Karnaval Budaya di Joyotakan tampil dengan kostum daur ulang. Warga membawa pesan pengolahan sampah dalam perayaan HUT RI ke-81.
Tabooo.id – Jalanan Joyotakan berubah menjadi panggung budaya.
Warga dari enam RW dan 33 RT tampil dengan kostum beragam. Mereka berjalan dari SD Mijipinilahan dan kembali finis di lokasi yang sama.
Namun, ada yang berbeda dalam karnaval tahun ini. Sampah ikut naik panggung.
Kelurahan Joyotakan menggelar karnaval budaya untuk memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan RI. Tahun ini, warga mengangkat tema pengolahan sampah sesuai program Pemerintah Kota Solo.
Saat Sampah Berubah Menjadi Kostum
Warga menghadirkan beragam kostum dalam karnaval tersebut.
Ada kostum berbentuk tempat sampah. Ada juga kreasi dari bahan daur ulang.
Benda yang biasanya berakhir di tempat sampah kini justru menarik perhatian di tengah jalan. Warga mengubah barang bekas menjadi bagian dari perayaan.
Tema itu terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Sampah ada di rumah. Sampah juga ada di jalan. Persoalannya bukan sekadar membuang, tetapi bagaimana warga mengelolanya.
Lurah Joyotakan Bambang Kristianto mengatakan karnaval menjadi puncak rangkaian perayaan HUT RI ke-81.
“Setelah kemarin ada perlombaan, ada tirakatan ini puncaknya adalah karnaval budaya,” ujar Bambang saat ditemui Tabooo.id di sela-sela acara.
Warga Membawa Pesan Lewat Kostum
Bambang melihat antusiasme warga dalam mengangkat tema pengolahan sampah.
“Pada momen ini warga sangat antusias mendandani diri dengan kostum dari bahan daur ulang,” katanya.
Kreativitas warga membuat pesan lingkungan terasa lebih ringan.
Mereka tidak hanya membicarakan sampah. Mereka juga mengubah sampah menjadi bagian dari cerita visual.
Bambang menyebut pengolahan sampah kini menjadi tema yang ikut menggema di Solo.
Joyotakan pun sudah menjalankan pengelolaan sampah. Warga mulai memilah dan mengolah sampah di lingkungannya.
“Alhamdulilah sesuai dengan tema kali ini di Kelurahan Joyotakan sudah melaksanakan pengelolaan sampah mulai dari memilah dan mengolah sampah,” terangnya.
Karnaval Bukan Sekadar Ramai-Ramai
Panitia juga menyiapkan penghargaan untuk kostum terbaik.
Penilaian akan mengacu pada tema pengolahan sampah yang mereka angkat tahun ini.
Selain karnaval, warga menikmati panggung gembira dan hiburan. Panitia juga membagikan door prize untuk menambah semarak acara.
Semua unsur itu membuat suasana semakin hidup.
Namun, ada pesan yang lebih penting di balik keramaian tersebut.
Bambang berharap karnaval tidak berhenti sebagai acara tahunan.
“Kegiatan ini bukan hanya seremonial saja, kedepannya bisa dilaksanakan secara periodik dengan tema-tema yang bisa diangkat oleh masyarakat dan semoga bisa lebih semarak lagi,” harapnya.
Ketika Budaya Ikut Bicara Soal Sampah
Karnaval Joyotakan menunjukkan cara sederhana warga menyampaikan pesan lingkungan.
Mereka tidak membutuhkan panggung besar untuk membicarakan sampah. Mereka cukup membawa kreativitas, kostum, dan semangat bersama.
Di sini, budaya bertemu dengan persoalan sehari-hari.
Karnaval tidak hanya menjadi ruang untuk merayakan kemerdekaan. Warga juga menjadikannya ruang untuk mengingatkan pentingnya mengelola sampah.
Ini bukan sekadar karnaval.
Ini cara warga mengubah persoalan sehari-hari menjadi pesan yang bisa dilihat bersama.
Sebab ketika kostum kembali masuk lemari dan musik berhenti, sampah tetap menunggu di kehidupan sehari-hari.
Pertanyaannya sederhana: setelah karnaval selesai, apakah kebiasaan mengelola sampah juga terus berjalan?@eko








