Tabooo.id: Regional – Gunung Semeru kembali menunjukkan aktivitas vulkanik yang signifikan. Gunung tertinggi di Pulau Jawa itu meluncurkan awan panas sejauh lima kilometer dari puncak kawah pada Minggu (11/1/2026) malam, memicu kewaspadaan aparat dan masyarakat di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lumajang mencatat peristiwa tersebut terjadi pada pukul 22.26 WIB dan berakhir sekitar 22.39 WIB. Meski berlangsung relatif singkat, luncuran awan panas menjadi sinyal serius mengingat karakter Semeru yang dikenal aktif dan mudah berubah.
Awan Panas Terekam Seismograf
Kepala Pelaksana BPBD Lumajang, Isnugroho, menjelaskan bahwa alat seismograf merekam getaran dengan amplitudo mencapai 27 milimeter saat awan panas meluncur dari puncak.
“Awan panas terekam mulai pukul 22.26 WIB dan berhenti pada jarak lima kilometer dari puncak,” ujar Isnugroho.
Menurutnya, jarak luncur tersebut masih berada di kawasan yang tidak berdekatan langsung dengan permukiman penduduk. Namun, aparat tetap siaga untuk mengantisipasi kemungkinan lanjutan, terutama jika kondisi cuaca berubah.
Pemerintah Daerah Imbau Warga Tetap Tenang
Bupati Lumajang, Indah Amperawati, turut merespons kejadian tersebut dengan mengimbau masyarakat agar tidak panik, tetapi tetap waspada. Ia menegaskan bahwa radius luncuran awan panas masih berada di zona aman.
“Jarak luncurnya masih pada radius aman dan jauh dari permukiman. Warga sudah tahu harus berbuat apa,” tegas Indah.
Meski demikian, ia mengingatkan potensi bahaya lanjutan jika hujan deras turun di kawasan puncak. Curah hujan tinggi dapat memicu banjir lahar yang kerap menjadi ancaman lanjutan pascaerupsi Semeru.
“Harapannya tidak ada hujan deras yang bisa memicu banjir lahar,” tambahnya.
Status Siaga, Aktivitas Warga Dibatasi
Hingga saat ini, status Gunung Semeru masih berada pada Level III atau Siaga. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) kembali menegaskan larangan aktivitas di sejumlah kawasan rawan.
PVMBG meminta masyarakat tidak melakukan aktivitas apa pun di sektor tenggara, khususnya sepanjang aliran Besuk Kobokan, hingga radius 13 kilometer dari puncak. Selain itu, warga juga dilarang beraktivitas dalam jarak 500 meter dari tepi sungai karena berisiko terdampak perluasan awan panas maupun aliran lahar.
Kawasan Besuk Kobokan selama ini dikenal sebagai jalur utama luncuran awan panas dan aliran material vulkanik Semeru. Karena itu, wilayah ini menjadi titik paling krusial dalam setiap peningkatan aktivitas gunung.
Dampak Langsung bagi Warga Lereng Semeru
Masyarakat yang tinggal di sekitar lereng Semeru menjadi kelompok paling terdampak dari setiap aktivitas vulkanik. Selain ancaman langsung awan panas, mereka juga harus bersiap menghadapi potensi gangguan ekonomi, terutama bagi petani, penambang pasir, dan pelaku usaha lokal yang menggantungkan hidup pada aktivitas di sekitar sungai.
Bagi warga, kewaspadaan kini bukan lagi pilihan, melainkan rutinitas hidup berdampingan dengan gunung api aktif.
Di tengah status siaga yang belum dicabut, peristiwa ini kembali menjadi pengingat: Semeru mungkin sedang “diam”, tetapi tidak pernah benar-benar tidur. Dan bagi masyarakat di sekitarnya, kesiapsiagaan tetap menjadi harga yang harus dibayar untuk tinggal di kaki gunung paling aktif di Jawa. @dimas





