Kericuhan usai demonstrasi DPR merenggut nyawa Bambang Setiawan, warga Pejompongan yang tidak ikut aksi. Keluarga kini menunggu pertanggungjawaban.
Tabooo.id – Malam di Pejompongan berubah menjadi ruang ketakutan setelah kericuhan pecah pada Kamis (27/8/2026).
Bambang Setiawan, 60 tahun, berada di kawasan itu bukan untuk berdemonstrasi.
Ia berada di lingkungan tempat rumah dan kehidupannya bertahun-tahun berlangsung.
Namun, malam itu, Bambang tidak pulang sebagai seorang pedagang cermin.
Ia pulang sebagai korban kekerasan.
Bambang meninggal setelah massa mengeroyoknya di kawasan Pejompongan, Tanah Abang, Jakarta Pusat, sekitar pukul 21.00 WIB.
Jarak lokasi pengeroyokan sekitar dua kilometer dari Gedung DPR RI.
Di gedung parlemen, demonstrasi sebenarnya telah berlangsung sejak siang.
Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB) datang membawa dua tuntutan.
Mereka mendesak DPR mengesahkan Rancangan Undang-Undang Perampasan Aset.
Mereka juga menuntut hukuman mati bagi koruptor.
Sekitar pukul 10.00 WIB, perwakilan AMPB mendapat kesempatan bertemu pimpinan DPR.
Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad kemudian menjanjikan pengesahan RUU Perampasan Aset.
Ia menyebut DPR akan mengesahkannya paling lambat 15 Desember 2026.
Massa AMPB meninggalkan gedung DPR dan membubarkan diri sekitar pukul 13.00 WIB.
Namun, kerumunan lain masih bertahan di depan kompleks parlemen hingga sekitar pukul 18.00 WIB.
Polisi kemudian membubarkan massa karena waktu demonstrasi telah melewati izin.
Beberapa jam setelah itu, kericuhan berpindah ke kawasan permukiman.
Di sana, warga yang tidak mengikuti demonstrasi ikut menghadapi kekacauan.
Bambang Tidak Datang untuk Berunjuk Rasa
Sehari-hari, Bambang mencari nafkah dengan berjualan cermin di Jalan Pejompongan Raya.
Ia hidup bersama istrinya, Sudarsih, dan anak-anak mereka.
Tidak ada demonstrasi dalam rutinitas Bambang.
Tidak ada panggung politik dalam pekerjaannya.
Tetapi kericuhan malam itu membawa kekerasan hingga ke ruang hidupnya.
Ketua RT 002/RW 006 Bendungan Hilir, Aban Sobandi, menyebut dua warganya menjadi korban.
Selain Bambang, seorang pemuda bernama Faturohman, 18 tahun, juga mengalami luka.
Aban menegaskan kedua warga tersebut tidak mengikuti demonstrasi.
“Padahal itu enggak ikutan demo,” kata Aban, Jumat (28/8/2026).
Menurut dia, warga setempat tidak biasa terlibat dalam aksi demonstrasi.
Karena itu, kematian Bambang meninggalkan pertanyaan besar bagi lingkungan tersebut.
Mengapa warga yang tidak ikut aksi justru harus menanggung akibatnya?
Keluarga Mengetahui dari Rekaman
Keluarga Bambang baru mengetahui kondisi dirinya pada Jumat dini hari.
Sebuah rekaman video beredar dan memperlihatkan sosok Bambang diseret serta dipukuli massa.
Video itu menjadi jalan pertama keluarga mengetahui tragedi tersebut.
Bukan telepon dari Bambang.
Bukan kabar dari rumah sakit.
Melainkan rekaman kekerasan yang beredar setelah kericuhan.
Jenazah Bambang kemudian dibawa ke RS Polri Kramat Jati.
Setelah proses penanganan selesai, pihak rumah sakit menyerahkan jenazah kepada keluarga.
Keluarga kemudian memakamkan Bambang di TPU Kemanggisan, Jakarta Barat.
Ia meninggalkan Sudarsih serta anak-anaknya.
