Kamis, Juni 11, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Santri 12 Tahun Tewas Diduga Dibully di Ponpes Manjung Wonogiri

by dimas
Desember 22, 2025
in Reality, Regional
A A
Home Reality
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Regional – Seorang santri berinisial MMA, berusia 12 tahun, meninggal dunia setelah diduga menjadi korban penganiayaan dan perundungan di Pondok Pesantren Santri Manjung, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah. Polisi menetapkan tiga anak sebagai pelaku atau anak berhadapan hukum (ABH).

“Pelaku tiga orang kami amankan, semuanya masih di bawah umur: AG (14), AL (14), dan NS (10), ketiganya santri pondok. Mereka memukul dan menendang korban,” ujar Kasat Reskrim Polres Wonogiri, Iptu Agung Sadewo, pada Jumat (19/12/2025).

Polisi masih mendalami apakah ada pelaku lain yang terlibat. Ketiga anak itu diduga melakukan pengeroyokan di kamar Ponpes pada Sabtu (13/12/2025) dan Minggu (14/12/2025). Motif awal yang diduga memicu penganiayaan adalah ketidakpatuhan korban untuk mandi dan mencuci.

“Penganiayaan yang fatal terjadi pada hari Sabtu. Pada hari Minggu, A dan N juga melakukan kekerasan sebelum orang tua korban datang,” jelas Agung.

Luka dan Kondisi Korban

Akibat perundungan, MMA mengalami luka lebam di sekujur tubuh dada, kepala, perut, kaki, dan tangan. Polisi juga menemukan coretan tinta dan tipex di kepala korban. Meski pelaku menggunakan tangan kosong dan tidak menimbulkan luka terbuka, penganiayaan berulang itu memperparah kondisi MMA hingga meninggal.

Ini Belum Selesai

Harga Pertamax Melonjak, Dompet Rakyat Kian Tercekik

DPR Sahkan RUU Polri, Pengawasan dan Netralitas Jadi Taruhan

Proses Hukum dan Motif

Polres Wonogiri memastikan proses hukum kasus ini akan berlangsung adil dan terbuka. Polisi tengah memeriksa pengurus Ponpes untuk mendalami kemungkinan kelalaian dalam pengawasan santri.

“Kami masih memeriksa beberapa pengurus Ponpes. Kami ingin transparan dan adil, serta memahami kenapa hal ini bisa terjadi,” ujar Agung.

Ketiga anak pelaku terancam hukuman berdasarkan beberapa pasal: tindak pidana kekerasan terhadap anak yang menyebabkan kematian (Pasal 80 ayat 3 UU Perlindungan Anak), Pasal 170 Ayat 2 KUHPidana, atau Pasal 351 Ayat 3 KUHPidana Jo UU Sistem Peradilan Pidana Anak.

Dampak Sosial

Kasus ini menyoroti risiko perundungan di lingkungan pesantren yang seharusnya menjadi tempat aman bagi anak-anak. Santri dan keluarga menjadi pihak yang paling terdampak, menghadapi trauma mendalam dan ketakutan atas keselamatan anak-anak mereka. Komunitas lokal dan pengurus pondok juga terpaksa meninjau kembali sistem pengawasan dan disiplin internal untuk mencegah tragedi serupa.

Refleksi Tabooo

Kematian MMA menyisakan pertanyaan serius: bagaimana budaya kekerasan terselubung bisa muncul di lembaga pendidikan yang seharusnya mendidik dan melindungi anak-anak? Pengawasan, disiplin, dan empati tampak masih menjadi PR besar. Sayangnya, kasus ini membuktikan bahwa terkadang aturan dan tradisi berjalan di jalur yang salah sambil meninggalkan jejak tragis bagi korban yang tak bersalah. @dimas

Tags: bullyingkekerasanPendidikanPenganiayaan

Kamu Melewatkan Ini

Revanno dan Ruang Toleransi: Saat Sekolah Agama Tak Lagi Eksklusif

Revanno dan Ruang Toleransi: Saat Sekolah Agama Tak Lagi Eksklusif

by teguh
Mei 18, 2026

Di sebuah sekolah berbasis Islam di Kota Pekalongan, seorang remaja keturunan Tionghoa beragama Katolik justru menemukan ruang yang membuatnya bertumbuh....

Kenapa Murid Kritis Sering Dianggap Membangkang?

Kenapa Murid Kritis Sering Dianggap Membangkang?

by eko
Mei 16, 2026

Murid kritis sering jadi masalah di ruang kelas yang terlalu terbiasa dengan kepatuhan. Saat mereka bertanya terlalu jauh, menggugat logika...

Nyaris Kehilangan Arah, Kini Peluang Revanno Magang ke Jepang

Nyaris Kehilangan Arah, Kini Peluang Revanno Magang ke Jepang

by teguh
Mei 16, 2026

Revanno Adrian Prasetyo pernah kehilangan arah. Saat SMP, semangat belajarnya meredup. Ia lebih sering diam, sulit percaya diri, dan memilih...

Next Post
Tragedi Ponpes Manjung: Santri 12 Tahun Tewas Akibat Bullying

Tragedi Ponpes Manjung: Santri 12 Tahun Tewas Akibat Bullying

Madilog Series

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026
Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Mei 27, 2026

Marx Series

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026

Komoditas: Cara Pasar Menyembunyikan Kerja Manusia – Marx Series #1.1

Mei 17, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id