Tabooo.id: Regional – Aktivitas vulkanik Gunung Ile Lewotolok di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, kembali menunjukkan intensitas tinggi. Dalam satu hari pengamatan, gunung api ini tercatat meletus sebanyak 341 kali, disertai suara gemuruh yang terdengar hingga ke permukiman warga.
Petugas Pos Pengamat Gunung Api (PGA) Ile Lewotolok, Stanislaus Ara Kian, menyampaikan bahwa ratusan letusan tersebut terekam sepanjang Selasa (13/1/2026). Aktivitas erupsi muncul berulang dengan amplitudo berkisar 20,4 hingga 31,4 milimeter dan durasi antara 30 sampai 198 detik.
Kolom Abu Rendah, Frekuensi Letusan Tinggi
Stanislaus menjelaskan, setiap letusan memuntahkan kolom abu setinggi 200 hingga 350 meter dari puncak kawah. Kolom abu tampak berwarna putih hingga kelabu dan bergerak condong ke arah timur mengikuti arah angin.
Meski kolom abu tergolong rendah, intensitas letusan yang terus berulang menunjukkan bahwa tekanan magma di dalam tubuh gunung masih aktif. Gemuruh yang menyertai erupsi terdengar lemah, namun muncul secara konsisten, terutama pada jam-jam tertentu.
Kondisi ini, menurut Stanislaus, menuntut kewaspadaan ekstra, terutama bagi warga yang bermukim di lereng gunung.
Aktivitas Seismik Mengiringi Erupsi
Selain letusan, aktivitas seismik Gunung Ile Lewotolok juga mengalami peningkatan signifikan. Pada hari yang sama, PGA mencatat 323 kali gempa embusan serta 72 kali tremor non-harmonik.
Rangkaian gempa ini menandakan pergerakan fluida dan gas vulkanik yang masih intens di bawah permukaan. Aktivitas tersebut menjadi indikasi bahwa fase erupsi belum sepenuhnya mereda.
Petugas menegaskan bahwa suara dentuman atau gemuruh yang terdengar sewaktu-waktu merupakan karakteristik alamiah gunung api aktif. Warga diminta tidak panik, namun tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap perubahan kondisi.
Status Waspada dan Dampak bagi Warga
Hingga saat ini, Gunung Ile Lewotolok masih berada pada Status Level II (Waspada). Otoritas vulkanologi mengimbau masyarakat dan wisatawan untuk tidak melakukan aktivitas dalam radius 2 hingga 2,5 kilometer dari kawah.
Kelompok yang paling terdampak ialah warga desa di sekitar lereng gunung, nelayan pesisir yang bergantung pada kondisi alam, serta petani yang berisiko kehilangan hasil panen jika abu vulkanik menyebar lebih luas akibat perubahan arah angin.
Pemerintah daerah bersama aparat setempat terus memantau perkembangan aktivitas gunung sembari menyiapkan langkah mitigasi jika intensitas erupsi meningkat.
Di Lembata, hidup berdampingan dengan gunung api sudah menjadi bagian dari keseharian. Namun ketika alam mulai berbicara lebih keras dari biasanya, kewaspadaan bukan lagi pilihan melainkan kebutuhan agar peringatan kecil hari ini tidak berubah menjadi bencana besar esok hari. @dimas




