Tabooo.id: Global – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menilai Greenland sangat penting bagi keamanan nasional AS. “Kita membutuhkan Greenland untuk keamanan nasional, dan Denmark tidak mampu melakukannya,” ujarnya, seperti dikutip dari Fox News.
AS Sudah Lama Hadir di Greenland
Ambisi AS menguasai wilayah asing bukan hal baru. Sejak Perang Dunia II, AS menempatkan 100 personel militer di fasilitas Pituffik, ujung barat laut Greenland. Saat Nazi menduduki Denmark, pasukan AS membangun stasiun militer dan radio di sana. Selain itu, Trump menegaskan AS perlu mengontrol Greenland karena kapal Rusia dan China terus berlayar di wilayah yang dihuni sekitar 58 ribu jiwa.
Sejarah AS “Mencaplok” Wilayah
Trump bukan presiden pertama yang mencoba menguasai Greenland. Upaya serupa gagal pada 1867 dan 1946. Namun, AS memiliki catatan panjang menambah wilayah dari negara lain. Berikut delapan wilayah yang pernah AS caplok:
- Louisiana (1803) – AS membeli dari Prancis seharga USD 15 juta; kini mencakup 23,3% wilayah AS.
- Lembah Sungai Merah (1818) – AS memperoleh wilayah ini gratis melalui Konvensi Anglo-Amerika.
- Florida (1819) – AS mengambil Florida Timur dari Spanyol; melepaskan klaim Florida Barat.
- Texas (1845) – Setelah memisahkan diri dari Meksiko, AS menganeksasi 626.000 km².
- Oregon (1846) – AS menambahkan 460.000 km², termasuk Oregon, Washington, Idaho, dan sebagian Montana & Wyoming.
- California hingga Colorado (1848) – AS mengambil California, Nevada, Utah, dan sebagian Arizona, Colorado, New Mexico, Wyoming setelah Perang Meksiko-Amerika.
- Gadsden (1853) – AS membeli dari Meksiko seharga USD 10 juta, mencakup sebagian New Mexico dan Arizona di Lembah Mesilla.
- Alaska (1867) – AS membeli dari Rusia seharga USD 7,2 juta; wilayah ini kaya minyak dan sumber daya alam.
Siapa Diuntungkan, Siapa Dirugikan
Secara jelas, perusahaan militer dan industri pertahanan AS mendapat keuntungan karena akses strategis ke Arktik. Sementara itu, Denmark yang berdaulat dan masyarakat lokal Greenland berisiko kehilangan kendali atas tanah mereka.
Sejarah membuktikan bahwa AS tidak ragu menambah wilayahnya demi kepentingan strategis. Greenland mungkin bukan yang terakhir. Sambil dunia menatap peta, rakyat hanya bisa bertanya: apakah keamanan nasional benar-benar soal pertahanan, atau sekadar peluang bagi negara kuat menambah “koleksi” wilayah? (red)




