Kamis, September 17, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Tujuh Perempuan Bersama Kelompok Bersenjata, Aparat Dalami Mimika

by teguh
September 14, 2026
in Nasional, Reality
A A
Home Reality Nasional
Share on Facebook
Share on Twitter
Aparat masih mendalami keberadaan tujuh perempuan bersama kelompok bersenjata yang sebelumnya diduga dibawa kelompok bersenjata di Distrik Jila, Kabupaten Mimika, Papua Tengah.

Tabooo.id: Mimika – Kelompok bersenjata pimpinan Jhon Lokbere mengklaim tujuh perempuan tersebut masih bersama mereka dan dalam kondisi hidup. Kelompok itu menyampaikan klaim tersebut melalui video berdurasi 17 menit 7 detik yang diterima Kompas.com.

Video itu memperlihatkan tujuh perempuan bersama sejumlah anggota kelompok bersenjata. Mereka mengenakan pakaian berwarna hitam, abu-abu, merah muda, biru, dan kuning. Sejumlah anggota kelompok membawa senjata laras panjang.

Dua dari sembilan perempuan sebelumnya berhasil melarikan diri. Namun, aparat belum memastikan secara independen kondisi dan lokasi tujuh perempuan lainnya.

Kepala Operasi Damai Cartenz Irjen Faisal Ramdani mengatakan aparat masih mendalami keberadaan para korban.

“Sedang didalami,” kata Faisal saat dikonfirmasi pada Senin, 14/09/2026.

Ini Belum Selesai

Warung Mi dan Babi Sukoharjo Dibakar, 12 Saksi Diperiksa Polisi

TPNPB Klaim Tembak Sopir di Wamena-Nduga: Jalur Publik Jadi Zona Ancaman

Kelompok Bersenjata Jhon Lokbere Klaim Tujuh Korban Masih Hidup

Dalam video tersebut, kelompok Jhon Lokbere membantah telah menyandera atau mengikat sembilan perempuan.

Seorang anggota kelompok mengatakan mereka baru bertemu dengan sembilan perempuan itu setelah empat hari.

“Bukan disandera dan bukan diikat seperti video-video yang beredar. Setelah empat hari baru kami ketemu dan dilihat ada sembilan perempuan jadi ikut bersama. Tujuh perempuan ini masih tinggal sama kami.”

Kelompok tersebut juga mengakui tindakan terhadap sembilan perempuan sebagai pelanggaran yang dilakukan pasukan lapangan.

Mereka bahkan menyampaikan permintaan maaf kepada keluarga korban.

“Kami dari pihak pelaku mohon maaf kepada orangtua sembilan perempuan yang ikut kami dan mengaku bahwa kami salah dan berdosa terhadap orangtua.”

Kelompok itu juga menolak anggapan bahwa insiden tersebut berkaitan dengan konflik antarsuku atau keputusan organisasi TPNPB OPM.

Mereka meminta masyarakat tidak mengembangkan insiden tersebut menjadi konflik antara suku Nduga dan Amungme.

“Jadi jangan buat masalah antara suku Nduga dan suku Amungme. Jangan perang suku di Timika.”

Kelompok tersebut juga mengklaim tindakan pasukan lapangan tidak berasal dari perintah organisasi.

“Sebab perintah kami bukan perampasan perempuan, hanya melanggar dari pasukan lapangan sendiri dalam pertempuran.”

Klaim itu masih berasal dari kelompok bersenjata. Aparat belum memberikan konfirmasi independen mengenai kondisi tujuh perempuan tersebut.

TPNPB OPM Bantah Punya Garis Komando

Juru Bicara TPNPB OPM Sebby Sambom memberikan penjelasan berbeda mengenai posisi kelompok Jhon Lokbere.

Sebby menyampaikan keterangannya kepada Kompas.com pada Sabtu, 12/09/2026. Ia mengatakan kelompok Jhon Lokbere tidak masuk dalam struktur Komnas TPNPB OPM di bawah pimpinan Goliath Naaman Tabuni.

“Ya, Komnas TPNPB tidak ada garis komando dengan kelompok itu, dan kami anggap bahwa kelompok John Lolmbere itu bukan anggota TPNPB murni.”

Sebby juga menegaskan tindakan kelompok tersebut tidak berada dalam komando Kodap III Darakma Ndigama.

“Jadi tindakan kelompok John Lokmbere itu di luar komando Kodap III Darakma Ndigama, dan juga mereka tidak termasuk Komnas TPNPB yang kami pimpin.”

Pernyataan itu menunjukkan adanya perbedaan klaim mengenai struktur kelompok yang terlibat dalam kasus tersebut.

Karena itu, penyebutan sebuah kelompok sebagai bagian dari organisasi tertentu membutuhkan verifikasi. Media tidak dapat menyamakan klaim kelompok bersenjata dengan konfirmasi aparat sebelum memperoleh bukti yang memadai.

Penyerangan Pos Keamanan Jadi Awal Peristiwa

Kasus ini bermula setelah penyerangan pos keamanan di Distrik Jila, Kabupaten Mimika.

Kelompok bersenjata kemudian diduga membawa sembilan perempuan. Dua korban akhirnya berhasil melarikan diri, sedangkan tujuh lainnya masih menjadi perhatian aparat.

Komandan Kodim 1710/Mimika Letkol Infanteri Jozanda sebelumnya mengatakan prajurit TNI mengejar kelompok yang diduga membawa warga tersebut.

“Jangan khawatir, kita sudah melakukan pengejaran terhadap para pelaku. Semoga para prajurit yang melakukan pengejaran ini juga diberikan kemudahan sehingga segera menemukan dan menyelamatkan anak-anak kita ini.”

