Minggu, Agustus 23, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Saat Kritik Disebut Penghinaan, Republik Masuk Ruang Abu-Abu

by dimas
Januari 17, 2026
in Edge
A A
Home Edge
Share on Facebook
Share on Twitter

Tabooo.id: Edge – Bayangkan sebuah republik yang lahir dari pemilu, bukan dari garis darah. Presidennya dipilih lewat bilik suara. Wakil presidennya menang lewat perhitungan angka. Karena itu, keduanya seharusnya berdiri di atas mandat rakyat setidaknya begitu bunyi teori demokrasi.

Namun dalam praktiknya, kehormatan kekuasaan di republik ini ternyata tidak setangguh legitimasi. Ia rapuh, Mudah retak Bahkan, dalam banyak kasus, jauh lebih lemah dari sinyal Wi-Fi di gedung parlemen.

Di titik itulah Pasal 218 KUHP baru muncul. Tidak dengan gembar-gembor, melainkan lewat jalur formal yang rapi dan sah. Intinya sederhana, tetapi dampaknya panjang siapa pun yang “menyerang kehormatan” Presiden atau Wakil Presiden di muka umum dapat berhadapan dengan pidana.

Masalahnya, bukan pada ancamannya. Justru persoalan utamanya terletak pada kata “menyerang”.

Apa yang dimaksud menyerang? Apakah kritik kebijakan? Sindiran halus? Meme politik? Atau sekadar unggahan yang terlalu jujur?

Ini Belum Selesai

Korporasi Diduga Main Api, Prabowo: Tindak Tegas Kalau Terbukti!

Pengungsi Gempa NTT Makan Nasi Campur Kopi, Negara ke Mana?

Jawabannya lentur. Ia bisa dibahas santai sambil ngopi. Namun, pada saat yang sama, ia juga bisa dibahas serius sambil duduk berhadap-hadapan dengan penyidik.

Di tengah absurditas itulah, 12 mahasiswa melangkah ke Mahkamah Konstitusi. Mereka tidak datang dengan spanduk atau orasi. Sebaliknya, mereka membawa berkas, Argumen hukum, Logika konstitusi, Tenang, rapi, dan ironisnya sangat masuk akal.

Ketika Republik Mulai Terasa Kerajaan

Dalam dokumen permohonan mereka, para mahasiswa itu mengajukan pertanyaan mendasar yang seharusnya lazim di negara demokrasi, tetapi justru terasa berani, mengapa Presiden dan Wakil Presiden mendapat perlindungan pidana istimewa?

Bukankah republik berdiri di atas prinsip kesetaraan hukum?

Menurut para pemohon, Pasal 218 ayat (1) dan (2) KUHP baru menciptakan privilese hukum bagi jabatan publik yang semestinya paling terbuka terhadap kritik. Presiden dipilih rakyat. Wakil presiden dipilih rakyat. Akan tetapi, ketika rakyat menyampaikan kritik, ancaman pidana justru menunggu di ujung kalimat.

Sementara itu, jika warga biasa saling menghina, hukum menempuh jalur berbeda. Perlakuannya pun tidak sama.

Pesannya menjadi terasa janggal, tetapi sekaligus gamblang kritik boleh, asal tidak terlalu jujur.

Secara konstitusional, para pemohon menilai pasal ini bertabrakan langsung dengan Pasal 27 ayat (1) UUD 1945 tentang persamaan di hadapan hukum. Dalam bahasa internet yang lebih lugas kok kamu spesial banget, sih?

Kritik atau Penghinaan, Tergantung yang Membaca

Masalah belum berhenti di sana.

Frasa “menyerang kehormatan atau harkat dan martabat” dalam pasal ini bersifat elastis. Ia bisa memanjang. Ia bisa menyempit. Bahkan, ia bisa berubah makna tergantung siapa yang membaca atau siapa yang merasa tersinggung.

Di satu sisi, kritik kebijakan bisa terbaca sebagai evaluasi. Namun di sisi lain, sindiran bisa dianggap penghinaan. Bahkan satire yang berniat mengoreksi bisa ditarik sebagai serangan martabat.

Karena itu, para pemohon menilai pasal ini melanggar asas lex certa. Hukum seharusnya jelas dan tegas, bukan abu-abu seperti status WhatsApp mantan bikin bertanya-tanya, ini rindu atau sekadar nostalgia?

Akibat ketidakjelasan tersebut, ruang abu-abu hukum pun terbuka lebar. Di ruang inilah kritik bisa sewaktu-waktu berubah menjadi perkara pidana. Hari ini seseorang berdiskusi publik. Namun esok harinya, ia mulai mencari tahu “pidana kategori IV itu berapa lama, ya?”

