Tabooo.id: Life – Pagi itu, Alun-alun Ponorogo tidak hanya dipenuhi manusia. Alun-alun Dipenuhi napas, langkah pelan, dan gumam doa yang mengalir seperti sungai sunyi. Ratusan ribu pesilat Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) berdiri berimpitan, mengenakan busana serba hitam warna yang selama ini identik dengan kekuatan. Namun pagi itu, warna hitam tidak tampak garang. Ia justru terlihat teduh.
Ketika zikir dilantunkan, suara itu tidak menggelegar. Ia merambat. Masuk ke sela dada. Mengendap di ingatan. Di hadapan panggung, tangan-tangan yang biasa mengepal kini terbuka. Kepala-kepala yang sering tegak kini tertunduk. Di tanah Reog, otot-otot belajar diam. Jiwa-jiwa belajar pulang.
Inilah Bumi Reog Berzikir (BRB) 2025 sebuah peristiwa yang melampaui statusnya sebagai acara. BRB menjadi pengalaman kolektif.
Fenomena Sosial: Saat Silat Bertemu Spirit
BRB bukan peristiwa baru. Sejak pertama kali digelar pada 2017, zikir akbar ini terus tumbuh. Namun tahun 2025 menghadirkan sesuatu yang berbeda. Skala massanya membesar, gaungnya menembus media sosial, dan maknanya terasa semakin relevan.
Di tengah stigma lama yang kerap menempel pada organisasi pencak silat keras, eksklusif, bahkan konflik BRB tampil sebagai bantahan sunyi. PSHT tidak berbicara lewat pernyataan pers panjang. Mereka memilih berdoa bersama.
Kapolda Jawa Timur, Irjen Pol Nanang Avianto, melalui sambutan Kapolres Ponorogo AKBP Andin Wisnu Sudibyo, menyebut BRB bukan sekadar ritual seremonial. Ia menyebutnya manifestasi peradaban. Pernyataan itu terasa berat, tapi tidak berlebihan. Karena di hadapan mata, kekuatan fisik memang sedang berdialog dengan kekuatan batin.
Paradoks yang Dihadapi Pencak Silat
Pencak silat lahir sebagai warisan budaya, mengajarkan disiplin, pengendalian diri, dan kehormatan. Namun di ruang publik modern, ia sering direduksi menjadi sekadar duel, atribut, atau konflik identitas.
Di sinilah paradoks itu bekerja. Silat mengajarkan menahan diri, tetapi realitas sosial sering mendorong adu gengsi. Silat berbicara tentang persaudaraan, tetapi zaman kerap memancing perpecahan.
BRB hadir tepat di titik retak itu.
Dengan zikir sebagai poros, PSHT seakan mengingatkan anggotanya kekuatan tanpa arah hanya akan berisik. Otot tanpa jiwa hanya akan lelah. Dan organisasi tanpa nilai rohani akan kehilangan makna.
Makna bagi Warga PSHT: Menjadi Kuat Tanpa Menjadi Keras
Bagi warga PSHT, BRB bukan sekadar agenda tahunan. Ia menjadi ruang evaluasi batin. Di sana, tidak ada tingkatan sabuk. Tidak ada senior atau junior. Yang ada hanya manusia di hadapan Tuhan.
Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak menangkap makna itu dengan jernih. Ia menegaskan bahwa pencak silat bukan hanya tentang bela diri, melainkan pembentukan karakter. Pernyataan ini penting, karena karakter tidak tumbuh di gelanggang saja. Ia tumbuh dalam keheningan.
Bagi banyak pesilat, BRB mengajarkan satu hal sederhana namun sulit menundukkan ego. Di tengah dunia yang memuja kekuatan visual dan viralitas, zikir massal justru menawarkan keheningan sebagai kekuatan baru.
Dampak bagi Masyarakat: Keteladanan yang Menular
BRB tidak hanya berdampak ke dalam tetapi juga memantul keluar. Masyarakat Ponorogo menyaksikan ribuan orang berkumpul tanpa kekacauan. Tanpa euforia berlebihan. Tanpa benturan.
Di negara yang sering cemas terhadap kerumunan besar, BRB menjadi pengecualian yang menenangkan, menunjukkan bahwa organisasi besar tidak selalu identik dengan risiko. Ia bisa menjadi teladan ketertiban.
Purnawirawan TNI Jenderal Dudung Abdurachman menekankan pentingnya persatuan dalam tubuh PSHT. Pesan itu terdengar klasik, tetapi konteksnya aktual. Di era fragmentasi, persatuan bukan jargon. Ia kebutuhan.
Pencak Silat sebagai Jalan Rohani
Yang paling menarik dari BRB adalah pesan implisitnya pencak silat tidak berdiri terpisah dari spiritualitas. Silat bukan hanya warisan gerak, tetapi juga warisan nilai.
Dalam tradisi lama, pendekar bukan hanya kuat secara fisik teteapi matang secara batin. BRB seakan menghidupkan kembali filosofi itu bahwa silat adalah jalan mendekatkan diri, bukan menjauhkan.
Di titik ini, BRB menjadi inspirasi lintas perguruan menunjukkan bahwa organisasi pencak silat modern masih bisa berdialog dengan nilai rohani tanpa kehilangan relevansi.
Sikap Tabooo: Ketika Doa Lebih Keras dari Teriakan
Tabooo melihat BRB sebagai anomali yang menyegarkan. Di saat banyak organisasi sibuk membangun citra lewat simbol visual, PSHT justru membangun makna lewat keheningan kolektif.
Ini bukan romantisasi. Ini pengingat. Bahwa identitas tidak selalu perlu dibela dengan suara keras. Kadang, ia cukup dirawat dengan doa.
BRB juga memberi pesan pada publik jangan buru-buru menilai pencak silat dari potongan viral. Di balik hitamnya pakaian, ada nilai yang sedang dirawat dengan sabar.
Penutup: Ketika Tanah Menyimpan Ingatan
Ketua PSHT Cabang Ponorogo, Khomarudin, memastikan BRB akan kembali digelar pada 31 Desember 2026. Namun sesungguhnya, BRB 2025 sudah lebih dulu menetap di ingatan kolektif.
Di tanah Reog, ratusan ribu orang telah belajar satu hal penting: menjadi kuat tidak selalu berarti berdiri paling depan. Kadang, kekuatan justru lahir saat kita menunduk bersama.
Dan mungkin, di situlah makna terdalam Bumi Reog Berzikir, ketika bumi menjadi saksi, dan manusia belajar kembali menjadi manusia. @Esa Putra-Ngawi




