Jumat, September 18, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Tujuh Perempuan Belum Kembali, Siapa Bertanggung Jawab di Jila?

by teguh
September 14, 2026
in Deep
A A
Home Deep
Share on Facebook
Share on Twitter
Konflik di Distrik Jila, Kabupaten Mimika, Papua Tengah, menyisakan tujuh perempuan yang hingga kini belum kembali kepada keluarga.

Tabooo.id – Sembilan perempuan sebelumnya dibawa kelompok bersenjata setelah rangkaian serangan di wilayah tersebut. Dua korban berhasil melarikan diri, sedangkan tujuh perempuan lainnya masih bersama kelompok pimpinan Jhon Lokbere, menurut keterangan yang muncul dalam sebuah video berdurasi 17 menit 7 detik yang diterima Kompas.com.

“Tujuh perempuan ini masih tinggal sama kami.”

Rekaman itu memperlihatkan tujuh perempuan mengenakan pakaian berwarna hitam, abu-abu, merah muda, biru, dan kuning. Sejumlah anggota kelompok bersenjata tampak mendampingi mereka sambil membawa senjata laras panjang.

Kondisi tersebut menghadirkan persoalan ganda. Aparat harus memastikan keselamatan korban, sementara publik membutuhkan kejelasan mengenai siapa aktor yang membawa mereka dan bagaimana struktur kelompok itu bekerja.

Yang Hilang Bukan Cuma Sembilan Orang

Pihak yang mengaku sebagai pelaku menyampaikan permintaan maaf kepada keluarga sembilan perempuan.

“Kami dari pihak pelaku mohon maaf kepada orangtua sembilan perempuan yang ikut kami dan mengaku bahwa kami salah dan berdosa terhadap orangtua.”

Pada saat yang sama, mereka menolak anggapan bahwa tindakan tersebut merupakan perintah organisasi. Menurut pengakuan itu, pasukan lapangan mengambil tindakan sendiri dalam situasi pertempuran.

Ini Belum Selesai

Anggaran BGN 2027 Turun Rp30 Triliun, MBG Tetap Dominan

Patungan Rp10 Ribu, Massa Datangi Kemensos Gugat Desil Bansos

Mereka juga meminta masyarakat tidak mengubah kasus tersebut menjadi konflik antara suku Nduga dan Amungme.

“Jadi jangan buat masalah antara suku Nduga dan suku Amungme. Jangan perang suku di Timika.”

Pernyataan tersebut tetap harus dibaca sebagai klaim pihak yang terlibat dalam konflik. Redaksi tidak dapat menjadikannya sebagai fakta final tanpa verifikasi independen.

“Di Luar Komando” Membuka Masalah Baru

Juru Bicara TPNPB OPM Sebby Sambom memberikan keterangan berbeda mengenai posisi kelompok Jhon Lokbere.

Kepada Kompas.com pada Sabtu, 12/09/2026, Sebby mengatakan kelompok tersebut tidak memiliki garis komando dengan Komnas TPNPB OPM di bawah pimpinan Goliath Naaman Tabuni.

“Komnas TPNPB tidak ada garis komando dengan kelompok itu.”

Sebby juga menyebut kelompok Jhon Lokbere bukan anggota TPNPB yang mereka pimpin. Ia menempatkan kelompok tersebut di luar komando Kodap III Darakma Ndigama.

Keterangan itu justru membuka pertanyaan baru. Jika kelompok tersebut berada di luar struktur yang disebutkan, bagaimana mereka mengambil keputusan, membangun jaringan, dan mengendalikan anggota di lapangan?

Pertanyaan itu bukan tuduhan. Proses tersebut penting untuk menguji klaim mengenai identitas, struktur, hubungan komando, serta tanggung jawab.

Komando Boleh Dibantah, Keselamatan Tidak

Kasus Jila memperlihatkan problem yang sering muncul dalam konflik bersenjata ketika aktor saling membantah hubungan organisasi, korban justru berisiko hilang dari pusat perhatian.

Identitas pelaku membutuhkan bukti. Hubungan komando memerlukan penelusuran. Kronologi harus melalui pemeriksaan waktu, lokasi, dan kesaksian. Kondisi korban juga membutuhkan informasi yang dapat diverifikasi.

Karena itu, kalimat “bukan perintah kami” tidak boleh langsung menjadi kesimpulan. Sebaliknya, publik juga tidak boleh menghubungkan sebuah kelompok dengan organisasi tertentu tanpa bukti.

Di antara dua jebakan tersebut, pekerjaan jurnalistik harus berdiri memeriksa fakta tanpa mengorbankan keselamatan manusia.

