Rabu, September 16, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Bambang Tewas di Pejompongan: Istri Minta Kasus Diusut Tuntas

by dimas
Agustus 29, 2026
in Edge
A A
Home Edge
Share on Facebook
Share on Twitter
Bambang Setiyawan tewas saat kericuhan di Pejompongan. Sang istri meminta kematiannya diusut tuntas melalui proses hukum yang berlaku.

Tabooo.id – Sudarsi (56) tidak meminta balas dendam.

Istri Bambang Setiyawan (59), warga Bendungan Hilir, Tanah Abang, Jakarta Pusat, juga tidak menunjuk siapa pun sebagai pelaku.

Permintaannya justru sederhana kematian suaminya harus diusut sampai tuntas.

“Saya menyerahkan kepada Allah SWT. Semua itu ya Allah yang menentukan masalah nanti hasilnya seperti apa, saya sudah ikhlas. Cuma ya namanya kan ini biar bagaimanapun harus diusut,” ujar Sudarsi dikutip dari Kompas.com, Sabtu (29/8/2026).

Menurut Sudarsi, proses hukum menjadi jalan untuk menemukan jawaban.

Ini Belum Selesai

Sopir Disandera, Mobil Dibakar: Tragedi Aris Sanda di Wamena

KPK Bongkar Dugaan Suap HGB: Urusan Tanah Berujung Koper Uang

Ia tidak mengajukan tuntutan tertentu. Sebaliknya, ia memilih mengikuti prosedur hukum yang berlaku.

“Saya mengikuti hukum yang berlaku, udah itu aja sih. Kalau untuk tuntutan saya enggak ada. Saya enggak menuntut ini itu, enggak. Pokoknya sesuai proses aja lah,” katanya.

Namun, permintaan tersebut menyimpan pertanyaan besar.

Apa sebenarnya yang terjadi pada Bambang pada malam kericuhan Pejompongan?

Keluar Rumah Saat Situasi Memanas

Kamis, 27 Agustus 2026, awalnya berjalan seperti hari biasa.

Bambang masih berjualan hingga sore. Situasi di Jalan Pejompongan Raya kemudian berubah ketika massa mulai berkumpul.

Sekitar pukul 16.30 WIB, Sudarsi meminta suaminya menutup toko lebih cepat.

Kekhawatiran itu muncul karena kericuhan mulai terjadi di sekitar lokasi.

Setelah itu, Bambang mengantar tetangganya berobat ke RS Pelni. Ia baru pulang sekitar pukul 21.00 WIB.

Situasi belum juga reda.

Massa masih bergerak dan terdorong mundur ke arah TPU Karet.

Beberapa saat kemudian, Bambang keluar lagi melalui gang menuju Jalan Pejompongan Raya.

Menurut Sudarsi, suaminya memang kerap melihat situasi ketika kericuhan terjadi. Ia juga terkadang membantu warga dengan menyediakan air untuk mencuci muka.

Malam itu tampak seperti kejadian lain yang pernah Bambang lihat.

Namun, kali ini ia tidak kembali.

Pencarian Dimulai Tengah Malam

Waktu terus bergerak tanpa kabar dari Bambang.

Sekitar pukul 01.30 WIB, Sudarsi mulai mencari suaminya. Ia mendatangi tempat teman-teman Bambang berkumpul.

Hasil pencarian itu nihil.

Bambang tidak ada di sana.

Sekitar pukul 04.00 WIB, keluarga akhirnya mengetahui kabar kematian Bambang.

Petunjuk pertama datang dari media sosial. Anak Bambang mengenali sosok yang diduga ayahnya dalam sebuah video yang beredar.

Rekaman tersebut memperlihatkan seorang pria yang diduga Bambang mengalami kekerasan.

Sejumlah orang terlihat memukul pria itu dengan kayu dan tangan. Mereka juga tampak menendangnya.

Dalam rekaman yang sama, seseorang terlihat menyeret baju pria tersebut di atas trotoar.

Namun, video itu belum otomatis menjelaskan seluruh peristiwa.

Identitas pria dalam rekaman, orang-orang yang terlibat, serta hubungan kekerasan tersebut dengan kematian Bambang tetap membutuhkan pembuktian.

Karena itu, proses hukum memegang peran penting.

Polisi Memiliki Kronologi Berbeda

Polisi menyebut Bambang sempat mendapat evakuasi setelah situasi lokasi mulai aman.

Petugas menemukan Bambang dalam kondisi pingsan. Mereka kemudian membawanya ke RS Mintoharjo.

Namun, Bambang meninggal dunia.

Petugas selanjutnya membawa jenazah Bambang ke RS Polri Kramat Jati. Rumah sakit tersebut menangani proses identifikasi dan visum.

Pada tahap ini, publik perlu memisahkan fakta dari kesimpulan.

Keluarga memiliki video yang mereka yakini memperlihatkan Bambang saat mengalami kekerasan.

Sementara itu, polisi menjelaskan proses evakuasi hingga Bambang mendapat penanganan medis.

Kedua informasi tersebut perlu diuji melalui penyelidikan.

Di situlah proses hukum seharusnya bekerja.

Pertanyaan yang Tidak Hilang Setelah Massa Pergi

Kericuhan akhirnya mereda.

