Jumat, September 18, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Kericuhan Pejompongan Makan Korban, Seorang Pedagang Cermin Tewas

by Tabooo
Agustus 28, 2026
in Nasional, Reality
A A
Home Reality
Share on Facebook
Share on Twitter
Kericuhan di Pejompongan, Jakarta Pusat, menelan korban jiwa. Bambang Setiawan (59), pedagang cermin asal Bendungan Hilir, meninggal setelah dianiaya saat situasi memanas pada Kamis malam, 27 Agustus 2026.

Tabooo.id: Jakarta – Kericuhan di Pejompongan meninggalkan korban jiwa.

Bambang Setiawan (59), pedagang cermin asal Bendungan Hilir, Tanah Abang, Jakarta Pusat, ditemukan meninggal setelah menjadi korban pengeroyokan dalam rangkaian kericuhan, Kamis (27/8/2026) malam.

Keluarganya tidak menyaksikan langsung penganiayaan tersebut.

Mereka justru mengetahui apa yang menimpa Bambang beberapa jam kemudian, setelah sebuah video beredar dan salah satu anaknya mengenali sosok sang ayah.

Reportase Kompas melalui KGNow mengidentifikasi korban sebagai Bambang Setiawan (59). Istrinya bernama Sudarsih (57). Keterangan itu sekaligus mengoreksi informasi yang sebelumnya menyebut nama Bambang Setiyawan dan Sudarsi berusia 56 tahun.

Ini Belum Selesai

Pemerintah Tarik 25 Merek Beras Fortifikasi, Ada Apa?

Bakar Sampah Berujung Kebakaran Kabel PT Sangsaka di Bantul

Sore Itu Bambang Masih Menjaga Kios

Hari Bambang berjalan seperti biasa sebelum Pejompongan berubah.

Ia dan Sudarsih masih berjualan cermin di pinggir Jalan Pejompongan Raya pada Kamis sore.

Sekitar pukul 16.30 WIB, suasana mulai membuat Sudarsih khawatir. Konsentrasi massa terlihat semakin besar di sekitar kawasan tersebut.

Ia lalu meminta suaminya menutup kios lebih cepat.

Kompas mencatat pasangan itu biasanya baru berhenti berjualan sekitar pukul 18.00 WIB. Namun kondisi jalan membuat mereka mengubah kebiasaan hari itu.

Keputusan menutup dagangan ternyata belum membawa Bambang masuk rumah untuk malam itu.

Seseorang yang sedang sakit meminta bantuan untuk pergi ke Rumah Sakit Pelni. Bambang kemudian mengantarnya bersama sang anak menggunakan sepeda motor.

Beberapa jam berlalu.

Sekitar pukul 21.00 WIB, Bambang pulang.

Di luar, keadaan belum benar-benar tenang.

Pulang dari Rumah Sakit, Bambang Keluar Lagi

Saat Bambang kembali, massa masih bergerak di kawasan Pejompongan setelah terdorong dari titik bentrokan sebelumnya.

Laporan lain menguatkan bahwa kericuhan malam itu memang bergerak dari sekitar DPR menuju Slipi dan Pejompongan. Okezone mencatat massa masih bertahan di Pejompongan sekitar pukul 23.20 WIB, sedangkan benturan dengan aparat terjadi beberapa kali sepanjang malam.

Bambang kemudian meninggalkan rumah lagi.

Ia menuju kiosnya yang berada di pinggir jalan.

Menurut Sudarsih, suaminya memang kerap melihat kejadian di sekitar tempat berjualan. Kadang Bambang membantu orang yang terkena gas air mata dengan menyediakan air untuk membasuh wajah.

Kebiasaan itu membuat keluarga tidak langsung menahannya.

Kali ini, Bambang tidak kembali.

Pukul 01.30 WIB, Keluarga Mulai Mencari

Malam berganti Jumat, 28 Agustus.

Sekitar pukul 01.30 WIB, Sudarsih masih berusaha mencari suaminya. Ia mendatangi beberapa tempat yang biasa menjadi titik berkumpul teman-teman Bambang.

Tidak ada.

Ia kemudian pulang dengan harapan suaminya muncul sendiri.

Sekitar pukul 02.30 WIB, Sudarsih terbangun setelah tidur sebentar. Pesan WhatsApp masuk dari orang yang sebelumnya diantar Bambang ke RS Pelni.

Pertanyaannya sederhana: Bambang ada di mana?

Keluarga belum punya jawaban.

Jawaban itu baru datang menjelang pagi dengan cara yang jauh lebih buruk.

Anak Mengenali Ayahnya dalam Video

Sekitar pukul 04.00 WIB, keluarga mendapat kepastian mengenai nasib Bambang.

Bukan dari orang yang berada di lokasi. Bukan pula dari pemberitahuan resmi aparat.

Informasi itu datang dari sebuah rekaman.

Menurut keterangan keluarga kepada Kompas, salah satu anak Bambang mengenali ayahnya dalam video yang beredar.

Rekaman yang diperlihatkan kepada Kompas menunjukkan sejumlah pria membawa benda menyerupai kayu. Seorang pria kemudian terlihat diseret dan mengalami penganiayaan oleh beberapa orang.

