Selasa, Juni 23, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Disabilitas Bisa Bekerja, Tapi Sistemnya Bisa Akomodatif Nggak?

by dimas
Desember 5, 2025
in Talk
A A
Home Talk
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Talk – Pernah nggak kamu ngerasa heran sama satu hal ini? Kenapa ya, di atas kertas semua orang dijamin punya hak yang sama untuk bekerja, tapi begitu masuk dunia nyata hak itu seperti tinggal fotokopian lusuh yang ditempel di tembok kantor. Khususnya buat teman-teman penyandang disabilitas, gap antara “Janji Undang-Undang” dan “Realita di Lapangan” kadang lebarnya kayak jurang dua bukit yang belum ada jembatannya.

Dan jujur, kita semua tahu masalahnya bukan cuma soal fasilitas. Masalah utamanya adalah stigma. Yup, si kecil yang diam-diam ngatur persepsi, keputusan, sampai nasib orang.

Hak Sudah Ada Tapi Kok Kayak Nggak Ada

Secara hukum, penyandang disabilitas harusnya bisa kerja di mana aja. Mau jadi admin, programmer, barista, sampai analis data pun bisa banget. Tapi di lapangan banyak perusahaan masih melihat disabilitas dengan kacamata “takut ribet”, “takut risiko”, atau “takut nggak produktif”.

Padahal kalau mau jujur, semua alasan itu lebih mirip asumsi daripada fakta. Penelitian Keterbatasan vs Kesempatan mengungkapkan bahwa stigma dan minimnya literasi inklusi adalah biang kerok rendahnya partisipasi disabilitas di sektor formal.

Karena dianggap “repot”, banyak dari mereka akhirnya tersedot ke sektor informal. Tanpa kontrak, tanpa BPJS, tanpa perlindungan kerja. Ironisnya, kemampuan mereka sebenarnya sama luasnya dengan kemampuan siapa pun. Tapi apa daya, stigma lebih cepat masuk ke kepala HRD dibanding CV mereka.

Ini Belum Selesai

Apakah Sistem Listrik Indonesia Sedang Menuju Krisis?

Indonesia Kaya Budaya, Tapi Kita Terlalu Haus Validasi Asing?

Pendidikan Tinggi Masih Jadi Lintasan Berliku

Kamu mungkin mikir, lah kan ada pendidikan. Iya, ada. Tapi aksesnya nggak merata.

Lestari Moerdijat dari MPR pernah bilang bahwa hanya sebagian kecil penyandang disabilitas yang bisa lanjut kuliah. Alasannya klasik tapi tetap menyakitkan: fasilitas minim, biaya berat, dukungan sistemik tipis.

Kalau akses pendidikan tinggi saja sudah sulit, gimana mau bersaing di pasar kerja yang makin kompetitif? Hasilnya bisa ditebak, peluang mengecil, ruang kerja formal makin sempit, sementara pekerjaan yang tersedia kebanyakan non-formal. Lagi-lagi, siklusnya berulang.

Tapi Kan Sekarang Banyak Program Inklusif Perspektif Kubu Optimis

Nah, sekarang kita masuk ke kubu sebelah. Kubu yang bilang, nggak kok kita sudah inklusif dan banyak program baru sekarang.

Dan benar, ada titik-titik cahaya.

Di Sidoarjo, Job Fair Inklusif Hybrid baru-baru ini membuka lebih dari 100 lowongan untuk penyandang disabilitas. Di Jakarta, rangkaian job fair tahun ini diklaim membantu sekitar 150 penyandang disabilitas masuk kerja formal.

Belum lagi program SheAblepreneur yang bantu perempuan disabilitas bikin usaha lewat pelatihan digital dan manajemen bisnis. Banyak UMKM difabel juga makin menunjukkan taringnya dengan produk yang tembus platform global.

Kalau mau jujur, ini perkembangan penting. Tapi apakah sudah cukup? Eits, jangan buru-buru optimis dulu.