Pertanyaan tentang Bambang justru belum selesai.

Siapa yang terakhir melihatnya?

Di mana Bambang mengalami luka?

Apa yang terjadi sebelum ia kehilangan kesadaran?

Siapa saja yang berada di sekitarnya?

Apakah pria dalam video benar Bambang?

Jika benar, siapa yang melakukan kekerasan?

Lalu, apakah kekerasan tersebut berkaitan dengan kematiannya?

Rangkaian pertanyaan itu bukan vonis.

Sebaliknya, semuanya menjadi bagian dari pencarian fakta.

Sudarsi pun tidak meminta publik menjatuhkan hukuman.

Ia memilih menyerahkan perkara tersebut kepada hukum.

Tidak Menuntut, tetapi Tetap Meminta Kepastian

Sudarsi mengatakan dirinya sudah ikhlas.

Namun, ikhlas tidak berarti melupakan.

Ia tetap ingin proses hukum berjalan.

“Saya mengikuti hukum yang berlaku,” kata Sudarsi.

Kini, anaknya menangani berbagai urusan terkait proses hukum. Sudarsi mengaku tidak mengetahui secara rinci perkembangan laporan tersebut.

“Jadi masalah sudah lapor, belum lapor, atau gimana perkembangannya, saya enggak tahu-menahu,” ujarnya.

Sikap tersebut memperlihatkan satu hal.

Sudarsi tidak sedang mencari panggung.

Ia sedang mencari kepastian.

Ini Bukan Sekadar Kematian di Tengah Kericuhan

Kasus Bambang memiliki lapisan yang lebih dalam.

Ini bukan sekadar kejadian. Ini pola.

Setiap kerusuhan biasanya menghasilkan gambar yang hampir sama. Massa berhadapan, jalan berubah kacau, suara benturan memenuhi ruang, lalu publik mencari siapa yang salah.

Dalam situasi seperti itu, korban mudah berubah menjadi angka.

Satu orang tewas.

Satu orang terluka.

Satu jenazah masuk rumah sakit.

Padahal, setiap angka memiliki keluarga.

Di balik kematian Bambang, ada keluarga yang kehilangan sosok suami, ayah, sekaligus bagian penting dari rumah mereka.

Karena itu, kematian Bambang tidak cukup berhenti pada pertanyaan tentang siapa yang berada di jalan malam itu.

Kasus ini juga menuntut pertanyaan tentang bagaimana hukum bekerja setelah kerumunan bubar.

Kerusuhan Berakhir, Pertanyaan Tetap Hidup

Kerusuhan memiliki umur pendek.

Dampaknya bisa jauh lebih panjang.

Bagi keluarga Bambang, malam 27 Agustus tidak selesai ketika jalan kembali sepi. Malam itu terus hidup melalui pencarian, kabar kematian, video yang beredar, dan pertanyaan yang belum terjawab.

Sudarsi sudah mengatakan dirinya ikhlas.

Meski begitu, ia tetap meminta kasus tersebut diusut.

Dua sikap itu tidak bertentangan.

Seseorang bisa menerima kehilangan sekaligus meminta keadilan.

Keadilan juga tidak selalu berarti tuntutan paling keras.

Terkadang, keadilan dimulai dari satu permintaan sederhana:

Cari tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Kerusuhan telah berlalu, tetapi jejaknya belum selesai ditelusuri. Video perlu diuji, fakta harus dibuktikan, dan kematian Bambang tidak boleh berhenti sebagai angka.

Bagi keluarga Bambang, kerusuhan mungkin sudah lewat.

Pencarian kebenaran belum selesai. @dimas

Tags: Bambang SetiyawanJakarta PusatKematian Wargakericuhan PejomponganProses Hukum

Kamu Melewatkan Ini

Tiga Demo di Jakarta Pusat: Dari Patung Kuda hingga Komnas HAM

Tiga Demo di Jakarta Pusat: Dari Patung Kuda hingga Komnas HAM

by dimas
Agustus 31, 2026

Tiga demo berlangsung di Jakarta Pusat hari ini, dari Patung Kuda hingga Komnas HAM, dengan isu berbeda dan potensi dampak...

Kericuhan Pejompongan: Malam yang Merenggut Bambang dari Rumahnya

Kericuhan Pejompongan: Malam yang Merenggut Nyawa Bambang Setiawan

by dimas
Agustus 29, 2026

Kericuhan usai demonstrasi DPR merenggut nyawa Bambang Setiawan, warga Pejompongan yang tidak ikut aksi. Keluarga kini menunggu pertanggungjawaban. Tabooo.id -...

Kericuhan Pejompongan Makan Korban, Seorang Pedagang Cermin Tewas

Kericuhan Pejompongan Makan Korban, Seorang Pedagang Cermin Tewas

by Tabooo
Agustus 28, 2026

Kericuhan di Pejompongan, Jakarta Pusat, menelan korban jiwa. Bambang Setiawan (59), pedagang cermin asal Bendungan Hilir, meninggal setelah dianiaya saat...

Next Post
Lurah Gilingan Rangkul PSK Lewat Program “Mas Gilang Suka Tomat”

Lurah Gilingan Rangkul PSK Lewat Program “Mas Gilang Suka Tomat”

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id