Keluarga mengenali pria tersebut sebagai Bambang. Kompas kemudian menyebutnya sebagai korban pengeroyokan yang ditemukan tidak bernyawa.

Ada sesuatu yang getir di bagian ini.

Beberapa jam sebelumnya, keluarganya masih menunggu pintu rumah terbuka.

Menjelang pagi, mereka mengenali Bambang dari layar.

Ketua RT Mendengar Bambang Diseret

Ketua RT setempat, Aban Sobandi, berada di sekitar lokasi ketika kericuhan berlangsung.

Namun kerumunan menghalangi pandangannya. Ia tidak melihat seluruh kejadian yang menimpa Bambang secara langsung.

Aban kemudian meminta keterangan dari tetangga yang merekam video.

Menurut penuturan perekam kepada Aban, Bambang sempat diseret sebelum mengalami penganiayaan.

Kesaksian tersebut memperkuat adanya kekerasan terhadap korban.

Namun satu pertanyaan besar masih terbuka.

Siapa orang-orang yang melakukannya?

Identitas Pelaku Belum Terverifikasi

Sampai berita ini ditulis, identitas para pengeroyok belum terverifikasi.

Kondisi itu penting karena sepanjang malam muncul beberapa kelompok berbeda di Slipi, Petamburan, Palmerah, dan Pejompongan.

Ada pula rekaman mengenai kelompok yang membawa bambu serta laporan bentrokan lain dengan orang-orang yang memiliki atribut tertentu.

Kedekatan lokasi tidak cukup menjadi bukti.

Waktu yang beririsan juga tidak otomatis menyatukan identitas.

Karena itu, redaksi belum memiliki dasar untuk menyebut pengeroyok Bambang berasal dari mahasiswa, organisasi masyarakat tertentu, kelompok berikat kepala putih, atau massa aksi tertentu.

Jenazah Dibawa ke RS Polri

Setelah keluarga mengetahui kematiannya, jenazah Bambang dibawa ke Rumah Sakit Polri.

Keluarga kemudian menunggu jenazah kembali ke rumah duka di kawasan Bendungan Hilir sebelum pemakaman di TPU Kemanggisan.

Namun ada bagian yang belum boleh ditutup dengan kesimpulan terburu-buru.

Reportase keluarga telah menguatkan bahwa Bambang mengalami pengeroyokan dan meninggal. Meski begitu, penyebab medis final kematiannya tetap membutuhkan dasar pemeriksaan yang berwenang.

Identitas pelaku juga masih menjadi ruang kosong.

Kompas telah meminta konfirmasi kepada Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto. Ketika reportase tersebut terbit, kepolisian belum memberikan jawaban spesifik mengenai kasus Bambang. Penelusuran Tabooo sampai Jumat sore juga belum menemukan pengumuman resmi yang mengidentifikasi para pengeroyok.

Satu Korban Kini Punya Nama

Pada Jumat dini hari, informasi tentang korban meninggal masih bergerak bersama potongan video dan kabar yang belum lengkap.

Beberapa jam kemudian, keluarga memberi identitas pada sosok tersebut.

Namanya Bambang Setiawan.

Umurnya 59 tahun.

Ia tinggal di Bendungan Hilir dan mencari nafkah dengan menjual cermin di pinggir Jalan Pejompongan Raya.

Setidaknya satu orang telah teridentifikasi meninggal dalam rangkaian kericuhan 27 Agustus tersebut.

Sekarang pertanyaannya bukan lagi apakah ada korban.

Yang harus dijawab berikutnya jauh lebih konkret, siapa yang menyeret dan menganiaya Bambang, lalu apa yang sebenarnya terjadi pada menit-menit terakhir hidupnya? @tabooo

Tags: Bendungan Hilirbentrokan JakartaDemonstrasi 27 AgustusJakarta Pusatkericuhan PejomponganNasionalNewsReality

Kamu Melewatkan Ini

Kemenbud Rilis Lima Jilid Sejarah Indonesia, Siapa yang Menentukan Ingatan Bangsa?

Kemenbud Rilis Lima Jilid Sejarah Indonesia, Siapa yang Menentukan Ingatan Bangsa?

by Tabooo
September 1, 2026

Kementerian Kebudayaan merilis lima jilid pertama Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global. Lebih dari 5.000 halaman membawa pembaca dari...

Tiga Demo di Jakarta Pusat: Dari Patung Kuda hingga Komnas HAM

Tiga Demo di Jakarta Pusat: Dari Patung Kuda hingga Komnas HAM

by dimas
Agustus 31, 2026

Tiga demo berlangsung di Jakarta Pusat hari ini, dari Patung Kuda hingga Komnas HAM, dengan isu berbeda dan potensi dampak...

Bambang Tewas di Pejompongan: Istri Minta Kasus Diusut Tuntas

Bambang Tewas di Pejompongan: Istri Minta Kasus Diusut Tuntas

by dimas
Agustus 29, 2026

Bambang Setiyawan tewas saat kericuhan di Pejompongan. Sang istri meminta kematiannya diusut tuntas melalui proses hukum yang berlaku. Tabooo.id -...

Next Post
Surat Komitmen DPR: Janji Politik yang Diuji Hukum

Surat Komitmen DPR: Janji Politik yang Diuji Hukum

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id