Minggu, Juni 28, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Mang Jai, Tukang Gali Kubur yang Mengabdikan Hidup Tanpa Upah

by dimas
November 27, 2025
in Life
A A
Home Life
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Life – Senin pagi di Bukit Lama, Pangkalpinang, Kepulauan Bangka Belitung. Matahari masih malu-malu menembus kabut tipis di antara nisan-nisan tua, ketika Mang Jailani, akrab disapa Mang Jai (65), mengayunkan cangkulnya dengan ritme yang tak terburu-buru. Tangan yang keriput itu menembus tanah yang padat, mencari celah-celah sempit untuk dua kuburan yang harus siap sebelum petang.

“Sudah sering tumpang tindih. Kadang ketemu tengkorak, tidak tahu identitasnya, kami pindahkan saja,” ujarnya datar, sambil menatap tanah yang baru digali.

Di sekelilingnya, nisan-nisan berusia puluhan bahkan ratusan tahun berdiri seperti saksi bisu perjalanan hidup dan mati masyarakat Pangkalpinang. Bukit Lama sendiri menempati sekitar tiga hektar lahan, hanya beberapa langkah dari hiruk-pikuk Pasar Pagi, dan diyakini sudah ada sejak tahun 1890.

Mang Jai bukan sekadar menggali kubur. Ia menjaga makam, membersihkan nisan, dan memastikan jenazah mendapat tempat yang layak. Lebih dari empat dekade ia menekuni pekerjaan ini. Namun, jangan bayangkan gaji besar atau fasilitas mewah. Mang Jai bekerja tanpa honor tetap, bahkan ketika pandemi Covid-19 melanda. “Insentif Covid katanya jutaan, saya tidak pernah menerima, padahal yang dikuburkan sudah macam-macam terjangkit dan sebagainya,” katanya sambil tersenyum pahit.

Bagi Mang Jai, pekerjaan ini bukan soal materi.

Ini Belum Selesai

Persaudaraan sebagai Modal Sosial di Tengah Masyarakat Modern

Piagam Ada, Kursi Hilang: Siapa yang Kalah di Jalur Prestasi SMP Mojokerto?

“Kalau gali kubur tidak pernah meminta dan tidak boleh meminta dibayar. Kalau ada yang memberi seikhlasnya diterima,” ujarnya.

Setiap ayunan cangkulnya adalah ibadah, setiap langkahnya di antara makam adalah doa yang bergerak.

Kehidupan di Antara Makam

Data menunjukkan, Indonesia memiliki ribuan makam umum di perkotaan yang terus menipis seiring pertumbuhan penduduk. Bukit Lama hanyalah salah satu contoh nyata. Lahan terbatas, ruang kosong kian sempit, dan setiap liang yang digali sering kali menemukan sisa sejarah tengkorak yang sudah lama tak dikenali, tanah yang menumpuk dengan cerita.

Mang Jai mengaku bahwa menghadapi kematian bukan hal menakutkan baginya.

“Kalau bertemu tengkorak manusia wajar, namanya juga makam. Beda kalau ketemu tengkorak sapi, baru aneh. Tetapi tidak pernah ketemu yang aneh-aneh,” ujarnya sambil tertawa kecil, sebuah tawa yang mengandung kesabaran dan pengabdian yang berat.

Namun, paradoks muncul di setiap sisi profesi Mang Jai. Ia mengabdikan hidup untuk mereka yang telah tiada, sementara kehidupan pribadinya bergelut dengan kesulitan ekonomi. Dari penghasilan seadanya sebagai pengurus Rukun Warga dan bantuan sosial lanjut usia, Mang Jai menafkahi sembilan anak dari empat istri yang telah bercerai.

“Warga biasanya ada iuran kematian, jadi saat musibah tidak dibebankan lagi. Kadang diambil dari sana untuk penyelenggaraan jenazah karena iuran sifatnya tidak menentu,” katanya.

Dalam diam dan tanah yang ia gali, Mang Jai meneguhkan prinsip bahwa pekerjaan ini lebih dari sekadar tugas. Ini soal membangun hubungan antara hidup dan mati, antara manusia dan tanah, antara ibadah dan pengabdian.

