Kamis, Mei 14, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Negara Gagap Bicara Saat Bencana

by dimas
Desember 20, 2025
in Edge
A A
Home Edge
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Edge – Bayangkan situasi ini hujan deras mengguyur Sumatra, sungai meluap, rumah hancur, dan jalan putus. Warga panik. Namun, Twitter malah lebih dulu update dibanding BPBD. Negara? Malah diam. Bukan karena hilang sinyal, melainkan karena pejabat sibuk rapat koordinasi. Serius, rapat di tengah bencana itu seperti menonton orang debat menu sarapan saat rumahmu ambruk.

Di Aceh, Sumut, dan Sumbar akhir November 2025, bencana datang tanpa aba-aba alam memang tidak pakai Google Calendar. Namun yang lebih tragis adalah komunikasi pemerintah tersendat, saling bertabrakan, dan sering membingungkan warga mereka tidak tahu harus lari ke mana, siapa yang membantu, atau apakah bantuan itu nyata atau hoaks. Kekosongan informasi ini tidak hanya memicu kepanikan, tetapi juga membuka ruang spekulasi absurd. Mulai dari “Waduh, jangan-jangan pemerintah sibuk selfie” hingga “Mungkin BNPB lagi Zoom pakai Wi-Fi tetangga.”

Fragmentasi yang Membingungkan

Pemerintah pusat, provinsi, kabupaten/kota, BNPB, BPBD, TNI-Polri, dan relawan semuanya hadir di lapangan. Namun mereka berbicara dengan bahasa berbeda. Narasi pusat di Aceh terdengar menenangkan, tetapi warga lokal masih setengah basah di genangan lumpur. Selain itu, koordinasi lintas daerah di Sumut dan Sumbar sering tersendat karena ego sektoral dan jalur komando yang berliku-liku.

Masalahnya bukan karena lembaga tidak hadir mereka hadir melainkan karena satu suara yang jelas dan dipercaya publik belum muncul. Ketika semua bicara, nyatanya tidak ada yang terdengar jelas.

Salah Siapa?

Jika menyalahkan pemerintah daerah, itu terlalu mudah. Banyak kepala daerah dan BPBD bekerja dengan sumber daya terbatas, baik anggaran maupun personel, bahkan jaringan komunikasi kadang ikut terganggu. Namun pemerintah pusat pun tidak bebas dari tanggung jawab. Sistem komunikasi kebencanaan nasional seharusnya memangkas birokrasi saat status darurat diumumkan. Jika mereka masih menunggu surat resmi atau konferensi pers seremonial, maka mereka sama saja menyuruh warga menunggu tsunami sambil ngopi.

Ini Belum Selesai

Korupsi yang Tak Pernah Pergi: Reformasi Salah Jalan atau Setengah Jalan?

Seblak Pedas, Burnout, dan Perempuan Modern

Dalam kondisi darurat, komunikasi harus responsif, bukan hierarkis. Kehadiran negara diukur dari seberapa cepat dan jelas ia menyampaikan informasi dan lebih penting lagi, mendengar warga. Bukan dari jumlah pejabat yang turun ke lokasi atau baliho bantuan yang memenuhi setiap sudut kota.

Bahasa yang Menyelamatkan Nyawa

Komunikasi kebencanaan bukan ajang lomba jargon teknokratis. Sebaliknya, informasi harus lugas, empatik, dan operasional. Warga membutuhkan petunjuk konkret seperti “ke mana harus mengungsi” daripada “kami sedang melakukan mitigasi berbasis paradigma holistic multi-level”. Yang satu menyelamatkan nyawa, yang lain justru membingungkan.

Kegagalan Sistemik

Jadi, salah siapa? Jawaban paling jujur kegagalan sistemik, bukan kesalahan individu. Sistem komunikasi kebencanaan belum menempatkan informasi sebagai instrumen penyelamat nyawa. Tanpa pembenahan serius seperti satu komando komunikasi, pelatihan juru bicara, dan integrasi teknologi informasi peristiwa serupa akan terus terulang. Akibatnya, setiap keterlambatan komunikasi akan selalu dibayar mahal oleh masyarakat.

Dalam bencana, diam adalah dosa. Ketika warganya paling membutuhkan suara yang menenangkan dan dapat dipercaya, negara seolah mute. Ironis, namun itulah kenyataan. @dimas

Tags: Bencana Alam

Kamu Melewatkan Ini

Erupsi Gunung Dukono Tewaskan 3 Pendaki: Kebetulan atau Risiko yang Diabaikan?

Erupsi Gunung Dukono Tewaskan 3 Pendaki: Kebetulan atau Risiko yang Diabaikan?

by dimas
Mei 8, 2026

Erupsi Gunung Dukono yang menelan korban jiwa, termasuk dua warga negara Singapura, kembali membuka pertanyaan lama tentang kesiapsiagaan manusia dalam...

Banjir Solo: Bencana Alam atau Pola Kota yang Tak Pernah Beres?

Banjir Solo: Bencana Alam atau Pola Kota yang Tak Pernah Beres?

by dimas
April 15, 2026

Tabooo.id: Regional - Hujan turun semalaman. Air datang perlahan, lalu tiba-tiba menggenang di rumah warga.Bagi sebagian orang di Solo, ini...

Tanggul Jebol, Demak Tenggelam: Bencana Alam atau Kelalaian?

Tanggul Jebol, Demak Tenggelam: Bencana Alam atau Kelalaian?

by dimas
April 5, 2026

Tabooo.id: Regional - Banjir besar menerjang Kabupaten Demak pada Jumat (3/4/2026) pagi. Air bergerak cepat dan langsung merendam permukiman warga...

Next Post
Film he Atypical Family: Iri Hati dan Karma

Film The Atypical Family: Iri Hati dan Karma

Pilihan Tabooo

Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Peristiwa Yesus Naik Ke Surga: Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Mei 10, 2026

Realita Hari Ini

Pajak Kendaraan Diganti Jalan Berbayar: Terobosan Berani atau Eksperimen Berisiko?

Pajak Kendaraan Diganti Jalan Berbayar: Terobosan Berani atau Eksperimen Berisiko?

Mei 13, 2026

Rapat Stunting atau Waktu Main? DPRD Jember Kini Disorot Publik

Mei 13, 2026

MPR RI Nonaktifkan Juri dan MC LCC Kalbar Usai Polemik Jawaban DPD Viral

Mei 12, 2026

MBG Bisa Ditolak, Prabowo Persilakan Anak Orang Kaya Mundur

Mei 12, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Figures

© 2026 Tabooo.id