Minggu, Juni 28, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Wisata Alam Guci Diterjang Banjir: Salah Cuaca atau Salah Kelola?

by dimas
Desember 23, 2025
in Talk
A A
Home Talk
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Talk – Jujur saja, siapa yang tidak suka Guci? Pemandian air panas di lereng Gunung Slamet itu seperti paket lengkap dingin, hangat, alami, dan Instagramable. Tapi Sabtu sore itu, 20 Desember 2025, Guci seolah berkata, “Cukup.” Air yang biasanya menenangkan justru datang sebagai banjir bandang, merusak kolam Pancuran 13, menyeret jembatan, dan memaksa kawasan wisata ditutup sementara.

Pertanyaannya bukan cuma apa yang terjadi, tapi mengapa ini terus terjadi.

BNPB menyebut hujan deras sebagai pemicu utama. Debit Sungai Gung meningkat, meluap, dan membawa lumpur, batu, serta kayu ke kawasan wisata. Secara teknis, penjelasan itu masuk akal. Namun, apakah kita mau berhenti di situ? Atau justru perlu bertanya lebih jauh apakah banjir bandang ini murni bencana alam, atau hasil dari cara kita memperlakukan ruang wisata?

Wisata Alam, Tapi Lupa Alam Punya Batas

Mari kita jujur sebentar. Wisata alam di Indonesia sering kali tumbuh lebih cepat daripada kesadaran mitigasinya. Infrastruktur dibangun, jalur diperluas, penginapan menjamur, tetapi sistem peringatan dini, tata ruang berbasis risiko, dan edukasi pengunjung kerap tertinggal.

Di Guci, pipa air panas hanyut. Jembatan rawan bencana hilang. Kolam tergerus arus. Semua itu bukan sekadar “rusak,” melainkan tanda bahwa kawasan tersebut memang berada di zona yang sensitif. Lereng gunung, sungai aktif, dan curah hujan tinggi bukan kombinasi yang bisa diperlakukan santai.

Ini Belum Selesai

Apakah Sistem Listrik Indonesia Sedang Menuju Krisis?

Indonesia Kaya Budaya, Tapi Kita Terlalu Haus Validasi Asing?

Masalahnya, kita sering terlalu percaya diri. Seolah-olah alam akan selalu ramah selama tiket masuk terjual dan akhir pekan ramai. Padahal, alam tidak pernah menandatangani kontrak kerja sama pariwisata.

“Korban Nihil” Tapi Apa Itu Sudah Cukup?

BNPB memastikan tidak ada korban jiwa. Syukurlah. Tapi di era bencana berulang, apakah standar kita hanya berhenti di “tidak ada yang meninggal”?

Kerusakan fasilitas vital berarti kerugian ekonomi bagi warga lokal, penutupan usaha sementara, dan ketidakpastian bagi pekerja wisata. Belum lagi rasa aman pengunjung yang terganggu. Wisata bukan cuma soal liburan ia menyangkut ekosistem sosial dan ekonomi masyarakat sekitar.

Di sisi lain, penutupan sementara Pancuran 13 adalah langkah tepat. Lebih baik wisatawan kecewa karena batal berendam daripada keluarga kehilangan anggota karena lalai mitigasi. Namun penutupan saja tidak cukup jika setelahnya semua kembali seperti semula, tanpa evaluasi serius.

Perspektif Lain: Tidak Semua Bisa Disalahkan ke Pengelola

Adil juga kalau kita melihat sisi lain. Curah hujan ekstrem memang semakin sering terjadi akibat perubahan iklim. Pola cuaca makin sulit diprediksi, dan kawasan pegunungan menjadi semakin rentan. Bahkan dengan perencanaan terbaik pun, risiko tidak bisa dihapus sepenuhnya.

Selain itu, pengelola lokal sering berada di posisi sulit. Tekanan ekonomi, tuntutan wisatawan, dan keterbatasan anggaran membuat mitigasi sering kalah prioritas. Dalam banyak kasus, mereka bekerja dengan sumber daya minim, sementara ekspektasi publik terus meningkat.

Namun justru di situlah peran negara dan pemerintah daerah seharusnya lebih hadir, bukan sekadar datang setelah banjir, lalu pergi setelah konferensi pers.

Sikap Tabooo: Jangan Tunggu Air Datang Baru Bergerak

Tabooo melihat banjir bandang di Guci bukan sebagai kejadian tunggal, melainkan alarm keras. Alarm bahwa wisata alam tidak bisa lagi dikelola dengan pola lama. Mitigasi harus menjadi bagian dari pengalaman wisata, bukan catatan kaki di laporan bencana.

Peta risiko harus jelas. Informasi harus transparan. Pengunjung perlu tahu kapan aman dan kapan harus pulang. Dan yang paling penting, pembangunan harus berani berkata “tidak” pada lokasi-lokasi yang terlalu berisiko.

Wisata yang aman mungkin tidak selalu spektakuler. Tapi wisata yang abai hampir selalu berakhir tragis.

Jadi, Kita Mau di Kubu Mana?

Apakah kita tetap di kubu “yang penting ramai dulu,” atau mulai berpihak pada wisata yang sadar risiko? Apakah kita puas dengan label “korban nihil,” atau ingin memastikan bencana tidak terus berulang dengan pola yang sama?

Guci sudah memberi peringatan. Alam sudah bicara, tanpa konferensi pers, tanpa rilis resmi. Tinggal kita yang memilih: mau mendengar, atau menunggu banjir berikutnya untuk kembali terkejut.

Lalu, kamu di kubu mana? @dimas

Tags: Banjir BandangbencanaIsuLingkungan

Kamu Melewatkan Ini

Karnaval Usai, Peradaban Diuji: Sampah Jadi Cermin Seperti Apa Kesadaran Publik

Karnaval Usai, Peradaban Diuji: Sampah Jadi Cermin Seperti Apa Kesadaran Publik

by teguh
Juni 27, 2026

"Masalah sampah di Indonesia bukan hanya persoalan teknis pengelolaan, tetapi persoalan pola pikir. Selama masyarakat masih menganggap sampah sebagai masalah...

Rp 3 Triliun untuk Sampah: Solusi Energi Masa Depan atau Proyek Ambisius Baru?

Rp 3 Triliun untuk Sampah: Solusi Energi Masa Depan atau Proyek Ambisius Baru?

by teguh
Juni 2, 2026

Gunungan sampah yang terus membesar akhirnya mendorong pemerintah mengambil langkah besar. Pemerintah pusat kini menyiapkan proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi...

Desa Dibiarkan Mengurus Sampah Sendiri, Lalu Negara Mengurus Apa?

Desa Dibiarkan Mengurus Sampah Sendiri, Lalu Negara Mengurus Apa?

by teguh
Mei 8, 2026

Pagi di Jalan Raya Dusun Seruni, Desa Banjartanggul, selalu datang bersama bau menyengat. Sebelum kendaraan melintas ramai, tumpukan sampah sudah...

Next Post
Kapal Karam di Portugal, Dua Nelayan Indonesia Ditemukan Meninggal

KBRI Lisabon Konfirmasi Dua Jenazah Diduga Nelayan Indonesia

Madilog Series

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026

Marx Series

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id