Kamis, September 17, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Kekosongan Kekuasaan Picu Munculnya Geng Bersenjata di Jalur Gaza

by dimas
Januari 31, 2026
in Global, Reality
A A
Home Reality Global
Share on Facebook
Share on Twitter

Tabooo.id: Global – Kelompok-kelompok bersenjata terus menjamur di Jalur Gaza. Mereka bergerak di antara puing-puing kota, memanfaatkan kekosongan kekuasaan, serta menggunakan senjata yang dilaporkan berasal dari Israel. Target serangan mereka tidak hanya Hamas, tetapi juga warga sipil Palestina.

Menurut laporan media Saudi Asharq Al-Awsat, sejumlah kelompok kriminal kini beroperasi secara terbuka. Salah satu kelompok yang paling dikenal bernama Helles Gang. Kelompok ini memaksa warga Palestina meninggalkan sebuah blok perumahan atas permintaan Israel.

Akibatnya, konflik Gaza kini menampilkan wajah baru. Pertempuran tidak lagi hanya melibatkan Israel dan Hamas, tetapi juga berubah menjadi bentrokan brutal antar-faksi bersenjata di dalam wilayah Palestina sendiri.

Hamas Membalas dengan Penyergapan

Ketegangan meningkat tajam pada Senin (26/1/2026) pagi. Hamas menyergap sejumlah anggota Helles Gang di pinggiran Gaza City. Hamas melancarkan aksi tersebut setelah menerima laporan pembunuhan terhadap anggota mereka dan warga sipil oleh kelompok bersenjata.

Sementara itu, The Independent pada Kamis (29/1/2026) melaporkan bahwa kelompok bersenjata non-negara menembak beberapa warga Palestina saat mereka mendekati garis kuning di wilayah Shejaia dan Tuffah.

Ini Belum Selesai

Warung Mi dan Babi Sukoharjo Dibakar, 12 Saksi Diperiksa Polisi

TPNPB Klaim Tembak Sopir di Wamena-Nduga: Jalur Publik Jadi Zona Ancaman

Selain itu, kekerasan ini terus menambah daftar korban sipil di Gaza. Selama berbulan-bulan, warga setempat hidup di bawah bombardir Israel sekaligus terjebak dalam krisis kemanusiaan berkepanjangan.

Kekosongan Kekuasaan Melahirkan Geng Baru

Melemahnya Hamas akibat serangan udara Israel membuka ruang kosong dalam struktur keamanan Gaza. Selanjutnya, kelompok-kelompok bersenjata baru dengan cepat mengisi ruang tersebut.

Mereka tidak hanya berebut wilayah, tetapi juga memperebutkan pengaruh dan sumber daya. Bahkan, beberapa kelompok secara aktif memburu tokoh-tokoh senior Hamas.

Lebih jauh, laporan Asharq Al-Awsat menyebut sebagian kelompok ini menerima dukungan langsung dari Israel. Dugaan tersebut memperkuat anggapan bahwa Israel tidak hanya bertempur secara terbuka, tetapi juga menjalankan strategi perang bayangan.

Dari Perampasan Bantuan hingga Pasukan Bayangan

Salah satu kelompok yang sempat menarik perhatian Israel dipimpin Yasser Abu Shabab. Ia dikenal karena merampas bantuan kemanusiaan, lalu membentuk kelompok bersenjata di wilayah Gaza yang berada di bawah kendali Israel.

Namun, Hamas kemudian membunuh Abu Shabab. Setelah itu, Ghassan al-Dahini mengambil alih kepemimpinan kelompok tersebut.

Di sisi lain, kelompok yang menamakan diri “Pasukan Rakyat” atau “Kontraterorisme” juga muncul. Mereka secara terbuka melancarkan serangan terhadap Hamas dan faksi lain.

Selain itu, kelompok Shawqi Abu Nseira serta jaringan Housam al-Astal turut mencuat. Kelompok-kelompok ini dituding menunjukkan loyalitas yang kuat kepada Israel.

