Kamis, Juli 30, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Resident Evil Requiem Siap Teror Gamer, Rilis 27 Februari 2026

by eko
Januari 19, 2026
in Game
A A
Home Culture Game
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Entertainment – Pernah merasa dunia makin menakutkan, namun kita justru makin kebal?
Setiap hari, berita buruk datang bertubi-tubi. Krisis muncul silih berganti. Sementara itu, jempol tetap santai menggeser layar.
Di titik inilah, Resident Evil Requiem muncul dan berbisik pelan: takut itu masih perlu.

Capcom tidak datang dengan janji kosong.
Mereka resmi memperkenalkan Resident Evil Requiem sebagai seri survival horror terbaru yang akan rilis pada 27 Februari 2026.
Lebih lanjut, Capcom membawa game ini ke berbagai platform: PC, PlayStation 5, Xbox Series, hingga Switch 2.
Dengan kata lain, horor kali ini siap menyapa siapa saja.

Judulnya pun langsung menusuk.
Requiem.
Doa untuk yang mati.
Atau justru, doa untuk rasa aman yang perlahan menghilang?

Horor Lama, Luka Baru

Secara garis besar, Resident Evil Requiem tetap memegang DNA klasik seri ini.
Namun, Capcom menyajikannya dengan pendekatan yang lebih matang.
Atmosfer gelap mendominasi. Sumber daya terasa terbatas. Musuh hadir untuk menekan mental, bukan sekadar mengejar pemain.

Alih-alih memanjakan aksi heroik, game ini memaksa pemain berpikir.
Peluru terasa mahal.
Obat jadi rebutan.
Dan setiap keputusan kecil, pada akhirnya, menentukan hidup atau mati.

Ini Belum Selesai

Game yang Menolak Mati: Mortal Kombat Bertahan 30 Tahun

GTA 6 Habiskan Rp 26 Triliun, Ini Game atau Negara Kecil?

Capcom juga memadukan pendekatan sinematik modern ala Resident Evil Village.
Meski begitu, nuansa horor lambat ala seri klasik tetap memegang kendali.
Game ini tidak mengandalkan jumpscare murahan.
Sebaliknya, ia menanamkan rasa cemas yang bertahan lama.

Horor yang Terlalu Dekat dengan Dunia Nyata

Di sinilah Resident Evil Requiem mulai bicara lebih jauh.
Game ini tidak hanya mengisahkan zombie atau virus mutan.
Lebih dari itu, ia menyorot sisi gelap manusia.

Seperti seri-seri sebelumnya, Capcom kembali mengangkat isu keserakahan korporasi dan eksperimen tanpa etika.
Bedanya, tema tersebut kini terasa makin dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Teknologi bergerak cepat. Moral sering tertinggal.

Kita menganggap kebocoran data sebagai hal biasa.
Kita menyebut eksperimen digital sebagai inovasi.
Akibatnya, bencana sering lahir dari keputusan yang terasa “masuk akal”.

Lewat Resident Evil Requiem, Capcom seolah berkata:
monster paling berbahaya jarang datang dari luar.
Sebaliknya, manusia sendiri yang menciptakannya.

Kenapa Kita Masih Suka Takut?

Lalu muncul pertanyaan: kenapa game horor seperti ini tetap diminati?
Jawabannya, barangkali, karena dunia nyata jarang memberi ruang untuk takut dengan jujur.

Kita takut terlihat lemah.
Kita takut dianggap berlebihan.
Sementara itu, Resident Evil Requiem justru mengajak pemain merangkul rasa takut.

Takutlah.
Lari.
Sembunyi.
Bertahan.

Di sanalah katarsis bekerja.
Dan pada akhirnya, rasa takut terasa manusiawi.

Requiem untuk Siapa?

Pada akhirnya, Resident Evil Requiem bukan sekadar kisah dunia yang runtuh.
Game ini mengajak kita bercermin pada kesalahan lama.

Maka, saat game ini rilis Februari 2026 nanti, pertanyaannya bukan cuma “siap main?”.
Melainkan juga: masih berani merasa takut? @eko

Kamu Melewatkan Ini

Negara Sudah Punya Direktur AI. Semoga Birokrasinya Tetap Tidak Loading

Negara Sudah Punya Direktur AI. Semoga Birokrasinya Tetap Tidak Loading

by teguh
Juli 30, 2026

Setelah Negara punya Direktur AI, Indonesia akhirnya memasuki babak baru dalam perjalanan transformasi digital nasional. Menteri Komunikasi dan Digital melantik...

Indonesia Punya Direktur AI. Apakah Kita Siap Mengelola Revolusi Teknologi Ini?

Indonesia Punya Direktur AI. Apakah Kita Siap Mengelola Revolusi Teknologi Ini?

by teguh
Juli 30, 2026

Bertahun-tahun Indonesia berbicara tentang transformasi digital. Kita membangun pusat data, melatih talenta digital, dan berlomba mengadopsi kecerdasan buatan (AI). Namun...

Kopdes Merah Putih Siap Salurkan Bansos, Efektif atau Berisiko?

Kopdes Merah Putih Siap Salurkan Bansos, Efektif atau Berisiko?

by dimas
Juli 29, 2026

Koperasi Desa Merah Putih salurkan bansos menjadi skema baru yang tengah disiapkan pemerintah melalui 900 koperasi percontohan. Langkah ini diharapkan...

Next Post
Demo Iran Telan Ribuan Korban, Khamenei Tuduh AS dan Israel Sebagai Dalang

Ketegangan Iran-AS Memuncak, Teheran Ancam Balasan Jika Khamenei Diserang

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id