Selasa, Oktober 20, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Pemerasan Izin TKA, Saksi Ungkap Setoran Rp 30 Juta per Bulan

by dimas
Desember 19, 2025
in Deep
A A
Home Deep
Share on Facebook
Share on Twitter

Tabooo.id: Deep – “Kalau telat sehari saja, klien kami bisa kena denda sejuta rupiah.” Kalimat itu meluncur tanpa emosi berlebihan dari mulut Ali Wijaya Tan. Ia mengucapkannya di ruang sidang Pengadilan Tipikor Jakarta Pusat dengan nada datar, hampir seperti orang yang sudah terlalu sering mengulang cerita yang sama. Tidak ada suara meninggi, tidak pula upaya dramatisasi. Justru ketenangan itulah yang terasa menekan.

Di hadapan majelis hakim, Ali hadir sebagai saksi. Namun yang ia sampaikan bukan sekadar kronologi hukum. Lewat pengakuannya, ia memotret bagaimana sebuah sistem bisa menekan manusia secara perlahan, sampai akhirnya menyerah. Selama lebih dari sepuluh tahun, ia mengaku rutin menyetor uang puluhan juta rupiah kepada pejabat Kementerian Ketenagakerjaan. Setoran itu tidak lahir dari kehendak bebas. Sebaliknya, rasa takut yang terus dipelihara sistem mendorongnya bertahan.

Ketika Dokumen Berubah Menjadi Alat Tekanan

Secara administratif, RPTKA hanyalah dokumen perencanaan tenaga kerja asing. Namun dalam praktik sehari-hari, berkas ini memegang kuasa penuh atas nasib perusahaan. Tanpa RPTKA, tenaga kerja asing tak bisa bekerja. Lebih jauh lagi, perusahaan langsung berhadapan dengan sanksi. Bahkan keterlambatan sehari saja dapat memicu denda besar.

Ali memimpin PT Patera Surya Gemilang, perusahaan jasa pengurusan perizinan. Setiap bulan, perusahaannya menangani sekitar seratus RPTKA. Karena itu, waktu selalu berpacu. Tenggat datang silih berganti. Di saat yang sama, risiko terus menunggu di belakang.

Dalam situasi seperti ini, negara tidak perlu memaksa secara terang-terangan. Ketidakpastian prosedur sudah cukup menjadi alat tekanan yang efektif.

Ini Belum Selesai

BBM Tersendat, ASN WFH Jadi Jawaban: Bagaimana dengan Akar Masalahnya?

Prabowo Bertemu Guterres di Hambalang: Diplomasi Akrab, Hasilnya Harus Terukur

“Kontribusi” yang Lahir dari Negosiasi Terpaksa

Ali memilih menyebut setoran itu sebagai kontribusi. Istilahnya terdengar lunak. Namun di balik kata tersebut, tekanan bekerja tanpa henti.

Pada mulanya, pejabat meminta Rp 500 ribu per dokumen. Jika dikalikan ratusan, angka itu terasa mencekik. Karena itulah Ali mencoba bernegosiasi. Dari proses itulah muncul skema baru setoran bulanan.

Ia memberikan Rp 20 juta kepada Heri Sudarmanto.
Kemudian, Rp 30 juta mengalir ke Wisnu Pramono.
Sementara itu, Rp 30 juta lainnya ia setorkan kepada Haryanto.

Uang tersebut terus mengalir sejak 2011 hingga 2024. Jabatan boleh berganti. Orang bisa berubah. Namun polanya bertahan. Di hadapan jaksa, Ali menegaskan satu hal penting: praktik ini berjalan rutin, bukan kebetulan sesaat.

Pilihan yang Sebenarnya Bukan Pilihan

Ali tidak datang sebagai tokoh suci. Ia juga tidak berdiri sebagai pahlawan. Ia hadir sebagai manusia yang terjepit oleh keadaan.

Saat ia menolak menyetor, dokumen kliennya terhenti. Ketika dokumen terhenti, kliennya menanggung kerugian. Jika klien pergi, bisnisnya runtuh. Dalam situasi seperti itu, hukum terasa jauh, sementara tekanan hadir sangat dekat.

Di titik inilah sistem tidak perlu mengancam. Rasa takut sudah cukup membuat orang bergerak mengikuti kehendak penguasa meja.