Pembunuhan Terencana dan Dugaan Keterlibatan Intelijen

Rangkaian pembunuhan terhadap aparat Hamas terus berlanjut. Kelompok Shawqi Abu Nseira menembak mati Ahmed ZamZam, perwira Dinas Keamanan Internal Hamas, di kamp pengungsi Maghazi, Gaza tengah.

Kemudian, pada 12 Januari, kelompok pimpinan Housam al-Astal membunuh kepala investigasi Hamas, Mahmoud al-Astal, di Khan Younis dalam sebuah operasi terencana.

Sumber Asharq Al-Awsat menyebut para anggota geng memperoleh senjata dan pasokan makanan dari Israel. Selain itu, mereka menggunakan pistol berperedam suara dan kamera tubuh saat beraksi.

Lebih lanjut, sumber yang sama menyatakan para pemimpin kelompok tersebut menerima pelatihan dari Mossad dan direkrut oleh dinas keamanan dalam negeri Israel, Shin Bet.

Jurnalis Ikut Menjadi Korban

Kekacauan ini tidak hanya menelan korban dari kalangan militan. Tahun lalu, klan Dughmush membunuh jurnalis Palestina berusia 28 tahun, Saleh Al-Jafarawi, di tengah bentrokan di kawasan Sabra.

Warga kemudian menemukan jenazah Al-Jafarawi di bagian belakang sebuah truk. Saat itu, ia masih mengenakan rompi bertuliskan “press”.

Peristiwa ini menegaskan bahwa Gaza kini berubah menjadi ruang tanpa batas jelas antara medan perang dan kehidupan sipil.

Warga Sipil Paling Terjepit

Di tengah perebutan pengaruh, warga Gaza menanggung beban paling berat. Mereka menghadapi bombardir Israel, kekerasan antar-faksi, kelangkaan pangan, dan runtuhnya sistem keamanan.

Pada akhirnya, konflik di Gaza tidak lagi berbentuk satu garis lurus antara dua pihak. Sebaliknya, konflik ini menjelma menjadi labirin kekerasan dengan banyak aktor dan sedikit aturan.

Ketika senjata terus berpindah tangan, satu pertanyaan terus menggantung siapa yang benar-benar melindungi warga sipil?

Di Gaza hari ini, jawaban atas pertanyaan itu semakin sulit ditemukan. @dimas

Tags: BersenjataGazaHamasIsraelKeamanan NegaraKemanusiaanKonflik DuniaPalestinaperang

Kamu Melewatkan Ini

Roadmap Damai Gaza: Netanyahu Ajukan Syarat Sendiri

Roadmap Damai Gaza: Netanyahu Ajukan Syarat Sendiri

by Tabooo
Agustus 17, 2026

Washington ingin roadmap damai Gaza bergerak. Netanyahu punya syarat berbeda: Hamas harus dilucuti sepenuhnya sebelum pasukan Israel mundur.

Bau yang Dipermasalahkan, Kemiskinan yang Diabaikan

Bau yang Dipermasalahkan, Kemiskinan yang Diabaikan

by dimas
Agustus 4, 2026

Insiden lansia diminta turun dari Transjakarta memicu perdebatan. Di balik persoalan bau, muncul pertanyaan besar tentang empati, kemiskinan, dan hak...

Memuliakan Kekuasaan atau Memuliakan Manusia?

Memuliakan Kekuasaan atau Memuliakan Manusia?

by dimas
Juni 21, 2026

Memuliakan kekuasaan atau memuliakan manusia? Ketika rakyat merasa terabaikan, kontrak sosial mulai retak, kepercayaan publik memudar, dan demokrasi kehilangan fondasi...

Next Post
NU Rayakan Harlah ke-100 di Istora, Ribuan Warga Nahdliyin Hadir

NU Rayakan Harlah ke-100 di Istora, Ribuan Warga Nahdliyin Hadir

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id