Negara yang Membuat Warganya Menahan Napas

Dalam istilah akademik, kondisi ini dikenal sebagai chilling effect. Sementara dalam bahasa sehari-hari, efeknya sederhana orang jadi malas bicara.

Perwakilan pemohon, Tandya Adyaksa, menyebut pasal ini menumbuhkan efek gentar. Warga mulai menghitung kata sebelum berbicara. Mereka menyunting ulang pikiran sebelum menulis. Kritik pun akhirnya disimpan di kepala, bukan di ruang publik.

Akibatnya, ruang diskusi yang seharusnya ramai perlahan menjadi sunyi.
Bukan karena semua setuju.
Melainkan karena semua waspada.

Di titik inilah ironi demokrasi bekerja paling rapi kebebasan tetap ada, tetapi rasanya penuh risiko.

Pasal Lama dengan Wajah Baru

Ironi terbesar justru datang dari sejarah.

Pada 2006, Mahkamah Konstitusi telah membatalkan pasal penghinaan Presiden dalam KUHP lama. Alasannya tegas pasal tersebut bertentangan dengan konstitusi dan prinsip demokrasi.

Kini, pasal itu muncul kembali, Redaksinya berubah, Kemasan hukumnya diperbarui, Namun substansinya tetap sama.

Para pemohon menyebut kondisi ini sebagai penghidupan kembali norma yang sebelumnya telah dinyatakan inkonstitusional. Dalam bahasa pop culture pasal zombie. Sudah dikubur, tetapi bangkit lagi.

Dan seperti zombie pada umumnya, ia tidak pernah datang sendirian. Ia selalu membawa kekacauan.

Negara Kuat atau Negara Mudah Tersinggung?

Melalui petitumnya, para mahasiswa meminta MK menyatakan Pasal 218 ayat (1) dan (2) KUHP baru bertentangan dengan UUD 1945 dan tidak memiliki kekuatan hukum mengikat.

Ini bukan soal membenci presiden.
Ini juga bukan soal ingin bebas menghina.

Sebaliknya, ini soal batas antara kritik dan pidana.

Sebab negara yang kuat tidak runtuh oleh kritik.
Yang mudah runtuh biasanya justru yang terlalu cepat merasa tersinggung.

Republik, Tapi Jangan Keras-Keras

Di atas kertas, Indonesia adalah republik.
Di undang-undang, presiden adalah pejabat publik.
Namun dalam praktik hukum, kritik kerap berubah menjadi masalah.

Karena itu, pertanyaannya menjadi sederhana, sekaligus pedas:
jika kritik membuat negara goyah, apakah yang rapuh itu warganya atau sistemnya?

Dalam republik yang sehat, presiden seharusnya kebal kritik karena legitimasi rakyat.
Bukan kebal hukum karena pasal pidana.

Namun begitulah kenyataannya.
Di negeri ini, kadang yang paling sensitif bukan rakyatnya, melainkan kehormatan kekuasaan yang terlalu mudah merasa diserang. @dimas

Tags: BerpendapatDemokrasiKebebasanKUHPMahkamah KonstitusiNasionalNegaraPolitik Indonesia

Kamu Melewatkan Ini

81 Tahun Kemerdekaan Indonesia, Merdeka untuk Siapa?

81 Tahun Kemerdekaan Indonesia, Merdeka untuk Siapa?

by Tabooo
Agustus 20, 2026

Sehari setelah perayaan HUT ke-81 RI, mahasiswa turun ke jalan membawa delapan tuntutan. Di sana, makna kemerdekaan kembali dipertanyakan lewat...

Kartu Kredit Indonesia Meluncur, MDR QRIS 0% Diperluas

Kartu Kredit Indonesia Meluncur, MDR QRIS 0% Diperluas

by Tabooo
Agustus 18, 2026

Excerpt: Kartu Kredit Indonesia resmi meluncur. Bersamaan dengan itu, BI memperluas MDR QRIS 0% mulai 1 Oktober 2026 untuk transaksi...

RUU Perampasan Aset Mulai Ngebut. Bagaimana Realisasinya?

RUU Perampasan Aset Mulai Ngebut. Bagaimana Realisasinya?

by Tabooo
Agustus 18, 2026

Prabowo meminta RUU Perampasan Aset dipercepat. DPR masih menjaring masukan publik. Tantangannya bukan cuma pengesahan, tetapi memastikan aset hasil kejahatan...

Next Post
Larantuka: Jejak Kerajaan Katolik di Timur Nusantara

Larantuka: Jejak Kerajaan Katolik di Timur Nusantara

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id