Tabooo.id: Check – Media sosial kembali heboh. Sebuah video memperlihatkan puluhan orang berbaju tahanan oranye digiring ke depan kamera. Narasinya bombastis 700 kepala desa ditangkap KPK karena menggelapkan dana desa.
Caption-nya penuh semangat pemberantasan korupsi. Nada tulisannya meyakinkan. Jumlahnya fantastis. Warganet pun langsung bereaksi ada yang marah, ada yang puas, ada juga yang buru-buru share sambil bilang, “Akhirnya bersih-bersih!”
Masalahnya, semangatnya keburu lari lebih cepat dari faktanya.
Fakta: Video Asli, Narasi Palsu
Tim Cek Fakta Tabooo.id menelusuri video tersebut. Hasilnya jelas dan agak bikin senyum kecut.
Video itu bukan penangkapan 700 kepala desa oleh KPK.
Lokasinya ternyata di Polres Indragiri Hulu (Inhu), Riau.
Kejadiannya terjadi Oktober 2024, bukan Desember 2025.
Isinya adalah konferensi pers penangkapan 28 pelaku narkotika, bukan korupsi dana desa.
Video yang sama pernah dimuat media nasional dengan konteks yang benar: polisi memamerkan hasil penangkapan puluhan pelaku narkoba lengkap dengan barang bukti sabu, ganja, dan pil ekstasi.
Kepala desa? Tidak ada.
KPK? Juga tidak muncul.
Jumlah 700? Apalagi.
Kenapa Bisa Keliru
Hoaks ini bekerja dengan pola klasik tapi efektif.
Pertama, video tahanan oranye selalu kelihatan “meyakinkan”.
Kedua, angka besar seperti 700 bikin emosi naik dan logika turun.
Ketiga, isu dana desa memang sensitif dan gampang memancing amarah publik.
Tambahkan satu bumbu penting caption ngawur tapi ditulis seolah laporan resmi. Banyak orang berhenti membaca di kalimat pertama, lalu langsung share.
Padahal, sampai hari ini tidak ada satu pun informasi kredibel yang menyebut KPK menangkap 700 kepala desa secara massal. Narasi ini bahkan sudah berulang kali muncul sejak tahun-tahun sebelumnya, dengan video berbeda tapi cerita sama.
Hoaks lama, kostum baru.
Jangan Emosi Dulu, Pakai Otak Sedikit
Memberantas korupsi itu penting. Tapi membasmi hoaks juga bagian dari tanggung jawab warga digital.
Kalau benar ada 700 kepala desa ditangkap KPK, pasti semua media nasional gempar, bukan cuma muncul di satu unggahan Facebook dengan huruf kapital semua.
Jadi lain kali, sebelum ikut marah, ikut puas, atau ikut share, cek videonya, cek sumbernya, cek tahunnya.
Karena ikut menyebarkan hoaks itu bukan cuma salah informasi kadang juga ikut dosa digital. @dimas




