Tabooo.id: Vibes – Bayangkan seorang anak berusia sepuluh tahun berdiri di tengah kota yang baru saja runtuh. Tentara menyeretnya pergi. Keluarganya tertinggal dalam kepulan debu dan teriakan. Sejak hari itu, hidupnya berubah total. Penguasa mengganti namanya. Guru baru mengajarinya doa baru. Pelatih memaksa tangannya menggenggam senjata.
Bertahun-tahun kemudian, anak itu tumbuh menjadi pria berseragam. Ia berdiri tegap sebagai pengawal Sultan atau Paus. Ia siap mati demi kekuasaan yang tak pernah ia pilih.
Ironisnya, sejarah jarang bertanya bagaimana perasaannya. Sejarah lebih suka mencatat kemenangan di atas darah anak-anak itu.
Fakta Utama + Kronologi: Dari Yeniceri ke Mesin Negara
Pada abad ke-14, tepatnya sekitar 1363, Sultan Murad I secara sadar membentuk korps infanteri elit Kekaisaran Ottoman: Janissary atau Yeniceri, yang berarti “pasukan baru”. Negara merekrut mereka melalui sistem devshirme, yakni pengambilan anak-anak dari wilayah taklukan yang mayoritas merupakan korban perang.
Ottoman melatih anak-anak itu sejak dini. Negara mendidik mereka secara militer, membentuk disiplin keras, dan menanamkan loyalitas mutlak kepada Sultan. Akibatnya, Janissary tumbuh sebagai pasukan profesional pertama di Eropa.
Namun peran mereka tidak berhenti di medan perang. Janissary menjaga istana, mengisi garnisun kota, bertugas sebagai polisi, bahkan memadamkan kebakaran. Disiplin mereka menakutkan. Reputasi mereka mematikan. Karena itu, setiap kali Janissary bergerak, musuh sering kali sudah kehilangan nyali lebih dulu.
Meski demikian, kekuatan besar selalu menuntut harga mahal.
Seiring waktu, Janissary melampaui fungsi militernya. Mereka bertransformasi menjadi aktor politik ikut menentukan siapa yang naik takhta sekaligus menekan arah kebijakan. Bahkan, mereka menggulingkan Sultan yang dianggap mengancam posisi mereka. Pisau yang dulu melindungi penguasa kini berbalik mengarah ke lehernya sendiri.
Akhirnya, pada 15 Juni 1826, Sultan Mahmud II mengambil langkah ekstrem. Ia membubarkan Janissary setelah pemberontakan yang dikenal sebagai Vaka-i Hayriye “peristiwa menguntungkan”. Negara merasa diuntungkan. Namun korps yang terlalu kuat itu harus membayar dengan darah dan pembubaran total.
Meski begitu, kisah Janissary tidak benar-benar berakhir. Banyak mantan anggotanya beralih profesi menjadi tentara bayaran. Sejak saat itu, loyalitas berpindah tangan. Siapa membayar, dialah yang mereka lindungi.

Diorama formasi pasukan Janissary di Museum Al Fatih Turkiye
Analisis: Kenapa Pola Ini Terulang?
Sejarah memiliki kebiasaan buruk: ia terus mengulang pola lama dengan wajah baru.
Sebelum Janissary, Eropa sudah lebih dulu mengenal Ksatria Templar. Ordo ini berdiri pada 1119 dan mendapatkan pengakuan resmi Gereja pada 1129. Awalnya, mereka bertugas melindungi Paus dan para peziarah. Markas pertama mereka bahkan berdiri di kompleks Masjid Al-Aqsa, yang mereka sebut Kuil Sulaiman hadiah langsung dari Raja Baldwin II.
Pada awalnya, Templar tampil religius. Mereka terlihat disiplin. Mereka juga sangat terorganisir. Namun seiring waktu, kekayaan dan kekuatan militer membuat mereka tumbuh terlalu besar. Akibatnya, negara dan Gereja mulai merasa terancam.
Akhir cerita pun serupa. Penguasa menghancurkan Templar dengan tuduhan bid’ah dan pengkhianatan. Setelah itu, banyak anggotanya menghilang ke dunia bayangan. Sebagian berubah menjadi tentara bayaran elit, mahal, dan sulit dilacak.
Mengapa pola ini terus berulang?
Karena negara sering menciptakan monster fungsional. Penguasa membentuk korps elit demi efisiensi, keamanan, dan stabilitas. Namun ketika senjata diberi identitas, ideologi, serta jaringan ekonomi, senjata itu mulai berpikir sendiri. Pada titik itulah, kendali berpindah tangan.
Perspektif Pihak Bawah: Mereka yang Tak Pernah Dipilih
Di balik seragam gagah, selalu ada kisah yang nyaris tak terdengar. Anak-anak yang masuk Janissary tidak pernah memilih nasib mereka. Perang memaksa mereka. Negara memanfaatkan mereka. Sistem membentuk mereka.
Beberapa dari mereka menyimpan luka dan dendam. Nama Vlad Tepes, yang kemudian dikenal sebagai Dracula, kerap muncul sebagai simbol trauma masa kecil di bawah bayang-bayang Ottoman.
Dalam konteks modern, pola ini terasa sangat akrab. Banyak veteran perang pulang tanpa sambutan. Negara melepas mereka tanpa jaminan dan tanpa makna baru. Akhirnya, sebagian menjual keahlian tempur kepada perusahaan militer swasta. Dari Timur Tengah hingga Afrika, mereka bekerja sebagai “kontraktor keamanan”.
Mereka bukan pahlawan, bukan pula penjahat mereka hanyalah penyintas dari sistem yang tak pernah benar-benar peduli
Sikap Tabooo: Sejarah Tanpa Make-up Heroik
Tabooo mengambil posisi tegas: sejarah bukan dongeng kepahlawanan. Ia penuh kompromi, darah, dan ironi yang sengaja disembunyikan.
Film-film seperti James Bond, Bourne, atau Salt sering meromantisasi tentara bayaran sebagai sosok bebas dan berprinsip. Padahal, akar mereka sering tumbuh dari struktur kekuasaan yang gagal bertanggung jawab pada manusia yang mereka ciptakan.
Negara membentuk mereka. Negara memanfaatkan mereka. Setelah itu, negara berpura-pura lupa.
Karena itu, Janissary dan Templar bukan anomali. Mereka adalah cermin. Dan sampai hari ini, cermin itu masih tergantung di dinding dunia modern.
Penutup: Pertanyaan yang Tidak Nyaman
Membaca sejarah terasa seperti menyusun puzzle. Kadang kita mengangguk, merasa paham. Namun di lain waktu, kita justru bergidik.
Saya pernah berdiri di sebuah kastil tua di Ourém. Orang lokal berbisik, “Ini aset Templar.” Batu-batunya dingin dan kokoh, seolah menyimpan rahasia yang menolak runtuh. Saat itu, sejarah terasa terlalu dekat.
Kini, pertanyaannya bukan lagi apakah Janissary atau Templar masih ada.
Pertanyaan sesungguhnya: versi modern mereka berdiri di mana hari ini?
Dan jika suatu hari mereka kembali berbalik arah, siapa yang akan bertanggung jawab?
Atau, seperti biasa, kita hanya akan menyebutnya “peristiwa menguntungkan” setelah semuanya terlambat?
Sejarah sudah memberi petunjuk. Tinggal kita mau belajar atau bersiap mengulangnya lagi. (Risa Bluesaphier: Expedisi Langsung Jurnalist Tabooo.id dări Ottoman Turkiye)




