Tabooo.id: Deep – Di puncak Semeru, kabut menelan tubuh muda berusia 26 tahun itu. Di tangannya masih ada batu dan sejumput daun pinus, kenang-kenangan terakhir untuk seorang mahasiswa yang bahkan mungkin tak tahu ia sedang menjadi bagian dari legenda.
Namanya Soe Hok Gie, seorang intelektual yang memilih kejujuran meski berarti hidup sendirian di tengah negeri yang lebih suka kompromi.
Anak Tionghoa yang Tak Mau Diam
Lahir di Jakarta tahun 1942 dari keluarga Tionghoa kelas menengah, Gie tumbuh di tengah politik yang bising tapi kesepian. Ia menulis, menolak tunduk, dan menantang dua presiden, Sukarno dan Soeharto, tanpa pernah merasa aman di sisi siapa pun.
“Lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan,” tulisnya. Kalimat yang kemudian jadi azimat banyak aktivis.
Sebagai mahasiswa Universitas Indonesia di era penuh konflik ideologi, Gie berdiri di tengah badai: menolak Demokrasi Terpimpin yang dianggap tirani, tapi juga menolak militerisme yang tumbuh setelahnya. Ia tidak ingin menjadi pahlawan, hanya manusia yang tetap jujur ketika semua orang mulai takut.

Melawan Dua Rezim
Banyak orang hanya berani melawan satu rezim. Gie melawan dua. Ia menulis kritik terhadap Demokrasi Terpimpin Sukarno, menyoroti kemiskinan rakyat dan pesta kekuasaan di istana. Namun ketika Orde Baru datang dengan janji “bersih dan tertib”, Gie kembali bersuara: negara baru ini, katanya, tak lebih baik dari yang lama.
Ia menolak tawaran jabatan, tetap mengajar di kampus, dan menulis laporan investigatif soal penahanan politik di bawah Soeharto, dengan nama samaran “Dewa”. Kritiknya membuatnya sendirian. Tapi di kesendirian itu, Gie menemukan kebebasan moral yang tidak bisa dibeli jabatan.
Idealisme dan Kesepian
Sebagai keturunan Tionghoa di masa penuh kecurigaan, Gie sering menerima surat kebencian bertuliskan, “Dasar Cina tidak tahu berterima kasih, pulang ke negaramu!”
Ibunya cemas, teman-temannya menjauh, tapi Gie terus menulis.
“Belakangan ini saya terus berpikir, apa gunanya hal-hal yang saya lakukan? Saya menulis dan mengkritik banyak orang yang saya anggap korup. Setelah semua itu, saya mendapat lebih banyak musuh dan lebih banyak orang yang salah paham… Kadang-kadang saya merasa sangat sepi,” tulisnya.
Kesepian itu bukan tanda kelemahan — melainkan harga untuk tetap bersih di tengah kompromi.
Dalam istilah Tabooo: Gie adalah influencer nurani jauh sebelum ada media sosial.
Blueprint Gerakan Mahasiswa
Bersama kakaknya, Arief Budiman, Gie menanamkan satu ide yang kini jadi warisan abadi, bahwa mahasiswa bukan alat politik, mereka kekuatan moral.
Bagi Gie, intelektual sejati tidak berpihak pada kekuasaan, tapi pada kejujuran.
Doktrin “kekuatan moral” inilah yang kelak membentuk semangat Reformasi 1998, ketika mahasiswa kembali turun ke jalan melawan rezim yang dulu dikritiknya.
Alam, Pelarian, dan Keheningan
Ketika politik membuatnya muak, Gie mendaki gunung. Bersama Mapala UI yang ia dirikan, ia mencari kebenaran di udara terbuka, tempat manusia bisa jujur tanpa seragam dan pidato.
Di alam, ia menulis dengan damai. Alam adalah satu-satunya tempat di mana idealismenya tak ditertawakan.
Kematian di Puncak: Murni sampai Akhir
16 Desember 1969, sehari sebelum ulang tahunnya yang ke-27, Gie menghirup gas beracun di lereng Gunung Semeru. Ia pergi dengan cara paling “Gie”: sunyi, tak terduga, tapi jujur. Tidak terbunuh politik, tidak mati kompromi, tapi dipanggil oleh alam yang ia cintai.
Seorang temannya pernah berkata, “Sulit membayangkan Gie setengah baya, mapan, melapor ke kantor.”
Mungkin karena Gie memang ditakdirkan untuk berhenti di puncak: tetap muda, tetap murni, tetap tak tunduk.
Warisan dan Pertanyaan untuk Zaman
Kini, ketika banyak aktivis sibuk membangun citra dan “branding moral”, sosok Gie terasa seperti cermin yang memalukan.
Ia tidak mencari pengikut, tapi kebenaran. Tidak memanipulasi kata, tapi memerdekakan pikiran.
Dalam masyarakat yang semakin takut kehilangan kenyamanan, Gie mengingatkan bahwa kejujuran tidak akan membuatmu populer, tapi bisa menyelamatkan jiwamu.
Antara Keberanian dan Kesepian
Gie mungkin telah pergi, tapi setiap kali ada mahasiswa yang turun ke jalan, atau penulis yang memilih jujur meski sunyi, di sanalah semangatnya bernafas. Karena di dunia yang sibuk mencari aman, ia membuktikan bahwa berani bicara itu masih mungkin, bahkan kalau artinya berjalan sendirian. @tabooo





