Tabooo.id: Entertainment – Pernah nggak sih kamu lagi scroll Instagram, eh tiba-tiba nemu selebritas favorit lagi open to work di LinkedIn? Bukan endorse. Bukan promo film. Tapi benar-benar cari kerja. Itu yang dilakukan Prilly Latuconsina. Yes, Prilly. Aktris papan atas. Pebisnis.
Mantan vampir remaja di Ganteng-Ganteng Serigala. Minggu (25/1), lewat Instagram dan LinkedIn-nya, perempuan kelahiran 1996 ini menyalakan badge #OpenToWork. Banyak orang langsung mikir: lah, dia kan sudah sukses, ngapain cari kerja lagi? Jawabannya simpel dan cukup menohok ego kita semua. “Aku menyalakan badge #OpenToWork bukan karena kekurangan aktivitas, tapi karena lagi ingin belajar hal baru.”
Bukan Kehabisan Job, Tapi Lagi Haus Tantangan
Plot twist: ini bukan cerita artis kehabisan pekerjaan. Ini cerita tentang keluar dari zona nyaman. Selama ini Prilly menekuni industri film dan bisnis manajemen. Sekarang, ia justru ingin menjajal sektor yang benar-benar beda: offline sales experience. Ia ingin bertemu klien langsung, ngobrol tatap muka, mendengar kebutuhan orang, lalu melihat sendiri bagaimana konsumen memakai produk. Singkatnya: turun ke lapangan. Di LinkedIn, Prilly tampil super profesional.
Ia menyusun CV dengan rapi, memilih headline serius, dan menulis bagian “about” dengan tiga kata kunci yang relatable: ingin tahu, disiplin, dan ingin terus berkembang. Ia juga terang-terangan soal minat kerja mulai dari sales specialist, manajer toko, sales representative, sampai brand manager bahkan siap masuk kantor secepatnya. Part time? Freelance? Gas. Kalau ini sinetron, judulnya mungkin: Artis Kaya Raya Masuk Dunia Sales.
Saat Gengsi Kalah oleh Rasa Ingin Tahu
Justru di situ pesan sosialnya muncul. Di era banyak orang mengejar title dan gengsi, Prilly memilih belajar dari bawah. Saat sebagian dari kita masih debat soal “kerja sesuai passion atau cuan”, dia malah bilang: gue mau nambah skill. Ini tamparan halus buat generasi yang gampang bilang burnout tapi ogah eksplorasi. Langkah Prilly juga menegaskan satu hal penting: karier itu bukan garis lurus.
Kita bisa belok. Kita bisa muter. Bahkan kita bisa restart di jalur baru tanpa harus menunggu gagal dulu. Ironisnya, banyak orang baru berani berubah saat sudah mentok. Sementara Prilly justru berubah saat masih di puncak. Dan ini bukan soal pencitraan. Cara ia menyusun profil, memilih bidang kerja, sampai kesiapannya menerima pekerjaan freelance menunjukkan satu hal: dia serius.
Pelajaran Kecil dari Prilly untuk Dunia Kerja Hari Ini
Industri film membentuk Prilly jadi pribadi disiplin dan bertanggung jawab. Sekarang, ia ingin mengenal versi dirinya yang lain versi yang belajar jualan, mendengar klien, dan memahami kebutuhan pasar. Kalau dipikir-pikir, ini juga potret dunia kerja hari ini. Skill lintas bidang makin penting.
Gelar dan popularitas tak lagi jadi kartu sakti. Yang laku sekarang: kemauan belajar. Prilly mungkin sudah punya nama besar. Tapi dia tetap mau jadi murid. Dan itu… langka. Jadi lain kali kalau kamu merasa “terjebak” di pekerjaan yang itu-itu saja, ingat satu hal: bahkan Prilly Latuconsina aja masih eksplor.
Karier bukan soal siapa paling cepat sampai, tapi siapa yang berani terus tumbuh. Nah, kalau kamu sendiri kapan terakhir kali keluar dari zona nyaman? @eko




