhan dasar seperti buku dan alat tulis seharusnya bisa terpenuhi,” tegasnya.

Ia menilai, jika kasus seperti ini masih terjadi, maka ada persoalan serius dalam tata kelola dan distribusi bantuan pendidikan.

DPR Dorong Audit Penyaluran Bantuan

Selain menyoroti anggaran, Syarief mendorong Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) untuk menelusuri ada atau tidaknya kelalaian dalam penyaluran bantuan pendidikan.

Menurutnya, pengusutan ini penting agar negara tidak terlihat abai terhadap nasib anak-anak miskin.

“Kita perlu memastikan apakah bantuan pendidikan sudah tepat sasaran dan apakah ada pendampingan bagi anak-anak yang mengalami tekanan berat akibat kemiskinan,” tambahnya.

Ia juga meminta pemerintah mendata ulang kondisi ekonomi siswa, khususnya di NTT dan wilayah lain dengan tingkat kemiskinan tinggi. Selain itu, ia mendorong penguatan program perlengkapan sekolah gratis agar menjangkau seluruh siswa yang membutuhkan.

Peran Guru dan Sekolah Jadi Kunci

Syarief menekankan pentingnya peran guru dan kepala sekolah dalam memantau kondisi psikologis peserta didik. Menurutnya, sekolah tidak hanya berfungsi sebagai tempat belajar, tetapi juga ruang aman bagi anak-anak.

“Jangan sampai kita kehilangan generasi hanya karena kemiskinan dan kelalaian sistem,” tegasnya.

Ia menambahkan, pemerintah harus memastikan sekolah memiliki mekanisme pendampingan bagi siswa yang menunjukkan tanda-tanda tekanan berat.

Kisah YBS dan Lingkaran Kemiskinan

Kematian YBS (10), siswa kelas IV SD di Kabupaten Ngada, NTT, mengguncang banyak pihak. Bocah itu diduga mengakhiri hidupnya setelah putus asa karena tidak mampu membeli buku dan pena seharga kurang dari Rp 10.000.

Saat YBS meminta uang kepada ibunya, MGT (47), sang ibu menjawab bahwa keluarga mereka tidak memiliki uang.

Bagi keluarga tersebut, nominal Rp 10.000 bukan angka kecil. MGT bekerja sebagai petani sekaligus buruh serabutan. Ia membesarkan lima anak seorang diri setelah menjadi janda.

Untuk meringankan beban ibunya, YBS tinggal bersama neneknya yang berusia sekitar 80 tahun di sebuah pondok sederhana. Tidak jauh dari pondok itulah, pada Kamis (29/1/2026), YBS ditemukan meninggal dunia dalam kondisi gantung diri di dahan pohon cengkih.

Siapa yang Paling Terdampak?

Kasus ini paling keras menghantam anak-anak dari keluarga miskin ekstrem, terutama di daerah terpencil. Mereka menghadapi risiko ganda: kemiskinan struktural dan lemahnya jangkauan bantuan negara.

Di sisi lain, masyarakat luas ikut menanggung dampak sosial berupa hilangnya kepercayaan terhadap klaim pendidikan gratis yang selama ini digaungkan pemerintah.

Tragedi ini menampar banyak pihak. Ketika negara mengklaim pendidikan gratis, tetapi seorang anak masih menyerah karena tidak mampu membeli buku, maka yang perlu dipertanyakan bukan lagi niat kebijakan, melainkan keberanian untuk memastikan kebijakan itu benar-benar bekerja. @dimas

Tags: AnakBantuanDPRGratisHakKemiskinanNTTPendidikanPerlindunganSiswa

Kamu Melewatkan Ini

Ketika Jadi Camat Berarti Harus Menjawab 21.171 Orang Sekaligus

Ketika Jadi Camat Berarti Harus Menjawab 21.171 Orang Sekaligus

by teguh
Agustus 22, 2026

Suara Agustinus Supratman meninggi di tengah perdebatan soal bantuan. Camat Lamba Leda Utara, Kabupaten Manggarai Timur, itu sedang berhadapan dengan...

Gibran ke NTT, Trauma Korban Jadi Ujian Pascabencana

Gibran ke NTT, Trauma Korban Jadi Ujian Pascabencana

by dimas
Agustus 20, 2026

Gibran bertolak ke NTT untuk meninjau penanganan pascabencana dan memastikan pemulihan warga, termasuk trauma healing dengan melibatkan mahasiswa UI. Tabooo.id:...

AI Makin Pintar, Apakah Murid Makin Jarang Berpikir?

AI Makin Pintar, Apakah Murid Makin Jarang Berpikir?

by dimas
Agustus 20, 2026

AI makin pintar dan membantu proses belajar, tetapi ketergantungan pada jawaban instan bisa memangkas nalar kritis murid. Tabooo.id - Kecerdasan...

Next Post
Iran Siap Negosiasi dengan Trump di Tengah Aksi Militer AS

Iran Siap Negosiasi dengan Trump di Tengah Aksi Militer AS

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id