Kamis, Juli 30, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Di Tengah Darah Demo Iran, Trump Nyatakan Siap Membantu Demonstran

by dimas
Januari 12, 2026
in Global, Reality
A A
Home Reality Global
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Global – Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali memantik ketegangan global. Di tengah gelombang demonstrasi yang kian meluas di Iran, Trump secara terbuka menyatakan kesiapan Washington untuk membantu para demonstran. Pernyataan itu ia sampaikan melalui media sosial Truth Social, tanpa merinci bentuk bantuan yang dimaksud.

“Iran sedang mengincar kebebasan, mungkin belum pernah sebelumnya. Amerika Serikat siap membantu,” tulis Trump.

Ucapan tersebut tidak berdiri sendiri. Beberapa hari sebelumnya, Trump lebih dulu melontarkan ancaman keras Amerika Serikat akan menyerang jika pemerintah Iran membunuh para peserta demonstrasi. Kombinasi dukungan dan ancaman ini langsung mengerek eskalasi politik, bukan hanya di Teheran, tetapi juga di panggung internasional.

Bagi masyarakat Iran, pernyataan Trump berpotensi menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi, dukungan internasional memberi harapan. Namun di sisi lain, ia juga berisiko memperkuat narasi rezim bahwa protes digerakkan oleh campur tangan asing.

Protes Meluas, Internet Dipadamkan

Demonstrasi yang meletus sejak awal Januari kini telah berlangsung lebih dari dua pekan dan menyebar ke 31 provinsi di Iran. Aksi tersebut tidak lagi terpusat di kota-kota besar, tetapi merembet hingga wilayah pinggiran.

Ini Belum Selesai

Haul Ki Ageng Tarub: Perkuat Budaya dan Wisata Religi

OTT Bupati Pemalang, KPK Kembali Bongkar Korupsi Kepala Daerah

Di tengah meluasnya protes, pemerintah Iran memilih langkah represif. Lembaga pemantau internet NetBlocks melaporkan adanya pemadaman internet nasional selama 24 jam terakhir. Menurut NetBlocks, kebijakan ini melanggar hak warga negara sekaligus menutup akses informasi terkait kekerasan aparat.

Amnesty International memperkuat tudingan tersebut. Organisasi HAM itu menilai pemadaman internet bertujuan menyembunyikan skala pelanggaran hak asasi manusia dan kejahatan berat yang terjadi selama penanganan demonstrasi.

Dampaknya langsung dirasakan warga sipil. Akses komunikasi terputus, aktivitas ekonomi digital lumpuh, dan informasi hanya bergerak lewat jalur-jalur terbatas. Dalam situasi krisis, internet bukan sekadar alat komunikasi, melainkan urat nadi kehidupan sehari-hari.

Korban Berjatuhan, Tekanan Internasional Meningkat

Kantor Berita Hak Asasi Manusia yang berbasis di Amerika Serikat mencatat sedikitnya 65 orang tewas sejak gelombang protes bergulir. Angka ini berpotensi bertambah seiring ketatnya pembatasan informasi di lapangan.

Dari Washington, senator Partai Republik Lindsey Graham ikut mengangkat suara. Ia menyebut penderitaan rakyat Iran sebagai “mimpi buruk panjang” yang, menurutnya, akan segera berakhir. Graham bahkan secara terbuka mengaitkan slogan Trump “Make Iran Great Again” dengan kemenangan demonstran atas kepemimpinan ulama.

Pernyataan ini semakin menegaskan bahwa isu Iran telah berubah dari persoalan domestik menjadi arena pertarungan narasi politik global.

Khamenei Membalas, Ancaman Hukuman Mati Menguat

Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei merespons keras. Dalam komentar publik pertamanya sejak protes meningkat, ia menyebut para demonstran sebagai perusak dan penyabotase. Ia juga menuduh Trump berada di balik kekacauan yang terjadi.

Khamenei bahkan menuding tangan Trump “berlumuran darah” ribuan warga Iran, merujuk pada konflik bersenjata dengan Israel pada Juni lalu yang didukung Amerika Serikat. Ia menegaskan bahwa Republik Islam tidak akan mundur dan meramalkan Trump akan bernasib sama seperti rezim Shah yang tumbang pada Revolusi 1979.

Nada ancaman semakin nyata ketika Jaksa Agung Iran Mohammad Movahedi Azad memperingatkan para demonstran akan dijerat dakwaan moharebeh tuduhan sebagai “musuh Tuhan” yang dapat berujung hukuman mati. Ancaman serupa juga datang dari Jaksa Teheran Ali Salehi.

Rakyat di Tengah Tarikan Dua Kekuatan

Bagi warga yang turun ke jalan, risiko kini bukan lagi penangkapan semata, melainkan hukuman paling ekstrem dalam sistem hukum Iran.

Di lapangan, masyarakat Iran menjadi pihak yang paling terdampak. Mereka terjepit di antara represi negara dan manuver politik global. Dukungan Trump bisa memberi tekanan internasional, tetapi juga memberi alasan bagi rezim untuk memperkeras tindakan.

Sementara itu, ekonomi rakyat tercekik. Pemadaman internet dan instabilitas keamanan menghantam perdagangan, layanan publik, hingga akses kebutuhan dasar. Protes yang berangkat dari tuntutan kebebasan kini berhadapan dengan risiko kematian.

Di tengah klaim bantuan dan ancaman balasan, satu pertanyaan tetap menggantung apakah dukungan asing benar-benar akan menyelamatkan rakyat Iran, atau justru mempercepat harga mahal yang harus mereka bayar? @dimas

Tags: DemonstrasiEskalasiGeopolitikHak Asasi ManusiaKebebasanKonflik DuniaKrisis GlobalPerang IranPolitik GlobalPolitik IndonesiaProtesTimur Tengah

Kamu Melewatkan Ini

Kudatuli: Ketika Jakarta Bangun dalam Kepungan

Kudatuli: Ketika Jakarta Bangun dalam Kepungan

by Tabooo
Juli 27, 2026

Peristiwa Kudatuli pada 27 Juli 1996 bukan sekadar konflik internal PDI. Penyerbuan di Jalan Diponegoro membuka kekerasan, perburuan aktivis, dan...

Kaesang Nyaleg di Dapil Puan: Politik Simbol atau Elektoral?

Kaesang Nyaleg di Dapil Puan: Politik Simbol atau Elektoral?

by dimas
Juli 27, 2026

Kaesang Pangarep maju sebagai caleg DPR dari Dapil Jawa Tengah V, wilayah yang selama ini menjadi basis Puan Maharani. Apakah...

Budaya Patronase: Jabatan Berganti, Kekuasaan Tetap Tinggal

Budaya Patronase: Jabatan Berganti, Kekuasaan Tetap Tinggal

by dimas
Juli 24, 2026

Pergantian pejabat tak selalu mengakhiri pengaruh. Budaya patronase membuat kekuasaan tetap bertahan melalui loyalitas, relasi personal, dan jaringan yang melampaui...

Next Post
Pegawai Pajak Terjaring OTT, Kemenkeu Janji Dampingi Tanpa Intervensi

Pegawai Pajak Terjaring OTT, Kemenkeu Janji Dampingi Tanpa Intervensi

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id