Selasa, Oktober 20, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Larantuka: Jejak Kerajaan Katolik di Timur Nusantara

by dimas
Januari 14, 2026
in Vibes
A A
Home Vibes
Share on Facebook
Share on Twitter

Tabooo.id: Vibes – Gempa memang mengguncang tanah. Namun di Larantuka, sejarah jauh lebih dulu mengguncang identitas. Di kota kecil di ujung timur Flores ini, gereja berdiri sebagai penanda arah bukan hanya bagi iman, tetapi juga bagi ingatan kolektif. Salib, lonceng, dan prosesi Semana Santa kerap memenuhi linimasa visual yang tenang, religius, dan tampak ajeg. Namun di balik citra sakral itu, Larantuka menyimpan kisah kekuasaan yang retak, raja yang disingkirkan, dan sebuah bedil yang menyalak karena konflik domestik.

Larantuka bukan sekadar kota Katolik. Ia pernah menjadi kerajaan Kristen, salah satu yang paling unik di Indonesia. Seperti banyak kerajaan Nusantara, ceritanya tidak pernah lurus. Sejarah memaksanya berbelok, tersandung, lalu tunduk pada arus global yang datang bersama kapal-kapal Eropa.

Saat Salib dan Mahkota Masuk Bersamaan

Sejarah Larantuka tumbuh seiring kedatangan Portugis. Mereka tidak hanya membawa komoditas dagang, tetapi juga iman. Katolik berkembang menjadi identitas sosial dan politik, bukan sekadar keyakinan personal.

Namun kekuasaan selalu bergerak. Pada 20 April 1859, Portugis menyerahkan Flores termasuk Larantuka kepada Belanda. Catatan Sejarah Perlawanan Terhadap Imperialisme dan Kolonialisme di Nusa Tenggara Timur menandai peristiwa itu sebagai titik balik penting. Salib tetap berdiri, tetapi kendali politik berpindah tangan.

Belanda kemudian mengatur wilayah ini lewat administrasi, kontrak, dan arsip. Mereka memandang raja-raja lokal sebagai bagian dari sistem, bukan sebagai penguasa sejajar.

Ini Belum Selesai

De Tjolomadoe: Dari Pabrik Gula ke Ruang Sejarah

Pameran Keris Keluar dari Museum, Solo Mengajak Wisatawan Menyentuh Ingatan

Raja yang Dipilih Rakyat, Ditolak Kolonial

Di tengah perubahan itu, Don Lorenzo Dias Viera Godinho dikenal sebagai Don Lorenzo II memimpin Kerajaan Larantuka. Rakyat mengakuinya sebagai raja. Namun pemerintah kolonial menolak memberinya pengesahan resmi.

Karel Steenbrink dalam Catholics in Indonesia, 1808-1942 mencatat sikap Belanda itu dengan jelas. Don Lorenzo II memegang legitimasi kultural, tetapi kehilangan pengakuan administratif. Ia berdaulat di mata rakyat, namun lemah di hadapan kolonial.

Di lingkar kekuasaannya, konflik justru muncul dari keluarga sendiri. Louis Balantran de Rosario, sepupunya, menjabat sebagai wakil raja sejak muda. Jabatan itu memberi status tinggi, tetapi tidak menjamin kedewasaan.

Bedil Menyalak, Kekuasaan Retak

Konflik rumah tangga Louis berubah menjadi tragedi. Sebuah pertengkaran berujung pada letusan bedil. Peluru itu menewaskan istrinya.

Koran Algemeene Handelsblad edisi 12 September 1904 mencatat peristiwa tersebut secara rinci. Pemerintah kolonial bergerak cepat. Mereka menghukum Louis dan mengasingkannya ke Kupang.

Statusnya pun runtuh. Dari wakil raja, ia berubah menjadi tahanan. Dari bangsawan, ia menjadi orang buangan.

Namun hidup tidak berhenti. Setelah menyelesaikan hukuman, Louis kembali ke Larantuka. Ia tidak lagi mengejar kuasa. Ia membuka jasa jahit. Para pejabat kolonial justru menjadi pelanggannya.

Sejarah, ironisnya, belum selesai mempermainkannya.

Raja Ditangkap, Tukang Jahit Dinaikkan Takhta

Pada pertengahan 1904, Belanda menuduh Don Lorenzo II sebagai pemicu kerusuhan. Mereka lalu menangkapnya dan mengirimnya ke Kupang. Tak lama kemudian, pemerintah kolonial membuangnya ke Yogyakarta.

