Tabooo.id: Edge – Bayangkan kamu lagi naik motor. Baru gajian, playlist lagi enak-enaknya, angin sore juga lumayan bersahabat… lalu dari belakang muncul suara yang terdengar seperti bebek panik dikejar rentenir “tot tot wuk wuk.”
Refleks, kita langsung minggir.
Masalahnya, sering kali yang lewat bukan ambulans atau pemadam. Kadang hanya mobil pejabat yang seolah kejar rapat yang ujung-ujungnya berakhir dengan kalimat legendaris “Maaf, izin on-cam sebentar ya.”
Selamat datang di sinetron panjang negeri ini Indonesia, Jalanan Tanpa Logika.
Regulasi yang Selalu Ketinggalan Episode
Dalam rapat di Komisi III DPR, Kakorlantas Polri Irjen Pol Agus Suryonugroho menjelaskan bahwa Polri sedang merumuskan aturan baru bersama Kemensetneg. Aturan ini akan menentukan siapa yang boleh dikawal dan siapa yang harus kembali menikmati klakson standar rakyat jelata.
Untuk mencairkan suasana, Agus sempat bercanda,
“Kalau untuk anggota dewan kita kawal semuanya, Pak. Tidak berani kami, Pak.”
Selain itu, Polri juga membekukan sementara penggunaan sirene “tot tot wuk wuk” sambil melakukan evaluasi. Menurut Agus, hasil awal evaluasinya positif. Walaupun, seperti biasa, detail positifnya masih mengambang.
Sebelumnya, publik bahkan sempat memviralkan gerakan “Stop Tot Tot Wuk Wuk” sebagai bentuk protes terhadap pejabat yang gemar bising tanpa alasan darurat. Intinya sederhana “Kami hanya ingin jalanan yang waras. Tolong.”
Negara dan Aturan Versi Trial
Fenomena ini akhirnya membuka cermin besar negara kita rajin membuat aturan, tetapi sering gagal mengeksekusinya. Implementasinya acak seperti WiFi kos-kosan yang tiba-tiba hilang pas deadline.
Padahal, permintaan publik tidak rumit.
Kalau darurat, pakai sirene.
Kalau tidak darurat, ya macet bareng.
Tidak butuh revisi undang-undang, tidak perlu rapat sampai dini hari. Cukup akal sehat yang tidak kedaluwarsa.
Masalahnya, banyak janji kebijakan di negara ini punya umur lebih pendek daripada mi gelas. Viralnya sebentar, dibahas heboh, lalu menghilang seperti mantan yang tiba-tiba “butuh ruang.”
Sirene dan Janji Politik, Saudara Dekat?
Pada akhirnya, “tot tot wuk wuk” bukan cuma suara bising. Ia berubah menjadi simbol sesuatu yang datang mendadak, memaksa rakyat minggir, mengacaukan jalanan, lalu pergi tanpa penjelasan.
Sama seperti janji politik.
Keras di awal, hening di akhir.
Dan publik kembali bertanya
“Kapan aturan sebenarnya muncul? Atau jangan-jangan, dari awal memang hanya ribut doang, isi tetap kosong?” @dimas




