Sekolah seharusnya menjadi tempat belajar yang aman bagi anak. Dugaan perundungan terhadap bocah 7 tahun di Pemalang menjadi alarm bagi perlindungan siswa.
Tabooo.id – Muhammad Hasbi Al Aqib, 7 tahun, berangkat ke sekolah untuk belajar. Namun, menurut pengakuan keluarganya, bocah kelas II SDN 1 Kebondalem, Pemalang, itu justru mengalami dugaan kekerasan dari kakak kelasnya. Kondisinya kemudian memburuk hingga ia meninggal dunia. Polisi masih menyelidiki dugaan perundungan tersebut dan belum memastikan kaitannya dengan kematian Aqib.
Kisah Aqib menyisakan pertanyaan yang lebih besar daripada siapa yang diduga memukulnya. Sejauh mana sekolah mampu menjaga keselamatan anak ketika orang tua tidak berada di dekat mereka?
Ibunya, Diah Indriyanti, melihat perubahan pada perilaku Aqib. Anak yang biasanya ceria itu mulai lebih banyak diam. Perubahan tersebut menjadi tanda awal bahwa ada sesuatu yang mengganggu putranya.
Menurut keterangan keluarga, Aqib sempat menceritakan pengalamannya kepada dokter. Ia mengaku mendapat pukulan di bagian perut dan tendangan menggunakan sepatu. Peristiwa itu, menurut dugaan keluarga, terjadi saat jam istirahat ketika Aqib berjalan menuju kantin.
Keluarga juga mengaku menemukan memar kebiruan pada bagian perut dan kaki Aqib. Pemeriksaan medis, menurut keterangan yang disampaikan keluarga, menunjukkan adanya peradangan. Namun, temuan tersebut belum cukup untuk menyimpulkan penyebab kematian atau memastikan hubungan langsung dengan dugaan kekerasan.
Ketika Anak Tak Lagi Bisa Berjalan
Pada 17 September 2026, keluarga membawa Aqib ke RSUD Dr. Azhari Pemalang. Ia menjalani perawatan selama sembilan hari. Sejak tanggal itu, menurut keterangan keluarga, Aqib tidak mampu berjalan. Ia juga mengalami kesulitan buang air kecil dan buang air besar selama beberapa hari.
Kondisinya kembali memburuk pada 30 September 2026. Keluarga membawanya lagi ke rumah sakit, tetapi petugas menyatakan Aqib telah meninggal saat tiba di sana.
Rangkaian kejadian ini membutuhkan penjelasan medis yang terang. Dugaan kekerasan, kondisi kesehatan yang menurun, dan kematian Aqib merupakan tiga hal yang harus penyidik periksa secara cermat. Publik berhak mengetahui perkembangan kasus ini, tetapi penyelidikan juga harus membedakan keterangan keluarga, temuan medis, dan fakta yang telah terverifikasi.
Di tengah duka itu, Diah mempertanyakan respons pihak sekolah. Ia mengatakan keluarga telah meminta penjelasan mengenai dugaan kekerasan yang menimpa putranya. Ia juga mengaku pihak sekolah tidak memberi tahu keluarga selama Aqib menjalani perawatan di rumah sakit selama sembilan hari.
Keterangan tersebut perlu mendapat tanggapan dari pihak sekolah. Tanpa penjelasan dari semua pihak, publik belum memiliki gambaran lengkap mengenai apa yang terjadi, bagaimana sekolah menangani dugaan kekerasan, dan apakah pihak terkait menjalankan prosedur perlindungan siswa.
Jangan Sembunyikan Kekerasan di Balik Kata Bercanda
Perundungan kerap bermula dari tindakan yang dianggap sepele. Ejekan, dorongan, pukulan atau tendangan bisa dianggap sebagai candaan ketika orang dewasa memilih untuk tidak melihat dampaknya. Padahal, bagi anak yang mengalaminya, tindakan tersebut dapat meninggalkan ketakutan dan luka.
Sekolah tidak cukup hanya mengajarkan membaca, menulis, dan berhitung. Sekolah juga harus membangun lingkungan yang aman, membuka ruang bagi anak untuk bercerita, serta merespons setiap laporan dengan serius. Pengawasan saat jam istirahat dan mekanisme pelaporan yang jelas menjadi bagian penting dari perlindungan tersebut.
Kasus Aqib juga mengingatkan orang dewasa agar tidak menunggu sampai keadaan memburuk untuk mendengarkan anak. Perubahan perilaku, rasa takut pergi ke sekolah, atau keluhan fisik perlu mendapat perhatian. Respons cepat tidak otomatis membuktikan suatu dugaan, tetapi dapat membantu mencegah risiko yang lebih besar.
Polisi Menelusuri Dugaan Kekerasan
Kasat Reskrim Polres Pemalang, AKP M. Faizal Wildan Umar Rela, mengatakan polisi telah meminta keterangan keluarga dan melakukan autopsi dengan persetujuan keluarga. Penyidik masih memeriksa saksi serta berkoordinasi dengan instansi terkait.
Polisi menyatakan akan memproses perkara jika menemukan unsur pidana. Karena itu, hasil penyelidikan dan pemeriksaan medis menjadi kunci untuk menjelaskan dugaan kekerasan, kondisi Aqib sebelum meninggal, serta kemungkinan hubungan antara keduanya.
Hingga penyelidikan memberikan jawaban, publik perlu menahan diri dari kesimpulan yang belum terbukti. Anak-anak yang diduga terlibat juga tidak boleh menjadi sasaran persekusi atau penyebaran identitas. Penegakan hukum harus berjalan bersama perlindungan terhadap anak.
Namun, kehati-hatian hukum tidak boleh menjadi alasan untuk mengabaikan persoalan keselamatan di sekolah. Kasus ini menuntut penjelasan dari pihak terkait sekaligus evaluasi terhadap cara sekolah mencegah, menerima laporan, dan menangani dugaan perundungan.
Aqib tidak bisa lagi menceritakan apa yang ia alami. Karena itu, penyelidikan harus menguji setiap keterangan secara terbuka dan bertanggung jawab. Sekolah, keluarga, aparat, dan pihak terkait perlu memastikan bahwa suara anak tidak hilang hanya karena mereka belum mampu membela diri.
Sekolah seharusnya menjadi tempat anak tumbuh, bukan tempat mereka menghadapi kekerasan dalam diam. Sebab, ketika keselamatan anak gagal menjadi prioritas, persoalannya bukan lagi sekadar perilaku seorang siswa. Pertanyaan yang lebih mendasar ialah apakah orang dewasa telah menjalankan tanggung jawab untuk melindungi mereka. @dimas