Sisi Gelap yang Tetap Nempel Model Lama yang Belum Mau Pergi

Meski sudah ada program inklusif, masalah terbesar masih sama yaitu cara pandang.

Banyak orang masih pakai “moral model” yang merasa harus mengasihani penyandang disabilitas. Atau “charity model” yang melihat mereka sebagai objek bantuan.

Padahal dunia sudah bergeser ke model sosial. Artinya, hambatan bukan di tubuh mereka tetapi di lingkungan yang nggak aksesibel.

Bayangin kalau kita masih berpikir “kasihan ya dia pasti susah kerja”. Itu bukan empati, tapi bias yang dibungkus niat baik. Beda tipis tapi efeknya besar. Sama saja dengan bilang, kamu boleh kerja tapi jangan yang terlalu sulit ya.

Saat sistem tidak berubah, peluang juga tidak akan ikut berubah.

Tabooo Talk Jujur Aja Kita Semua Pernah Berkontribusi ke Stigma Ini

Jujur saja mungkin kita pernah tanpa sadar ikut mempertahankan stigma. Pernah ragu ngajak teman disabilitas kerja bareng? Pernah mikir mereka butuh dikasihani? Atau diam saja waktu lihat perusahaan cuma pasang lowongan untuk pelamar non-disabilitas?

Nggak apa-apa ngaku. Yang penting berubah.

Tabooo percaya bahwa empati tanpa aksi itu cuma basa-basi. Perusahaan perlu mulai investasi pada akomodasi kerja, bukan cuma menghindari kerumitan. Pendidikan tinggi perlu jadi ruang inklusi nyata, bukan sekadar brosur kampus. Dan kita sebagai masyarakat harus berhenti menempatkan penyandang disabilitas dalam kotak tidak mampu.

Kalau kotak itu terus dipakai, selamanya mereka akan dianggap berbeda. Padahal yang berbeda sebenarnya adalah sistemnya, bukan manusianya.

Jadi Kita Mau ke Mana

Akhirnya semua kembali pada pertanyaan simpel tapi penting. Kita mau mempertahankan status quo atau mau bantu membuka pintu?

Kita bisa mulai dari hal kecil cara ngomong, cara berpikir, cara memberi ruang bagi teman-teman disabilitas untuk hadir sebagai individu kompeten, bukan objek belas kasihan.

Kesetaraan bukan jargon. Buat penyandang disabilitas ini adalah jalur hidup, jalan menuju martabat dan kemandirian.

Lalu kamu di kubu mana? @dimas

Tags: InklusiKesetaraanTabooo Talk

Kamu Melewatkan Ini

Wahyu Keprabon adalah Suara Rakyat, Takhta adalah Dukungan Rakyat

Wahyu Keprabon adalah Suara Rakyat, Takhta adalah Dukungan Rakyat

by Tabooo
Mei 29, 2026

Wahyu Keprabon hari ini tidak bisa lagi hanya dibaca sebagai tanda langit. Dalam demokrasi modern, rakyatlah yang menghidupkan wahyu itu...

Ruang Rapat, Asbak, dan Game Online: Paket Lengkap Demokrasi?

Ruang Rapat, Asbak, dan Game Online: Paket Lengkap Demokrasi?

by teguh
Mei 16, 2026

Di ruang rapat membahas soal stunting mestinya menghadirkan kegelisahan bersama. Angka kematian ibu, kesehatan bayi, hingga campak jelas bukan bahan...

Main Game Saat Rapat DPRD: Human Error atau Bentuk Tidak Hormat ke Publik?

Main Game Saat Rapat DPRD: Human Error atau Bentuk Tidak Hormat ke Publik?

by teguh
Mei 15, 2026

Saat rapat DPRD membahas stunting, kematian ibu, dan layanan kesehatan warga, publik justru melihat video anggota dewan diduga bermain game...

Next Post
Bisnis Cinta ala Oppa, Tapi Kok Serem?

Bisnis Cinta ala Oppa, Tapi Kok Serem?

Madilog Series

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026

Marx Series

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id