Tabooo.id: Vibes – Ada sesuatu yang magis ketika huruf Arab dan bahasa Jawa bertemu dalam satu halaman. Dua dunia yang seolah berjauhan justru saling merangkul di Nusantara. Kini, sebuah naskah kecil lusuh, bolong, beraroma minyak kayu tiba-tiba muncul dan menarik perhatian. Penulisnya menorehkan tinta tumbuhan pada daluwang pada tahun 1347 M, saat Majapahit masih gagah dan Gajah Mada belum mengucapkan salam perpisahan.
Naskah ini bukan sekadar benda antik. Ia seperti notifikasi dari masa lalu yang berbisik “Hei, sejarah Nusantara jauh lebih cair dibanding timeline yang kalian baca.”
Huruf Arab yang Bicara Jawa
Bayangkan membuka selembar daluwang, lalu menemukan kalimat berhuruf Arab yang justru berbunyi Jawa. Itulah pegon aksara hibrida yang para ulama Nusantara ciptakan untuk menyampaikan ajaran Islam tanpa memutus jarak dengan lidah lokal.
Naskah pegon tertua di Jawa ini muncul secara misterius. Seorang kolektor membawanya ke Salatiga, kemungkinan besar agar naskah itu tidak “kabur” ke luar negeri. Jika naskah itu bisa bicara, mungkin ia akan bergumam sambil ngos-ngosan, “Thanks, bro. Hampir saja.”
Saat Balai Arkeologi Yogyakarta menemukannya pada 2019, kondisinya benar-benar mengenaskan rapuh, berlubang, dan penuh gigitan serangga. Namun justru hal itu menegaskan usianya yang panjang dan ketahanannya untuk tetap bercerita.
Isi yang Menyanyikan Spiritualitas
Penulisnya menuliskan sejarah para nabi dan ajaran tasawuf dalam bentuk tembang. Lembut, ritmis, dan sangat Jawa. Sufisme yang bernyanyi, bukan yang menggurui.
Yang lebih menarik, ia menulis tembang itu pada masa ketika Tribhuwana Tunggadewi memerintah, Gajah Mada memegang kendali politik, dan Hayam Wuruk belum naik takhta. Di tengah kejayaan Majapahit, seorang penulis anonim mengambil lidi aren, mencelupkannya pada tinta alami, lalu menuturkan sejarah Nabi Muhammad dalam bahasa Jawa.
Tindakan sederhana itu memperlihatkan betapa lenturnya masyarakat Majapahit menerima hal baru.
Islam Datang Pelan, Tidak Membelalak
Islam belum menjadi arus besar pada masa itu, tetapi ia hadir perlahan melalui saudagar, kampung kecil, dan makam-makam tua di Tralaya yang memajang aksara Arab. Nisan tahun 1282 M, yang lebih tua dari Majapahit, bahkan menunjukkan keberadaan komunitas muslim yang hidup jauh sebelum kerajaan itu berdiri.
Naskah pegon ini ikut menegaskan jejak tersebut. Ia tidak hanya mencatat ajaran, tetapi juga menggambarkan kehidupan spiritual umat muslim yang hidup berdampingan dengan masyarakat Majapahit.
Sejarah yang Muncul Seperti FYP
Di era digital, sejarah sering tampil seperti video pendek: muncul cepat, viral sebentar, lalu tenggelam oleh gosip selebriti dan drama politik. Naskah ini mengalami nasib serupa. Headline kecil sempat memotret kehadirannya, tetapi perhatian publik segera berpindah ke hal lain.
Padahal, temuan ini luar biasa penting. Naskah ini merupakan aksara pegon tertua di Jawa, ditulis pada masa Majapahit emas, sebelum nama Walisongo mengisi buku pelajaran, dan sebelum Islam menjadi arus besar di tanah Jawa.
Pegon: Peta Identitas Nusantara
Dari sudut pandang Tabooo, naskah ini bukan sekadar temuan arkeologis. Ia adalah metafora identitas. Pegon menunjukkan bahwa budaya Nusantara selalu senang membuat remix. Jawa bertemu Islam, lalu lahirlah tembang sufi berhuruf Arab. Bukan penaklukan. Bukan pemaksaan. Melainkan adaptasi kreatif.
Islamisasi Jawa pun berjalan lembut. Ia hadir sebagai tembang, ajaran estetis, dan laku batin. Masyarakat Jawa menerimanya tanpa rasa terancam, justru menganggapnya sebagai bagian baru dalam kehidupan spiritual mereka.
Dalam perdebatan identitas hari ini, naskah ini seperti guru tua yang menenangkan “Tenang. Nusantara itu cair. Sejak dulu begitu.”
Surat dari Leluhur
Naskah ini memang tidak menyebut Tribhuwana Tunggadewi atau Gajah Mada, tetapi keberadaannya membuktikan kehadiran komunitas muslim yang hidup, menulis, dan berdoa di tengah hegemoni Majapahit. Ketika kita membaca lembaran rapuh itu hari ini, rasanya seperti membuka surat dari leluhur bahasa yang tidak sepenuhnya kita pahami, aksara yang sederhana, tetapi tulus dan jernih.
Di balik halaman bolong itu, kita melihat cermin diri kita sendiri bangsa yang tidak pernah satu warna, tetapi selalu mampu menciptakan harmoni.
Penutup: Pelajaran dari Lembaran Rapuh
Naskah tua ini terasa lebih hidup daripada banyak perdebatan identitas hari ini. Ia tidak berteriak soal siapa yang paling Jawa atau paling Islami. Ia hanya melakukan satu tugas sederhana bercerita.
Sejarah Nusantara bukan hanya soal perebutan kuasa, tetapi juga tentang kemampuan kita menulis ulang dunia dengan tinta baru tanpa menghapus yang lama.
Naskah dari tahun 1347 M ini mengingatkan hal itu pelan, lembut, tetapi tegas seperti tembang yang dibisikkan di atas daluwang.
Di zaman yang serba cepat ini, pertanyaannya tinggal satu maukah kita belajar dari sesuatu yang berjalan pelan, tetapi bertahan 700 tahun? @dimas