Delapan Terdakwa dan Aliran Uang Miliaran

Kasus ini tidak berhenti pada satu nama. Jaksa menyeret delapan terdakwa dari berbagai lapisan birokrasi, mulai dari eks Direktur Jenderal hingga staf. Dari persidangan, terungkap aliran uang dengan angka yang mencengangkan.

Totalnya mencapai Rp 135,29 miliar.

Angka tersebut bukan sekadar hitungan matematis. Ia mencerminkan ribuan izin yang sengaja diperlambat. Ia juga menggambarkan ratusan pertemuan senyap di balik pintu kantor. Lebih dari itu, angka ini menandai bagaimana pemerasan bekerja secara kolektif dan terstruktur.

Uang mengalir ke banyak tangan. Sistem bergerak rapi. Hampir tak ada yang tampak kebetulan.

Sistem Digital yang Sengaja Dibiarkan Gelap

Jaksa mengurai modus para terdakwa. Mereka membiarkan pengajuan RPTKA menggantung di sistem daring tanpa penjelasan. Tidak ada notifikasi. Kepastian pun absen. Tenggat waktu menjadi kabur.

Akibatnya, pemohon yang gelisah mendatangi kantor secara langsung. Pada titik itulah petugas menawarkan “jalan keluar”. Proses bisa berjalan asal ada uang di luar biaya resmi. Tanpa setoran, pengajuan berhenti. Jadwal wawancara tidak muncul. HPK tak pernah terbit. RPTKA pun lenyap tanpa kabar.

Alih-alih menciptakan transparansi, sistem digital justru berubah menjadi lorong sempit yang hanya bisa dilewati dengan uang.

Refleksi Tabooo: Negara dan Kesabaran yang Diuji

Kasus ini tidak semata-mata soal pejabat yang rakus. Lebih dalam dari itu, perkara ini membuka wajah negara yang membiarkan prosedur menjadi rumit dan berlapis. Ketika birokrasi berubah menjadi labirin, pemerasan tumbuh subur.

Ali bukan satu-satunya korban. Ia hanya salah satu yang berani bersuara. Di luar ruang sidang, banyak pengusaha lain memilih diam. Bukan karena setuju, melainkan karena lelah melawan sistem yang terasa kebal.

Sering kali, sistem bersembunyi di balik kata “aturan”. Padahal, di balik aturan itu, manusia dipaksa berkompromi dengan nuraninya sendiri.

Pertanyaan yang Tertinggal

Sidang akan terus berjalan. Vonis akan dijatuhkan. Nama-nama akan tercatat dalam putusan pengadilan. Namun satu pertanyaan tetap menggantung:

Berapa banyak “kontribusi” serupa yang masih mengalir hari ini karena sistem belum berubah?

Dan jika praktik ini terus berulang, siapa yang sebenarnya sedang kita adili mereka yang memeras, atau negara yang membiarkan pemerasan berlangsung diam-diam? @dimas

Tags: Reformasi Birokrasi

Kamu Melewatkan Ini

Lagi-Lagi OTT: Tangkap Pelaku, Kapan Sistem Dibenahi?

Lagi-Lagi OTT: Tangkap Pelaku, Kapan Sistem Dibenahi?

by dimas
Oktober 14, 2026

OTT KPK terus berulang, tetapi korupsi belum tuntas. Mengapa penindakan belum cukup? Saatnya membenahi sistem dan menutup celah korupsi. Tabooo.id...

Raja Kecil dan Raja Besar: Berebut Kuasa di Birokrasi

Raja Kecil dan Raja Besar: Berebut Kuasa di Birokrasi

by dimas
September 19, 2026

Raja kecil dan raja besar sama-sama menguji birokrasi. Saat kewenangan berubah menjadi kekuasaan, siapa yang sebenarnya mengendalikan negara? Tabooo.id -...

Meritokrasi di Panggung, Lobakrasi di Belakang Layar

Meritokrasi di Panggung, Lobakrasi di Belakang Layar

by dimas
September 9, 2026

Meritokrasi digaungkan, tetapi dugaan jual-beli jabatan terus muncul. Ketika kompetensi kalah oleh uang, lobakrasi menggerogoti birokrasi. Tabooo.id - Meritokrasi terdengar...

Next Post
Jelang Nataru 2025, Kapolri Waspadai Bencana dan Kejahatan

Jelang Nataru 2025, Kapolri Waspadai Bencana dan Kejahatan

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id