Negara Masih Mencari Kepastian

Kaops Damai Cartenz Irjen Faisal Ramdani mengatakan aparat masih mendalami keberadaan tujuh perempuan tersebut ketika dikonfirmasi pada Senin, 14/09/2026.

“Sedang didalami.”

Jawaban itu menunjukkan bahwa aparat belum memberikan kepastian mengenai lokasi tujuh korban.

Bagi keluarga, situasi tersebut berarti penantian masih berlangsung. Bagi aparat, kondisi itu menuntut informasi lapangan yang lebih akurat. Publik pun membutuhkan komunikasi yang jelas agar kasus ini tidak berubah menjadi rumor atau bahan provokasi.

Bukan Sekadar Soal Istilah

Kelompok Jhon Lokbere menyebut para perempuan tersebut “ikut bersama” mereka. Sebaliknya, pemberitaan sebelumnya menggunakan istilah yang mengarah pada dugaan penyanderaan.

Perbedaan istilah tersebut bukan sekadar persoalan bahasa.

Ukuran paling penting justru sederhana apakah tujuh perempuan itu dapat pergi secara bebas tanpa ancaman atau tekanan?

Jawaban atas pertanyaan tersebut akan membantu publik memahami kondisi korban secara lebih utuh.

Ketua Komnas HAM Papua Frits Ramandey sebelumnya mendesak semua pihak memastikan keselamatan sembilan perempuan. Sikap itu menempatkan warga sipil sebagai titik utama dalam membaca konflik Jila.

Korban Tidak Bisa Menunggu Perang Klaim

Kelompok bersenjata dapat membantah hubungan organisasi. Struktur lain dapat menolak klaim tersebut. Aparat masih mengumpulkan informasi mengenai keberadaan korban.

Keluarga tidak memiliki ruang untuk menunggu pertarungan narasi tanpa batas. Mereka membutuhkan kepastian.

Karena itu, penyelidikan harus menjawab dua lapisan persoalan. Pertama, siapa yang membawa dan menguasai korban? Kedua, apakah pelaku benar-benar berdiri sendiri atau memiliki hubungan tertentu yang dapat dibuktikan?

Keduanya harus berjalan bersamaan tanpa mencampurkan dugaan dengan fakta.

Tujuh Perempuan, Satu Prioritas

Kasus Jila akhirnya kembali pada angka yang paling penting yaitu, tujuh. Kareba tujuh perempuan masih belum kembali.

Kelompok yang mengaku bersama mereka mengatakan korban dalam kondisi hidup. Aparat masih mencari kepastian.

Di tengah perang klaim tersebut, keselamatan harus menjadi titik pertama.

Temukan mereka. Pastikan mereka selamat. Pulangkan kepada keluarga. Setelah itu, bongkar seluruh rantai pertanggungjawabannya.

Sebab konflik boleh memiliki banyak kelompok, banyak klaim, bahkan banyak versi. Namun, korban hanya memiliki satu kebutuhan yaitu, pulang dengan selamat. @teguh

Tags: Damai CartenzJilaKelompok BersenjataKomnas HAMKonflik PapuaMimikaOPMPerempuan dan AnakPerlindungan Warga SipilTPNPB

Kamu Melewatkan Ini

Sopir Disandera, Mobil Dibakar: Tragedi Aris Sanda di Wamena

Sopir Disandera, Mobil Dibakar: Tragedi Aris Sanda di Wamena

by dimas
September 16, 2026

Sopir Aris Sanda disandera kelompok bersenjata di Wamena. Sehari kemudian, ia ditemukan tewas bersama mobil yang terbakar di Danau Habema....

Sopir Tewas di Jalur Wamena-Nduga, Siapa Menjamin Keselamatan Warga?

Sopir Tewas di Jalur Wamena-Nduga, Siapa Menjamin Keselamatan Warga?

by teguh
September 16, 2026

Sebuah kendaraan tidak hanya membawa penumpang. Sopir tewas di jalur Wamena-Nduga, kendaraan juga membawa aktivitas ekonomi, kebutuhan warga, dan harapan...

TPNPB Klaim Tembak Sopir di Wamena-Nduga: Jalur Publik Jadi Zona Ancaman

TPNPB Klaim Tembak Sopir di Wamena-Nduga: Jalur Publik Jadi Zona Ancaman

by teguh
September 16, 2026

TPNPB klaim tembak sopir di wamena-Nduga. TPNPB Kodap III Ndugama Darakma mengklaim bertanggung jawab atas penembakan seorang sopir di jalur...

Next Post
Purbaya Dicopot, Suahasil Masuk: Ke Mana Arah Fiskal Prabowo?

Purbaya Dicopot, Suahasil Masuk: Ke Mana Arah Fiskal Prabowo?

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id