Tabooo.id: Vibes – Gempa memang mengguncang tanah. Namun di Larantuka, sejarah jauh lebih dulu mengguncang identitas. Di kota kecil di ujung timur Flores ini, gereja berdiri sebagai penanda arah bukan hanya bagi iman, tetapi juga bagi ingatan kolektif. Salib, lonceng, dan prosesi Semana Santa kerap memenuhi linimasa visual yang tenang, religius, dan tampak ajeg. Namun di balik citra sakral itu, Larantuka menyimpan kisah kekuasaan yang retak, raja yang disingkirkan, dan sebuah bedil yang menyalak karena konflik domestik.
Larantuka bukan sekadar kota Katolik. Ia pernah menjadi kerajaan Kristen, salah satu yang paling unik di Indonesia. Seperti banyak kerajaan Nusantara, ceritanya tidak pernah lurus. Sejarah memaksanya berbelok, tersandung, lalu tunduk pada arus global yang datang bersama kapal-kapal Eropa.
Saat Salib dan Mahkota Masuk Bersamaan
Sejarah Larantuka tumbuh seiring kedatangan Portugis. Mereka tidak hanya membawa komoditas dagang, tetapi juga iman. Katolik berkembang menjadi identitas sosial dan politik, bukan sekadar keyakinan personal.
Namun kekuasaan selalu bergerak. Pada 20 April 1859, Portugis menyerahkan Flores termasuk Larantuka kepada Belanda. Catatan Sejarah Perlawanan Terhadap Imperialisme dan Kolonialisme di Nusa Tenggara Timur menandai peristiwa itu sebagai titik balik penting. Salib tetap berdiri, tetapi kendali politik berpindah tangan.
Belanda kemudian mengatur wilayah ini lewat administrasi, kontrak, dan arsip. Mereka memandang raja-raja lokal sebagai bagian dari sistem, bukan sebagai penguasa sejajar.
Raja yang Dipilih Rakyat, Ditolak Kolonial
Di tengah perubahan itu, Don Lorenzo Dias Viera Godinho dikenal sebagai Don Lorenzo II memimpin Kerajaan Larantuka. Rakyat mengakuinya sebagai raja. Namun pemerintah kolonial menolak memberinya pengesahan resmi.
Karel Steenbrink dalam Catholics in Indonesia, 1808-1942 mencatat sikap Belanda itu dengan jelas. Don Lorenzo II memegang legitimasi kultural, tetapi kehilangan pengakuan administratif. Ia berdaulat di mata rakyat, namun lemah di hadapan kolonial.
Di lingkar kekuasaannya, konflik justru muncul dari keluarga sendiri. Louis Balantran de Rosario, sepupunya, menjabat sebagai wakil raja sejak muda. Jabatan itu memberi status tinggi, tetapi tidak menjamin kedewasaan.
Bedil Menyalak, Kekuasaan Retak
Konflik rumah tangga Louis berubah menjadi tragedi. Sebuah pertengkaran berujung pada letusan bedil. Peluru itu menewaskan istrinya.
Koran Algemeene Handelsblad edisi 12 September 1904 mencatat peristiwa tersebut secara rinci. Pemerintah kolonial bergerak cepat. Mereka menghukum Louis dan mengasingkannya ke Kupang.
Statusnya pun runtuh. Dari wakil raja, ia berubah menjadi tahanan. Dari bangsawan, ia menjadi orang buangan.
Namun hidup tidak berhenti. Setelah menyelesaikan hukuman, Louis kembali ke Larantuka. Ia tidak lagi mengejar kuasa. Ia membuka jasa jahit. Para pejabat kolonial justru menjadi pelanggannya.
Sejarah, ironisnya, belum selesai mempermainkannya.
Raja Ditangkap, Tukang Jahit Dinaikkan Takhta
Pada pertengahan 1904, Belanda menuduh Don Lorenzo II sebagai pemicu kerusuhan. Mereka lalu menangkapnya dan mengirimnya ke Kupang. Tak lama kemudian, pemerintah kolonial membuangnya ke Yogyakarta.
Dalam laporan Het Vaderland tanggal 29 Agustus 1904, Residen Timor menyebut pengiriman Don Lorenzo II sebagai tahanan dengan nada administratif seolah memindahkan berkas, bukan manusia.
Penangkapan itu menciptakan kekosongan kekuasaan. Louis pun menghentikan pekerjaannya sebagai tukang jahit. Pemerintah kolonial melantiknya sebagai raja dengan nama Don Louis.
Namun mahkota itu datang bersama kontrak. Seperti raja-raja lain di Hindia Belanda, Don Louis menandatangani Korte Verklaring. Melalui kontrak pendek itu, Belanda memastikan satu hal: kekuasaan sejati tetap berada di tangan mereka.
Takhta yang Cepat Berganti
Don Louis tidak lama memerintah. Ia wafat pada 1906. Don Lorenzo II menyusul meninggal di pengasingan di Yogyakarta pada 1910. Pengganti berikutnya, Joan Balantran de Rosario, hanya bertahan hingga 1912.
Setelah itu, Johannes Servus Dias Viera Godinho putra Don Lorenzo II naik takhta pada usia 21 tahun. Ia menerima pendidikan Kristen dan pernah bersekolah di Surabaya.
Namun kolonialisme selalu membawa standar moralnya sendiri. Dalam Het Vaderland edisi 10 Februari 1915, pejabat Belanda mengeluhkan perilaku Don Servus. Mereka menyebutnya pemabuk, pencari hiburan, dan tidak berprinsip. Mereka merasa heran melihat raja muda yang dididik misi Kristen tetapi hidup dekat dengan dunia maksiat.
Kolonialisme bukan hanya mengatur wilayah, tetapi juga menghakimi karakter.
Refleksi Tabooo: Iman yang Bertahan, Kuasa yang Bergeser
Larantuka hari ini dikenal lewat Semana Santa, doa, dan prosesi sakral. Namun sejarahnya menunjukkan bahwa iman dan kekuasaan jarang berjalan seiring.
Kerajaan Kristen ini tidak runtuh oleh perang besar. Kontrak, pengasingan, dan administrasi kolonial justru menggerusnya perlahan. Raja-raja silih berganti. Mahkota berpindah tangan. Namun kendali tetap berada di luar.
Di tengah gempa dan bencana hari ini, Larantuka mengingatkan kita bahwa identitas budaya lahir dari sejarah panjang yang tidak selalu ramah. Ia tumbuh dari luka, kompromi, dan ketegangan.
Penutup
Larantuka mengajarkan satu hal penting: sejarah jarang ditulis oleh pahlawan. Ia sering ditulis oleh residen kolonial, kontrak pendek, dan kolom koran.
Di antara salib, mahkota, dan bedil yang pernah menyalak, kota kecil ini terus berdiri menyimpan ingatan, sambil berharap masa depan tidak mengulang luka yang sama. @dimas