Konflik dan Paradoks: Di Antara Hidup dan Mati

Bekerja di makam adalah menyelami paradoks. Ia menghadapi kematian setiap hari, tapi hidupnya sendiri penuh ketidakpastian. Lahan terbatas memaksa liang kubur dibuat sedemikian rapat, sehingga terkadang ia menemukan sisa jenazah lama yang tak teridentifikasi. Setiap pertemuan dengan masa lalu itu menjadi pengingat bahwa hidup dan mati saling tumpang tindih, dan kita manusia hanyalah penumpang sementara.

Di sisi lain, pekerjaan Mang Jai jarang dihargai secara material. Pemerintah memberi perhatian setelah musibah terjadi, bukan sebelumnya. Padahal, manajemen makam yang baik adalah bentuk pencegahan, bukan sekadar respons. Mang Jai berharap ada perhatian lebih dari pemerintah agar makam terawat, lahan tidak sempit, dan pekerjaannya tidak lagi menjadi beban sosial yang ditanggung sendirian.

Sikap Tabooo: Refleksi di Tengah Tanah

Di sinilah Tabooo menatap lebih dalam. Mang Jai menggali kubur, tetapi ia juga menggali kesabaran, ketekunan, dan nilai kemanusiaan yang kerap terabaikan. Dalam setiap ayunan cangkulnya, ada metafora tentang hidup: kita menyiapkan ruang untuk orang lain, sementara ruang untuk diri sendiri seringkali terbatas.

Profesinya adalah pengingat keras bahwa kehidupan modern sering lupa pada yang paling dasar penghormatan pada yang telah pergi dan perhatian pada mereka yang mengurus mereka. Mang Jai memilih untuk tidak mengeluh, tetapi dunia harus belajar dari teladan ini. Kita tidak bisa hanya memberi bantuan sesaat; kita harus merencanakan, menghargai, dan mendukung mereka yang bekerja di garis depan kehidupan dan kematian.

Penutup Reflektif: Pertanyaan yang Tersisa

Ketika petang mulai merayap dan bayangan nisan memanjang, Mang Jai menatap liang kubur yang baru digali. Ia berharap, bukan sekadar agar jenazah mendapat tempat yang layak, tapi juga agar masyarakat dan pemerintah belajar melihat makam sebagai bagian dari kehidupan bukan sekadar tempat terakhir yang terlupakan.

Mang Jai menggali tanah, tapi ia juga menggali makna: kesabaran, ketekunan, dan pengabdian tanpa pamrih. Dalam setiap butir tanah yang jatuh, tersimpan pertanyaan besar bagi kita semua: apakah kita cukup peduli pada mereka yang mengurus yang telah tiada, dan apakah kita siap menyiapkan ruang yang layak—bukan hanya untuk mati, tapi juga untuk hidup yang menghormati kematian?

Di Bukit Lama, di antara nisan tua dan tanah yang lembap, Mang Jai berdiri. Diamnya bukan ketakutan, tapi doa yang bergerak di antara hidup dan mati, sebuah refleksi tentang manusia, kota, dan waktu yang terus berjalan. @dimas

Tags: Human InterestRefleksi Hidup

Kamu Melewatkan Ini

Ketika Biaya Sekolah Lebih Menakutkan dari Ancaman Penjara

Ketika Biaya Sekolah Lebih Menakutkan dari Ancaman Penjara

by teguh
Juni 16, 2026

Lampu toko kelontong itu tetap menyala seperti biasa. Aktivitas warga berjalan normal. Namun di balik malam yang tampak tenang, seorang...

Rp352 Ribu, Ujian Anak, dan Seorang Ayah yang Terpaksa Mencuri

Rp352 Ribu, Ujian Anak, dan Seorang Ayah yang Terpaksa Mencuri

by teguh
Juni 15, 2026

Seorang ayah Langkahnya pelan ketika memasuki halaman rumah pemilik toko. Di sampingnya berdiri dua anak laki-laki yang terus menunduk. Tak...

Lelaki 71 Tahun Sampai Subuh: Negara Belum Selesai Mengurus Hari Tua

Lelaki 71 Tahun Sampai Subuh: Negara Belum Selesai Mengurus Hari Tua

by teguh
Juni 4, 2026

Malam merayap pelan di Kota Mojokerto. Lampu rumah mulai padam satu demi satu. Sebagian warga bersiap memeluk istirahat setelah seharian...

Next Post
Ramen, Rakyat, dan Pasar Resto Jepang Nggak Ada Matinya di Indonesia?

Ramen, dan Pasar Resto Jepang Nggak Ada Matinya di Indonesia?

Madilog Series

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026

Marx Series

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id