Dalam laporan Het Vaderland tanggal 29 Agustus 1904, Residen Timor menyebut pengiriman Don Lorenzo II sebagai tahanan dengan nada administratif seolah memindahkan berkas, bukan manusia.

Penangkapan itu menciptakan kekosongan kekuasaan. Louis pun menghentikan pekerjaannya sebagai tukang jahit. Pemerintah kolonial melantiknya sebagai raja dengan nama Don Louis.

Namun mahkota itu datang bersama kontrak. Seperti raja-raja lain di Hindia Belanda, Don Louis menandatangani Korte Verklaring. Melalui kontrak pendek itu, Belanda memastikan satu hal: kekuasaan sejati tetap berada di tangan mereka.

Takhta yang Cepat Berganti

Don Louis tidak lama memerintah. Ia wafat pada 1906. Don Lorenzo II menyusul meninggal di pengasingan di Yogyakarta pada 1910. Pengganti berikutnya, Joan Balantran de Rosario, hanya bertahan hingga 1912.

Setelah itu, Johannes Servus Dias Viera Godinho putra Don Lorenzo II naik takhta pada usia 21 tahun. Ia menerima pendidikan Kristen dan pernah bersekolah di Surabaya.

Namun kolonialisme selalu membawa standar moralnya sendiri. Dalam Het Vaderland edisi 10 Februari 1915, pejabat Belanda mengeluhkan perilaku Don Servus. Mereka menyebutnya pemabuk, pencari hiburan, dan tidak berprinsip. Mereka merasa heran melihat raja muda yang dididik misi Kristen tetapi hidup dekat dengan dunia maksiat.

Kolonialisme bukan hanya mengatur wilayah, tetapi juga menghakimi karakter.

Refleksi Tabooo: Iman yang Bertahan, Kuasa yang Bergeser

Larantuka hari ini dikenal lewat Semana Santa, doa, dan prosesi sakral. Namun sejarahnya menunjukkan bahwa iman dan kekuasaan jarang berjalan seiring.

Kerajaan Kristen ini tidak runtuh oleh perang besar. Kontrak, pengasingan, dan administrasi kolonial justru menggerusnya perlahan. Raja-raja silih berganti. Mahkota berpindah tangan. Namun kendali tetap berada di luar.

Di tengah gempa dan bencana hari ini, Larantuka mengingatkan kita bahwa identitas budaya lahir dari sejarah panjang yang tidak selalu ramah. Ia tumbuh dari luka, kompromi, dan ketegangan.

Penutup

Larantuka mengajarkan satu hal penting: sejarah jarang ditulis oleh pahlawan. Ia sering ditulis oleh residen kolonial, kontrak pendek, dan kolom koran.

Di antara salib, mahkota, dan bedil yang pernah menyalak, kota kecil ini terus berdiri menyimpan ingatan, sambil berharap masa depan tidak mengulang luka yang sama. @dimas

Tags: BudayaKolonialNTTNusantaraSejarah

Kamu Melewatkan Ini

JABFest 2026: Seni Melawan Pendangkalan, Buku Menjaga Ingatan

JABFest 2026: Seni Melawan Pendangkalan, Buku Menjaga Ingatan

by dimas
Oktober 13, 2026

JABFest 2026 di Yogyakarta menghadirkan seni, buku, film, dan diskusi untuk melawan pendangkalan berpikir serta menjaga ingatan kolektif. Tabooo.id: Yogyakarta...

Program Bantuan Smart TV Sudah Sampai, Listriknya Kapan?

Program Bantuan Smart TV Sudah Sampai, Listriknya Kapan?

by teguh
September 14, 2026

Ada satu pemandangan yang membuat program digitalisasi pendidikan terasa seperti sedang berjalan dengan dua kecepatan. Di SD Negeri Mboeng, Manggarai...

Smart TV di Sekolah, Listrik Masih Jadi Soal: Negara Sedang Membangun Apa?

Smart TV di Sekolah, Listrik, Internet Masih Jadi Soal: Negara Sedang Membangun Apa?

by teguh
September 12, 2026

Layar interaktif kini masuk ke ruang kelas hingga pelosok Nusa Tenggara Timur dengan hadirnya bantuan Smart TV di sekolah melalui...

Next Post
Konsep Otomatis

Panglima Kopassus Anugerahkan Sangkur Perak kepada 8 Prajurit Berprestasi

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id