Tabooo.id: Nasional – Di tengah riuh pertarungan internal yang menyeret Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) ke dalam pusaran legitimasi dan klaim kekuasaan, satu nama tiba-tiba muncul sebagai poros penenang KH Zulfa Mustofa. Ia ditetapkan sebagai Penjabat (Pj) Ketua Umum dalam rapat pleno di Hotel Sultan, Jakarta, Selasa (10/12/2025) sebuah rapat yang sejak awal sudah memantik perdebatan dan memisahkan NU ke dua garis tegas: yang menganggapnya sah, dan yang menilai langkah itu menabrak aturan.
Ruang rapat yang dipenuhi kursi berlapis kain tebal dan cahaya kuning hangat itu menjadi saksi bagaimana satu keputusan dapat mengubah ritme organisasi yang belakangan berjalan pincang. Ketika Zulfa berdiri, suasana ruangan seolah merapat. Tidak ada pidato panjang, tidak ada pernyataan politik. Hanya kalimat pendek yang meluncur, tapi cukup untuk menunjukkan arah.
“Perbedaan itu ada, baik di kalangan kiai kultural maupun struktural. Langkah awal kami adalah rapat secepatnya.”
Di tengah suhu organisasi yang sedang mendidih, ketenangannya justru tampak mencolok. Seolah Zulfa tahu betul bahwa setiap kata bisa menjadi api, ia memilih menjadi air. Tanpa jeda, ia langsung menjadwalkan rapat gabungan Syuriyah-Tanfidziyah pada Sabtu (13/12/2025), sejenis panggilan darurat bagi tubuh NU yang belakangan bergerak dengan irama tak kompak.
Misi Menyatukan Rumah yang Retak
Usai pleno, Rais Syuriah PBNU M Nuh memaparkan arah besar yang harus ditempuh Zulfa sebagai pejabat pengendali sementara. Gambaran yang muncul NU seperti rumah tua yang dindingnya mulai retak, dan Zulfa diminta menjadi tukang yang bekerja tanpa banyak waktu. Ia harus menambal keretakan internal, menyuntik tenaga baru ke wilayah dan cabang, mempersiapkan Konferensi Besar dan Muktamar abad kedua, sekaligus memastikan peringatan 100 tahun NU versi Masehi berjalan tanpa tersandung konflik.
Semuanya terdengar penting, tetapi pada kenyataannya agenda-agenda besar itu berada di bawah bayang-bayang satu masalah utama: NU sedang kehilangan kesepahaman. Bahkan soal tanggal Muktamar pun belum bisa disepakati.
“Masih belum. Kita akan bahas hari Sabtu besok,” kata Nuh, memberi isyarat betapa NU kini harus bergerak sambil merapikan diri.
Siapa Diuntungkan, Siapa Tersisih
Penunjukan Zulfa memunculkan gelombang baru di tubuh NU. Dalam organisasi sebesar ini, setiap keputusan tidak berdiri sendirianselalu ada pihak yang merasa naik kelas, dan pihak lain yang merasa digeser.
Di satu sisi, kelompok yang condong ke Syuriyah mendapatkan angin segar. Pleno yang mereka dorong sukses melahirkan pemimpin transisi, dengan legitimasi moral yang kini diperjuangkan di ruang publik. Figur-figur yang menginginkan perubahan arah PBNU pun melihat kesempatan membuka babak baru sebelum Muktamar digelar. Bahkan beberapa aktor politik nasional disebut-sebut memantau gerak ini sebagai bagian dari dinamika menjelang kontestasi besar 2026–2027.
Namun di sisi lain, kubu Tanfidziyah dan para pendukung Gus Yahya merasa keputusan itu merobek AD/ART dan mengancam stabilitas organisasi. Di akar rumput, warga NU kembali menjadi korban kelelahan psikologis dari pertengkaran elite yang tak berkesudahan. Banyak program keagamaan dan sosial harus tertunda, menunggu para pemimpinnya berdamai.
Zulfa: Keteguhan di Tengah Gemuruh
Saat namanya diumumkan, banyak pasang mata memandangnya sebagai figur transisi yang harus bekerja dalam waktu singkat tapi penuh risiko. Zulfa menyambut mandat itu tidak dengan kegugupan, melainkan dengan sikap yang menunjukkan bahwa ia memahami betul betapa genting situasi yang ia masuki.
Ia tahu masa baktinya hanya sampai Muktamar 2026 yang hingga kini pun masih menjadi misteri. Apakah digelar sebelum atau sesudah Hari Raya Haji? Apakah benar hanya mengembalikan siklus Muktamar yang sempat mundur akibat pandemi? Semua itu tergantung pada rekonsiliasi yang belum benar-benar terjadi.
Di atas permukaan, semuanya tampak terkendali. Tetapi di bawahnya, NU berada dalam titik paling rapuh dalam satu dekade terakhir. Satu langkah salah bisa memperlebar retak; satu langkah tepat bisa menjadi awal penyembuhan.
NU di Persimpangan: Pendingin Suhu atau Pemantik Api?
Penunjukan Zulfa bisa jadi jeda yang menenangkan sebelum fase baru konsolidasi NU, namun bisa juga hanya menjadi jeda yang menipu sebelum konflik berikutnya menggelegak. Yang menentukan bukan sekadar siapa yang memimpin, tetapi apakah elite NU benar-benar menginginkan rumah besar ini tetap berdiri, atau mereka lebih sibuk mempertahankan kursi masing-masing.
Dan masyarakat luas, yang selama ini hanya bisa menyaksikan dari luar jendela, sudah memahami satu hal sederhana dan pahit.
Ketika para penghuni rumah sibuk bertengkar, biasanya bukan air mata yang keluar melainkan atap yang lebih dulu ambruk. @dimas





