Gerakan Nurani Bangsa & Darurat yang Tak Diakui
Tabooo.id: Edge – Suara perempuan tua itu pecah di antara gemuruh air yang surut. “Anak saya hilang sejak malam,” katanya pelan, seperti bicara pada dirinya sendiri. Lumpur masih menempel di ujung jarinya. Di belakangnya, rumah-rumah yang dulu berdiri tegak kini seperti potongan sejarah yang diremukkan air.
Pulau Sumatra pagi itu tidak hanya basah ia seperti tubuh besar yang kehilangan darahnya terlalu cepat.
Konteks Bencana & Seruan GNB
Di tengah kekacauan itu, Gerakan Nurani Bangsa (GNB) muncul membawa satu pesan keras bencana ini harus ditetapkan sebagai darurat nasional. Seruan itu datang dari tokoh lintas agama dan moral publik Sinta Nuriyah Wahid, Quraish Shihab, Franz Magnis-Suseno, Gomar Gultom, Kardinal Ignatius Suharyo, hingga Lukman Hakim Saifuddin.
Menurut mereka, tragedi yang melumpuhkan aktivitas sosial dan ekonomi di Sumatra bukan lagi peristiwa lokal. Lebih jauh, hilangnya ratusan nyawa menandai skala krisis yang menuntut negara turun dengan kekuatan penuh.
Selain itu, GNB menilai pemerintah perlu bergerak dalam satu komando. Langkah-langkah terpencar tidak akan cukup menghadapi kehancuran yang terjadi serentak di berbagai provinsi. Karena itu, mobilisasi sumber daya nasional harus dilakukan tanpa banyak jeda.
Suara Manusia di Tengah Longsor & Air Bah
Di Nagari Taram, seorang relawan muda menahan napas saat menarik kantong jenazah. Ia tidak sempat mengingat berapa banyak tubuh yang sudah ia evakuasi hari itu. Namun setiap kali menemukan foto keluarga yang terselip di reruntuhan, lututnya terasa gemetar. Ada kisah yang ikut tenggelam bersama air.
Sementara itu, para ibu duduk berdesakan di posko. Mereka menatap kosong, seperti menunggu seseorang memanggil nama mereka dari tumpukan data korban hilang. Di luar posko, bau tanah dan kayu basah mencampur dengan suara helikopter yang mondar-mandir membawa logistik.
Di sisi lain pulau, seorang petani di Aceh mengumpulkan serpihan kandang sapinya. Tangan tuanya gemetar saat menyentuh papan yang sudah patah. Meski begitu, ia tetap memaksa diri untuk berdiri. “Kalau berhenti, saya ikut tenggelam,” ucapnya.
Lintasan kisah-kisah itu menunjukkan satu hal orang-orang bergerak, bertahan, dan saling mengangkat, tetapi mereka tidak bisa berdiri sendirian.
Analisis Reflektif: Apa yang Disembunyikan Sistem?
Pertanyaannya kemudian muncul mengapa bencana sebesar ini masih belum dianggap darurat nasional?
Jawabannya tidak sederhana. Di satu sisi, pemerintah mengklaim penanganan sudah dilakukan secara nasional. Pratikno, Menteri Koordinator PMK, menegaskan bahwa seluruh kementerian, lembaga, TNI-Polri, dan BNPB sudah bergerak maksimal. Dari sudut pandang administratif, status mungkin hanya soal label.
Namun, dari sisi publik, status bukan sekadar sebutan. Ia adalah pesan politik bahwa negara mengakui skala luka yang sedang dialami warganya.
Di balik semua itu, ada kenyataan pahit lain. Longsor dan banjir bandang hampir selalu punya jejak panjang pembukaan hutan, izin-izin yang terlalu mudah, tata ruang yang dibiarkan kabur, hingga pembangunan yang mengorbankan kelestarian. Sering kali, negara hadir sebagai pemadam, bukan penjaga benteng.
Selain faktor itu, GNB mengingatkan bahwa keserakahan manusia tidak bisa terus menuntut bumi untuk bertahan sendirian. Konflik antara ekonomi dan kelestarian, yang selama bertahun-tahun dipinggirkan dari percakapan publik, kini kembali dengan cara paling brutal.
Pertanyaan yang Tersisa
Ketika malam turun di pengungsian, suara air masih terdengar dari kejauhan. Lampu-lampu darurat menggantung seperti kunang-kunang palsu di antara tenda-tenda. Anak-anak mencoba bermain, meski tanah di bawah mereka masih lembek.
Sampai kapan tragedi seperti ini harus diterima sebagai takdir?
Dan lebih penting lagi apa yang harus runtuh terlebih dahulu rumah, hutan, atau nurani agar kita akhirnya berhenti menganggap bencana sebagai kejadian rutin?
Sumatra menunggu jawabannya. Kita semua juga menunggu. Karena pada akhirnya, air selalu kembali. Pertanyaannya hanya apakah kita akan membiarkan kesalahan yang sama ikut kembali bersamanya?. @teguh




