Tabooo.id: Global – Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali memantik ketegangan global. Di tengah gelombang demonstrasi yang kian meluas di Iran, Trump secara terbuka menyatakan kesiapan Washington untuk membantu para demonstran. Pernyataan itu ia sampaikan melalui media sosial Truth Social, tanpa merinci bentuk bantuan yang dimaksud.
“Iran sedang mengincar kebebasan, mungkin belum pernah sebelumnya. Amerika Serikat siap membantu,” tulis Trump.
Ucapan tersebut tidak berdiri sendiri. Beberapa hari sebelumnya, Trump lebih dulu melontarkan ancaman keras Amerika Serikat akan menyerang jika pemerintah Iran membunuh para peserta demonstrasi. Kombinasi dukungan dan ancaman ini langsung mengerek eskalasi politik, bukan hanya di Teheran, tetapi juga di panggung internasional.
Bagi masyarakat Iran, pernyataan Trump berpotensi menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi, dukungan internasional memberi harapan. Namun di sisi lain, ia juga berisiko memperkuat narasi rezim bahwa protes digerakkan oleh campur tangan asing.
Protes Meluas, Internet Dipadamkan
Demonstrasi yang meletus sejak awal Januari kini telah berlangsung lebih dari dua pekan dan menyebar ke 31 provinsi di Iran. Aksi tersebut tidak lagi terpusat di kota-kota besar, tetapi merembet hingga wilayah pinggiran.
Di tengah meluasnya protes, pemerintah Iran memilih langkah represif. Lembaga pemantau internet NetBlocks melaporkan adanya pemadaman internet nasional selama 24 jam terakhir. Menurut NetBlocks, kebijakan ini melanggar hak warga negara sekaligus menutup akses informasi terkait kekerasan aparat.
Amnesty International memperkuat tudingan tersebut. Organisasi HAM itu menilai pemadaman internet bertujuan menyembunyikan skala pelanggaran hak asasi manusia dan kejahatan berat yang terjadi selama penanganan demonstrasi.
Dampaknya langsung dirasakan warga sipil. Akses komunikasi terputus, aktivitas ekonomi digital lumpuh, dan informasi hanya bergerak lewat jalur-jalur terbatas. Dalam situasi krisis, internet bukan sekadar alat komunikasi, melainkan urat nadi kehidupan sehari-hari.
Korban Berjatuhan, Tekanan Internasional Meningkat
Kantor Berita Hak Asasi Manusia yang berbasis di Amerika Serikat mencatat sedikitnya 65 orang tewas sejak gelombang protes bergulir. Angka ini berpotensi bertambah seiring ketatnya pembatasan informasi di lapangan.
Dari Washington, senator Partai Republik Lindsey Graham ikut mengangkat suara. Ia menyebut penderitaan rakyat Iran sebagai “mimpi buruk panjang” yang, menurutnya, akan segera berakhir. Graham bahkan secara terbuka mengaitkan slogan Trump “Make Iran Great Again” dengan kemenangan demonstran atas kepemimpinan ulama.
Pernyataan ini semakin menegaskan bahwa isu Iran telah berubah dari persoalan domestik menjadi arena pertarungan narasi politik global.
Khamenei Membalas, Ancaman Hukuman Mati Menguat
Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei merespons keras. Dalam komentar publik pertamanya sejak protes meningkat, ia menyebut para demonstran sebagai perusak dan penyabotase. Ia juga menuduh Trump berada di balik kekacauan yang terjadi.
Khamenei bahkan menuding tangan Trump “berlumuran darah” ribuan warga Iran, merujuk pada konflik bersenjata dengan Israel pada Juni lalu yang didukung Amerika Serikat. Ia menegaskan bahwa Republik Islam tidak akan mundur dan meramalkan Trump akan bernasib sama seperti rezim Shah yang tumbang pada Revolusi 1979.
Nada ancaman semakin nyata ketika Jaksa Agung Iran Mohammad Movahedi Azad memperingatkan para demonstran akan dijerat dakwaan moharebeh tuduhan sebagai “musuh Tuhan” yang dapat berujung hukuman mati. Ancaman serupa juga datang dari Jaksa Teheran Ali Salehi.
Rakyat di Tengah Tarikan Dua Kekuatan
Bagi warga yang turun ke jalan, risiko kini bukan lagi penangkapan semata, melainkan hukuman paling ekstrem dalam sistem hukum Iran.
Di lapangan, masyarakat Iran menjadi pihak yang paling terdampak. Mereka terjepit di antara represi negara dan manuver politik global. Dukungan Trump bisa memberi tekanan internasional, tetapi juga memberi alasan bagi rezim untuk memperkeras tindakan.
Sementara itu, ekonomi rakyat tercekik. Pemadaman internet dan instabilitas keamanan menghantam perdagangan, layanan publik, hingga akses kebutuhan dasar. Protes yang berangkat dari tuntutan kebebasan kini berhadapan dengan risiko kematian.
Di tengah klaim bantuan dan ancaman balasan, satu pertanyaan tetap menggantung apakah dukungan asing benar-benar akan menyelamatkan rakyat Iran, atau justru mempercepat harga mahal yang harus mereka bayar? @dimas