Peristiwa Jila juga menimbulkan korban dari pihak aparat. Kontak senjata dalam rangkaian kejadian tersebut menewaskan Pratu Rizki Kurniawan dan melukai dua prajurit lainnya.

Kondisi itu membuat pencarian terhadap warga yang hilang berlangsung dalam situasi keamanan yang kompleks.

Aparat Belum Konfirmasi Lokasi Tujuh Perempuan

Hingga Senin, 14/09/2026, aparat belum mengonfirmasi lokasi tujuh perempuan tersebut.

Kelompok Jhon Lokbere menyatakan mereka masih hidup dan berada bersama kelompoknya. Namun, aparat masih memeriksa informasi tersebut.

Perbedaan informasi ini penting bagi publik. Satu pihak memberikan klaim mengenai kondisi korban. Di sisi lain, aparat belum memperoleh konfirmasi independen mengenai lokasi mereka.

Karena itu, informasi mengenai tujuh perempuan tersebut harus tetap menggunakan atribusi yang jelas. Klaim kelompok bersenjata tidak boleh berubah menjadi fakta hanya karena muncul dalam rekaman video.

Komnas HAM Soroti Kerentanan Warga Sipil

Kasus Jila juga berlangsung dalam situasi konflik yang terus menempatkan warga sipil pada posisi rentan.

Komnas HAM mencatat 42 peristiwa konflik dan kekerasan di Papua sepanjang Januari-Juni 2026. Dari 59 orang yang meninggal dalam berbagai peristiwa tersebut, 43 merupakan warga sipil.

Ketua Komnas HAM Anis Hidayah pada 06/07/2026 mendorong seluruh pihak menghentikan konflik bersenjata di Papua melalui pendekatan dialog kemanusiaan.

“Komnas HAM mendorong agar negara mengambil langkah yang serius untuk menghentikan segala bentuk konflik bersenjata, kontak senjata, di mana selama ini warga sipil menjadi korban paling rentan.”

Kementerian HAM juga menempatkan perlindungan warga sipil sebagai prioritas dalam penanganan konflik di Papua Tengah.

Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa persoalan utama dalam kasus Jila tidak hanya berkaitan dengan siapa yang membawa sembilan perempuan tersebut. Keselamatan warga sipil menjadi persoalan yang jauh lebih mendasar.

Empat Pertanyaan yang Masih Menunggu Jawaban

Kasus ini menyisakan sejumlah pertanyaan penting.

Pertama, apakah tujuh perempuan tersebut benar masih bersama kelompok Jhon Lokbere seperti yang mereka klaim?

Kedua, bagaimana kondisi kesehatan dan keselamatan para korban?

Ketiga, siapa sebenarnya kelompok yang membawa mereka dan bagaimana struktur komandonya?

Keempat, bagaimana aparat dapat menemukan dan mengevakuasi korban tanpa meningkatkan risiko terhadap keselamatan mereka?

Jawaban atas pertanyaan tersebut membutuhkan verifikasi langsung, bukan sekadar pertukaran klaim.

Klaim Bukan Konfirmasi

Kasus Jila memperlihatkan betapa cepat informasi bergerak dalam konflik bersenjata.

Sebuah video dapat menyampaikan klaim dalam hitungan menit. Namun, aparat membutuhkan proses untuk memastikan lokasi dan kondisi korban.

Di sinilah publik perlu membedakan antara apa yang diklaim, apa yang diketahui, dan apa yang sudah terverifikasi.

Kelompok Jhon Lokbere mengklaim tujuh perempuan masih hidup. TPNPB OPM menyatakan kelompok Jhon Lokbere berada di luar struktur mereka.

Aparat mengatakan masih mendalami keberadaan para korban. Tiga informasi tersebut belum menghasilkan satu kesimpulan final mengenai lokasi tujuh perempuan.

Hingga Senin, 14/09/2026, pertanyaan paling penting tetap sama di mana tujuh perempuan tersebut dan bagaimana kondisi mereka?.

Jawaban atas pertanyaan itu harus datang melalui verifikasi, bukan sekadar klaim. @teguh

Tags: Damai CartenzJilaKelompok BersenjataKomnas HAMKonflik PapuaMimikaOPMPerlindungan Warga SipilTPNPBWarga Sipil

Kamu Melewatkan Ini

Sopir Disandera, Mobil Dibakar: Tragedi Aris Sanda di Wamena

Sopir Disandera, Mobil Dibakar: Tragedi Aris Sanda di Wamena

by dimas
September 16, 2026

Sopir Aris Sanda disandera kelompok bersenjata di Wamena. Sehari kemudian, ia ditemukan tewas bersama mobil yang terbakar di Danau Habema....

Sopir Tewas di Jalur Wamena-Nduga, Siapa Menjamin Keselamatan Warga?

Sopir Tewas di Jalur Wamena-Nduga, Siapa Menjamin Keselamatan Warga?

by teguh
September 16, 2026

Sebuah kendaraan tidak hanya membawa penumpang. Sopir tewas di jalur Wamena-Nduga, kendaraan juga membawa aktivitas ekonomi, kebutuhan warga, dan harapan...

TPNPB Klaim Tembak Sopir di Wamena-Nduga: Jalur Publik Jadi Zona Ancaman

TPNPB Klaim Tembak Sopir di Wamena-Nduga: Jalur Publik Jadi Zona Ancaman

by teguh
September 16, 2026

TPNPB klaim tembak sopir di wamena-Nduga. TPNPB Kodap III Ndugama Darakma mengklaim bertanggung jawab atas penembakan seorang sopir di jalur...

Next Post
Purbaya Dicopot dari Menkeu, Suahasil Nazara Gantikan Posisinya

Purbaya Dicopot dari Menkeu, Suahasil Nazara Gantikan Posisinya

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id