Sabtu, Mei 16, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Negara Sibuk Drama, Sistem Tetap Sama

by dimas
November 29, 2025
in Talk
A A
Home Talk
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Talk – Kadang negara ini terasa seperti admin TikTok sibuk membalas komentar viral, bukan mengatur arah besar. Setiap ada kejadian yang naik di timeline, barulah pemerintah muncul klarifikasi, inspeksi mendadak, konferensi pers. Bukan karena strategi, tapi karena heboh. Dari pesantren ambruk sampai puskesmas diprotes warga, reaksi negara datang setelah bencana, seolah-olah kebijakan kita digerakkan oleh notifikasi, bukan visi. Kalau ada yang bilang Indonesia sedang kuat, betul kuat menanggapi drama. Soal membaca masa depan? Masih dalam tahap magang.

Bangsa Pemadam Kebakaran

Dalam teori kebijakan publik, prosesnya runut analisis, strategi, implementasi, evaluasi. Tapi di Indonesia, kita seperti skip prolog dan langsung mengeksekusi solusi dadakan. Pesantren roboh, barulah pengawasan bangunan dipertanyakan. Siswa meninggal, baru ada inspeksi nasional sekolah. Puskesmas viral, barulah kualitas pelayanan dibahas. Bahkan ketika Ratu Máxima bicara tentang literasi keuangan, respons kita berupa ajakan membuka rekening bank bukan perbaikan literasi atau perlindungan konsumen yang ia maksud. Polanya jelas negara bergerak karena kejadian, bukan karena kesiapan. Seperti mahasiswa yang baru serius menulis skripsi setelah kena ultimatum.

Respons Cepat yang Tidak Pernah Dalam

Kita harus adil di era media sosial, negara memang dituntut respons cepat. Lambat sedikit, publik marah diam sedikit, teori konspirasi bermunculan. Namun respons cepat berbeda dengan respons mendalam. Yang terjadi selama ini hanyalah ritus simbolik pejabat datang ke lokasi, kamera menyala, instruksi spontan keluar, klarifikasi singkat dibuat. Tapi akar masalahnya tetap tertanam. Standar keselamatan sekolah tetap rapuh, data fasilitas kesehatan tetap tidak lengkap, dan koordinasi antar kementerian tetap seperti rapat keluarga yang tidak pernah hadir penuh. Negara memadamkan api di permukaan, tetapi membiarkan percikan yang sama muncul lagi.

Visi yang Rapi, Kerja yang Berantakan

Ironisnya, Indonesia punya dokumen visi paling lengkap di Asia RPJMN, RPJPN, cetak biru teknologi, peta jalan ekonomi, strategi desa, bahkan masterplan ketahanan bencana. Di atas kertas, negara ini seperti orkestra. Dalam praktik? Setiap kementerian berjalan seperti band indie yang latihan terpisah-pisah. Data tidak terintegrasi, indikator tidak sama, dan target lebih sering mengikuti kepentingan politik ketimbang kebutuhan publik. Ketika tragedi datang, negara baru sadar bahwa tanpa data, kebijakan hanyalah tebakan bersuara lantang.

Simbolisme yang Menutupi Lubang Besar

Instruksi membuka rekening bank, kunjungan lokasi bencana, teguran mendadak semuanya simbol. Simbol yang mungkin menenangkan publik, tapi tidak menyelesaikan masalah. Inilah yang Tabooo sebut symbolic governance: negara terlihat bekerja, namun tidak benar-benar memperbaiki struktur. Sementara itu, masalah sistemik tetap berjalan bangunan tidak diaudit, fasilitas kesehatan tidak diperbaiki, pekerja rentan tetap dibiarkan. Negara sibuk mengurus persepsi, bukan kapasitas.

Ini Belum Selesai

Saat Inovator Mulai Menjauh dari Negara

Kampus atau Katering? Ketika Ruang Ilmu Mulai Sibuk Urus Dapur

Saat Insiden Harusnya Memicu Reformasi

Di negara lain, insiden kecil bisa melahirkan reformasi besar. Satu sekolah runtuh di Jepang langsung memicu audit nasional ribuan bangunan dan revisi sistem inspeksi. Beberapa kecelakaan kecil di Singapura melahirkan standar keselamatan baru. Korea Selatan mengubah kurikulum keselamatan publik setelah satu tragedi feri. Di sana, insiden adalah peringatan dini. Di sini, insiden adalah konten media direspons, bukan diperbaiki.

Saatnya Naik Level

Kalau negara terus hidup dari respons viral, kita akan terus jadi bangsa yang sibuk mengejar heboh, bukan mengejar masa depan. Padahal sumber daya kita besar generasi muda cerdas, energi sosial melimpah, teknologi tumbuh cepat, anggaran memadai. Yang hilang bukan kemampuan, tapi strategic discipline disiplin untuk mengaitkan keputusan hari ini dengan arah 20 tahun ke depan. Masa depan tidak dibentuk oleh drama harian, tidak ditentukan oleh trending topic, dan tidak datang dari klarifikasi tergesa-gesa. Masa depan lahir dari negara yang berhenti panik dan mulai berpikir jauh.

Pada akhirnya, pertanyaannya sederhana:
kita mau terus hidup di negara yang sibuk memadamkan api,
atau negara yang mampu merencanakan jalan sebelum gelap datang?

Dan kamu di kubu yang mana? @dimas

Tags: Tabooo Talk

Kamu Melewatkan Ini

Main Game Saat Rapat DPRD: Human Error atau Bentuk Tidak Hormat ke Publik?

Main Game Saat Rapat DPRD: Human Error atau Bentuk Tidak Hormat ke Publik?

by teguh
Mei 15, 2026

Saat rapat DPRD membahas stunting, kematian ibu, dan layanan kesehatan warga, publik justru melihat video anggota dewan diduga bermain game...

Dari Ujung Timur ke Dunia: Papua Tak Lagi Sekadar Pinggiran

Dari Ujung Timur ke Dunia: Papua Tak Lagi Sekadar Pinggiran

by teguh
Mei 10, 2026

Papua tak lagi sekedar pinggiran. Dulu, banyak orang menyebut Papua sebagai “ujung Indonesia”. Tempat yang terasa jauh, mahal dijangkau, dan...

Indonesia Suka Resmikan Kabel. Yang Sering Putus Justru Harapan

Indonesia Suka Resmikan Kabel. Yang Sering Putus Justru Harapan

by teguh
Mei 10, 2026

Papua akhirnya mendapat jalur internet baru yang katanya lebih cepat, lebih global, dan lebih tangguh. Indonesia suka resmikan Kabel dan...

Next Post
Naskah Pegon Majapahit: Harmoni Jawa dan Arab

Surat Tua Majapahit yang Mengubah Peta Sejarah Islam Jawa

Pilihan Tabooo

Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Peristiwa Yesus Naik Ke Surga: Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Mei 10, 2026

Realita Hari Ini

Jurnalis Kalteng Diteror Usai Ajakan Nobar “Pesta Babi”, Diancam Disiram Air Keras

Jurnalis Kalteng Diteror Usai Ajakan Nobar “Pesta Babi”, Diancam Disiram Air Keras

Mei 15, 2026

Disekap dan Diperkosa: Ironi Mahasiswi Makassar Saat Mencari Pekerjaan

Mei 15, 2026

“Sepatu Kekecilan” dan Tragedi Siswa SMK Samarinda yang Mengguncang Publik

Mei 15, 2026

300 Rumah Terendam Saat Warga Tidur: Banjir Lumajang Datang dari Hulu

Mei 15, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Figures

© 2026 Tabooo.id