Tabooo.id: Global – Kabar ini datang tanpa aba-aba, namun dampaknya langsung terasa. OnePlus, merek ponsel yang dulu dielu-elukan sebagai flagship killer, kini dikabarkan menuju penutupan. Media teknologi Android Headline melaporkan Oppo sebagai pemilik merek telah memulai proses penghentian operasi OnePlus secara bertahap.
Menurut laporan tersebut, OnePlus saat ini hanya menjalankan aktivitas untuk memenuhi komitmen lama. Perusahaan tidak lagi menyiapkan pengembangan produk baru, bahkan membatalkan rencana peluncuran ponsel lipat dan flagship. Dengan kata lain, mesin inovasi OnePlus sudah dimatikan.
Android Headline menghimpun informasi ini dari pegawai aktif dan mantan pegawai OnePlus di China serta sejumlah negara lain. Mereka menggambarkan situasi internal yang memburuk secara cepat.
“Pengiriman anjlok. Kekuatan premium runtuh dalam semalam. Kantor tutup tanpa pengumuman. Kemitraan berakhir. Tim di negara Barat tinggal beberapa orang. Semua keputusan kini ditarik ke pusat,” tulis Android Headline, Rabu (21/01/2026).
Angka Bicara, Pasar Menjawab
Penurunan performa OnePlus bukan sekadar rumor. Data Omdia menunjukkan pengiriman ponsel OnePlus merosot lebih dari 20 persen sepanjang 2024. Volume penjualan hanya bertahan di kisaran 14 juta unit, jauh dari masa kejayaannya.
Sementara itu, di India pasar terbesar OnePlus situasi terlihat lebih keras. Sekitar 4.500 toko berhenti menjual perangkat OnePlus karena margin keuntungan terlalu tipis. Akibatnya, kehadiran OnePlus di etalase ritel menyusut drastis.
Tak berhenti di situ, laporan IDC mencatat pangsa pasar OnePlus di India turun dari 6,1 persen menjadi 3,9 persen. Angka ini menegaskan satu hal: konsumen mulai berpaling, dan OnePlus gagal mempertahankan daya tariknya.
Di tengah banjir ponsel China dengan harga agresif dan fitur serupa, identitas premium terjangkau OnePlus kehilangan tajinya.
Bayang-bayang Strategi Oppo
Di sisi lain, langkah Oppo memperjelas arah bisnisnya. Sebelumnya, Oppo mengumumkan restrukturisasi besar terkait Realme. Meski perusahaan menyebutnya sebagai sinergi, Oppo tetap menutup divisi R&D, memangkas jumlah karyawan, dan menggabungkan sejumlah entitas bisnis.
Langkah itu memunculkan pola yang sulit dibantah. Oppo kini memusatkan sumber daya pada merek yang paling efisien dan menguntungkan. Dalam skema tersebut, OnePlus terlihat semakin tersisih.
Oppo jelas diuntungkan karena bisa menekan biaya dan menyederhanakan portofolio merek. Sebaliknya, karyawan OnePlus, mitra ritel, dan komunitas pengguna setia harus menanggung dampaknya.
Masalah Hukum Menambah Tekanan
Tekanan terhadap OnePlus juga datang dari level pimpinan. Reuters melaporkan CEO OnePlus Pete Lau kini menghadapi persoalan hukum di Taiwan. Kantor Kejaksaan Distrik Shilin bahkan memasukkan namanya dalam daftar buronan.
Jaksa Taiwan menyatakan Lau merekrut sekitar 70 karyawan lokal untuk riset, pengembangan aplikasi, serta pengujian perangkat OnePlus. Kasus ini berkaitan langsung dengan undang-undang Taiwan tentang hubungan dengan China, isu yang sangat sensitif secara politik.
Situasi ini jelas memperberat posisi OnePlus. Saat bisnis melemah, pucuk pimpinan justru terseret konflik hukum lintas negara.
Akhir Sebuah Merek Ikonik?
Jika laporan ini benar maka OnePlus akan bergabung dalam daftar merek teknologi yang tumbang bukan karena kurang ide, melainkan kalah strategi. Oppo mungkin berhasil mengamankan kepentingan bisnisnya. Kompetitor mungkin menikmati ruang pasar yang terbuka. Namun, konsumen kehilangan satu merek yang dulu berani menantang harga mahal flagship.
Pada akhirnya, kisah OnePlus menjadi pengingat di industri teknologi, inovasi saja tidak cukup. Tanpa arah bisnis yang jelas, bahkan pembunuh flagship pun bisa kalah oleh keputusan di ruang rapat. @teguh





