• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap
Kamis, Maret 26, 2026
  • Login
No Result
View All Result
tabooo.id
  • Tabooo
  • News
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Tabooo
  • News
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Life
  • Talk
  • Vibes
No Result
View All Result
tabooo.id
No Result
View All Result
Home Talk

Negara Sibuk Drama, Sistem Tetap Sama

November 29, 2025
in Talk
A A
Negara Sibuk Drama, Sistem Tetap Sama

Ilustrasi tentang negara yang selalu datang terlambat baru bergerak ketika api sudah membesar dan warga hanya bisa menunggu dalam gelap. (Foto Ilustrasi Dimas P Tabooo.id)

Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Talk – Kadang negara ini terasa seperti admin TikTok sibuk membalas komentar viral, bukan mengatur arah besar. Setiap ada kejadian yang naik di timeline, barulah pemerintah muncul klarifikasi, inspeksi mendadak, konferensi pers. Bukan karena strategi, tapi karena heboh. Dari pesantren ambruk sampai puskesmas diprotes warga, reaksi negara datang setelah bencana, seolah-olah kebijakan kita digerakkan oleh notifikasi, bukan visi. Kalau ada yang bilang Indonesia sedang kuat, betul kuat menanggapi drama. Soal membaca masa depan? Masih dalam tahap magang.

Bangsa Pemadam Kebakaran

Dalam teori kebijakan publik, prosesnya runut analisis, strategi, implementasi, evaluasi. Tapi di Indonesia, kita seperti skip prolog dan langsung mengeksekusi solusi dadakan. Pesantren roboh, barulah pengawasan bangunan dipertanyakan. Siswa meninggal, baru ada inspeksi nasional sekolah. Puskesmas viral, barulah kualitas pelayanan dibahas. Bahkan ketika Ratu Máxima bicara tentang literasi keuangan, respons kita berupa ajakan membuka rekening bank bukan perbaikan literasi atau perlindungan konsumen yang ia maksud. Polanya jelas negara bergerak karena kejadian, bukan karena kesiapan. Seperti mahasiswa yang baru serius menulis skripsi setelah kena ultimatum.

Respons Cepat yang Tidak Pernah Dalam

Kita harus adil di era media sosial, negara memang dituntut respons cepat. Lambat sedikit, publik marah diam sedikit, teori konspirasi bermunculan. Namun respons cepat berbeda dengan respons mendalam. Yang terjadi selama ini hanyalah ritus simbolik pejabat datang ke lokasi, kamera menyala, instruksi spontan keluar, klarifikasi singkat dibuat. Tapi akar masalahnya tetap tertanam. Standar keselamatan sekolah tetap rapuh, data fasilitas kesehatan tetap tidak lengkap, dan koordinasi antar kementerian tetap seperti rapat keluarga yang tidak pernah hadir penuh. Negara memadamkan api di permukaan, tetapi membiarkan percikan yang sama muncul lagi.

RelatedPosts

Langkah di Bali Butuh Lebih dari Sekadar Mata

Tahanan Rumah untuk Pejabat, Ujian Konsistensi Penegakan Hukum

Visi yang Rapi, Kerja yang Berantakan

Ironisnya, Indonesia punya dokumen visi paling lengkap di Asia RPJMN, RPJPN, cetak biru teknologi, peta jalan ekonomi, strategi desa, bahkan masterplan ketahanan bencana. Di atas kertas, negara ini seperti orkestra. Dalam praktik? Setiap kementerian berjalan seperti band indie yang latihan terpisah-pisah. Data tidak terintegrasi, indikator tidak sama, dan target lebih sering mengikuti kepentingan politik ketimbang kebutuhan publik. Ketika tragedi datang, negara baru sadar bahwa tanpa data, kebijakan hanyalah tebakan bersuara lantang.

Simbolisme yang Menutupi Lubang Besar

Instruksi membuka rekening bank, kunjungan lokasi bencana, teguran mendadak semuanya simbol. Simbol yang mungkin menenangkan publik, tapi tidak menyelesaikan masalah. Inilah yang Tabooo sebut symbolic governance: negara terlihat bekerja, namun tidak benar-benar memperbaiki struktur. Sementara itu, masalah sistemik tetap berjalan bangunan tidak diaudit, fasilitas kesehatan tidak diperbaiki, pekerja rentan tetap dibiarkan. Negara sibuk mengurus persepsi, bukan kapasitas.

Saat Insiden Harusnya Memicu Reformasi

Di negara lain, insiden kecil bisa melahirkan reformasi besar. Satu sekolah runtuh di Jepang langsung memicu audit nasional ribuan bangunan dan revisi sistem inspeksi. Beberapa kecelakaan kecil di Singapura melahirkan standar keselamatan baru. Korea Selatan mengubah kurikulum keselamatan publik setelah satu tragedi feri. Di sana, insiden adalah peringatan dini. Di sini, insiden adalah konten media direspons, bukan diperbaiki.

Saatnya Naik Level

Kalau negara terus hidup dari respons viral, kita akan terus jadi bangsa yang sibuk mengejar heboh, bukan mengejar masa depan. Padahal sumber daya kita besar generasi muda cerdas, energi sosial melimpah, teknologi tumbuh cepat, anggaran memadai. Yang hilang bukan kemampuan, tapi strategic discipline disiplin untuk mengaitkan keputusan hari ini dengan arah 20 tahun ke depan. Masa depan tidak dibentuk oleh drama harian, tidak ditentukan oleh trending topic, dan tidak datang dari klarifikasi tergesa-gesa. Masa depan lahir dari negara yang berhenti panik dan mulai berpikir jauh.

Pada akhirnya, pertanyaannya sederhana:
kita mau terus hidup di negara yang sibuk memadamkan api,
atau negara yang mampu merencanakan jalan sebelum gelap datang?

Dan kamu di kubu yang mana? @dimas

Tags: Governance LemahKebijakan ViralMasa Depan KaburNegara ReaktifPemerintahPanikPolitik SimbolikReformasi SistemikTabooo TalkVisi Hilang
Next Post
Naskah Pegon Majapahit: Harmoni Jawa dan Arab

Surat Tua Majapahit yang Mengubah Peta Sejarah Islam Jawa

Recommended

Check Fakta: Supermoon Bikin Gempa?

Check Fakta: Supermoon Bikin Gempa?

6 bulan ago
Surabaya Siaga Bantu Korban Banjir dan Longsor Sumatera

Surabaya Siaga Bantu Korban Banjir dan Longsor Sumatera

4 bulan ago

Popular News

  • Bersua Sang Raja: Momen Langka Warga Bisa Bertatap Langsung dengan Raja Surakarta

    Bersua Sang Raja: Momen Langka Warga Bisa Bertatap Langsung dengan Raja Surakarta

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bersua Sang Raja: No Jeans, No Kaos

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bersua Sang Raja: Silaturahmi atau Ujian Etika?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • OnePlus 15T Rilis: Baterai 7.500 mAh, HP Tahan 40 Jam Nonstop

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Benarkah iPhone Bisa Jadi Mesin EDC?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap
PT Tabooo Network Indonesia

© 2025 Tabooo.id - Bicara Tabu, Itu Tabooo! @TaboooNetwork.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Life
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Talk
  • Vibes

© 2025 Tabooo.id - Bicara Tabu, Itu Tabooo! @TaboooNetwork.