Satu malam kericuhan akhirnya berubah menjadi kehilangan yang harus mereka bawa seumur hidup.
Dua Kilometer yang Mengubah Segalanya
Gedung DPR RI menjadi pusat demonstrasi pada siang hari.
Pejompongan menjadi lokasi kericuhan pada malam hari.
Kedua tempat itu hanya berjarak sekitar dua kilometer.
Jarak itu terlihat pendek di atas peta.
Namun, bagi Bambang dan keluarganya, jarak tersebut menjadi batas antara demonstrasi dan tragedi.
Demonstrasi membawa tuntutan politik.
Kericuhan kemudian menghadirkan persoalan lain.
Warga kehilangan rasa aman di lingkungan tempat mereka tinggal.
Aban mengatakan pelaku pengeroyokan tidak mengenakan seragam kepolisian.
Ia juga menilai tindakan mereka tidak menyerupai prosedur kepolisian dalam menangani demonstrasi.
“Biasa polisi nanganin tidak seperti itu, sesuai SOP,” ujar Aban.
Aban bahkan menduga kelompok massa tersebut merupakan organisasi kemasyarakatan.
Namun, dugaan itu masih membutuhkan pembuktian dari aparat.
Ia menilai tindakan kekerasan tersebut berada di luar prosedur penanganan demonstrasi.
Menurut Aban, sejumlah warga mengalami luka akibat penanganan yang brutal.
Negara Hadir Setelah Warga Menjadi Korban
Pada Jumat (28/8/2026), Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mendatangi rumah duka Bambang.
Ia datang sekitar pukul 10.00 WIB dan didampingi Wali Kota Jakarta Pusat Arifin.
Sekitar 30 menit, Pramono berada di rumah duka.
Ia tidak memberikan keterangan kepada awak media.
Kehadiran pejabat negara menunjukkan bahwa kematian Bambang telah menjadi perhatian pemerintah.
Namun, kedatangan pejabat tidak menghapus pertanyaan yang tersisa.
Siapa yang menyerang Bambang?
Mengapa warga sipil bisa menjadi korban?
Bagaimana kekerasan bisa menjalar dari pusat demonstrasi menuju permukiman?
Dan siapa yang bertanggung jawab atas kematian tersebut?
Pertanyaan itu kini jauh lebih penting daripada sekadar mencari siapa yang kalah atau menang dalam kericuhan.
Ini Bukan Lagi Sekadar Kericuhan
Demonstrasi merupakan bagian dari kehidupan demokrasi.
Warga memiliki hak menyampaikan tuntutan.
Namun, hak tersebut berhenti ketika kekerasan mulai merampas keselamatan warga lain.
Kasus Bambang memperlihatkan batas yang sering terlupakan.
Sebuah aksi politik tidak hanya meninggalkan jejak di jalan raya.
Dampaknya bisa masuk ke rumah warga, pasar, tempat kerja, bahkan keluarga yang tidak terlibat.
Bambang tidak datang ke DPR.
Ia tidak membawa spanduk.
Ia tidak meneriakkan tuntutan politik.
Ia hanya menjalani hidup di lingkungan tempat ia mencari nafkah.
Namun, malam itu, kekerasan membuat kehidupan tersebut berhenti.
Inilah twist dari peristiwa Pejompongan: ini bukan sekadar kericuhan setelah demonstrasi. Ini menunjukkan betapa cepat konflik publik dapat berubah menjadi ancaman bagi warga yang sama sekali tidak terlibat.
Ketika kekerasan keluar dari arena demonstrasi, masyarakat sipil menjadi garis pertama yang menanggung akibatnya.
Dan ketika satu keluarga kehilangan anggota keluarganya, kericuhan tidak pernah benar-benar berakhir.
Bagi mereka, suara massa mungkin sudah menghilang.
Jalanan mungkin kembali sepi.
Namun, rumah Bambang akan tetap menyimpan satu pertanyaan yang belum selesai, mengapa seseorang yang tidak ikut berdemonstrasi harus kehilangan nyawanya? @dimas








