Rabu, Agustus 26, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Saat Makan Gratis Menjadi Solusi di Tengah Sulitnya Bertahan

by eko
Agustus 26, 2026
in Deep
A A
Home Deep
Share on Facebook
Share on Twitter
Makan gratis Al-Ikhlas di Sriwedari menyediakan 200 porsi setiap hari. Antrean warga menyoroti sulitnya memenuhi kebutuhan makan harian.

Tabooo.id – Pukul 13.00 WIB, antrean masih mengular di depan Taman Sriwedari, Kota Surakarta. Warga datang untuk mendapatkan seporsi makan gratis dari Yayasan Sosial dan Dakwah Al-Ikhlas Surakarta.

Setiap Senin hingga Jumat setelah Dzuhur, yayasan itu menyediakan 200 porsi makanan. Porsi tersebut hampir selalu habis.

Bahkan, jumlah itu kadang belum cukup. Banyaknya warga yang datang menunjukkan satu kenyataan sederhana: bagi sebagian orang, memenuhi kebutuhan makan harian masih menjadi perjuangan.

Ketika Seporsi Makan Menjadi Harapan

Bagi sebagian warga, makan siang mungkin menjadi rutinitas biasa. Namun, bagi warga yang mengantre di Sriwedari, seporsi nasi bisa membantu mereka menjalani hari.

Nur, Sekretaris Yayasan Sosial dan Dakwah Al-Ikhlas Surakarta, mengatakan kegiatan tersebut hadir karena pihaknya melihat masih banyak warga yang mengalami kesulitan.

Ini Belum Selesai

Empat Suara Menuju Senayan, DPR Jadi Titik Temu Tuntutan dan Dukungan

27 Agustus Belum Revolusi: Membaca Politik Indonesia lewat Aksi Massa Tan Malaka

Sebagian warga, kata dia, bahkan tidak mampu membeli makanan. Ada pula warga yang tidak memiliki tempat tinggal.

“Kita buat kegiatan ini karena realitanya banyak masyarakat yang tidak mampu dan mereka yang mungkin tidak memiliki tempat tinggal dan untuk makan tidak mampu membeli. Kami wadahi lewat makan gratis ini,” kata Nur.

Program tersebut menjawab kebutuhan yang sangat mendasar. Makan menjadi persoalan yang nyata bagi warga tertentu.

Karena itu, 200 porsi makanan setiap hari langsung menjadi sasaran warga yang datang.

Nur mengatakan makanan tersebut hampir selalu habis.

“Biasanya kalau makan siang di sini, ada juga yang meminta dibungkus untuk makan malam atau sore,” ujarnya.

Kebutuhan warga ternyata tidak berhenti pada satu waktu makan.

Bagi sebagian orang, satu porsi makanan juga harus cukup untuk membantu menghadapi waktu berikutnya.

Dari Tanjung Anom ke Sriwedari

Program makan gratis Al-Ikhlas telah berjalan sekitar enam bulan.

Awalnya, yayasan menggelar kegiatan tersebut di Tanjung Anom dan kawasan Perempatan Konimex.

Namun, jumlah warga yang membutuhkan terus bertambah.

“Awalnya kita mengadakan ini di Tanjung Anom dan Perempatan Konimex. Karena semakin hari permintaan makan gratis semakin bertambah, akhirnya di Sriwedari ini,” ungkap Nur.

Yayasan kemudian memilih kawasan Sriwedari karena dapat menampung antrean lebih banyak.

Pihak yayasan juga telah mendapat izin dari Dinas Pariwisata Surakarta untuk menggunakan lokasi tersebut.

Perpindahan itu bukan sekadar soal mencari tempat baru.

Meningkatnya jumlah warga yang datang mendorong Al-Ikhlas mencari ruang yang lebih luas.

Antrean pun kini menjadi pemandangan yang sering terlihat setelah Dzuhur.

Bukan Sekadar Bagi Makan

Di balik antrean tersebut, ada persoalan yang lebih besar.

Makan gratis bukan hanya tentang membagikan nasi kepada warga. Kegiatan ini juga memperlihatkan kebutuhan dasar yang masih sulit dijangkau sebagian masyarakat.

Sebanyak 200 porsi bisa habis dalam satu hari.

Kadang, jumlah itu bahkan tidak mencukupi.

Ini bukan sekadar kegiatan bagi-bagi makan. Antrean yang terus bertambah juga menunjukkan bahwa kebutuhan makan masih menjadi persoalan nyata bagi sebagian warga.

Setiap orang yang datang tentu membawa cerita berbeda.

Ada yang membutuhkan makan siang, ada yang membawa pulang makanan untuk sore hari dan ada pula yang berharap satu porsi makanan bisa membantu mengurangi pengeluaran hari itu.

Di titik itulah, kegiatan sosial tersebut memiliki arti yang lebih besar.

Rezeki yang Berputar Menjadi Makanan

Program ini berjalan dengan dukungan dari berbagai pihak.

Nur mengatakan donasi datang dari masyarakat. Pedagang pasar juga ikut membantu kegiatan tersebut.

Menurutnya, sejumlah pedagang menyumbangkan dagangan yang tidak habis terjual.

“Donasi-donasi juga ada. Yang sering itu dari pedagang pasar, menjelang pulang berdagang, dagangan yang tidak laku disumbangkan pada kami untuk kegiatan makan gratis,” katanya.

Barang yang tidak terjual kemudian bisa berubah menjadi makanan bagi warga yang membutuhkan.

Di sana, solidaritas bekerja dengan cara sederhana.

Pedagang menyumbang. Yayasan mengelola. Relawan dan santri ikut membantu. Kemudian, makanan sampai kepada warga.

Rantai kecil itu terus bergerak setiap hari.

Nur juga mengatakan kegiatan tersebut menjadi sarana belajar bagi santri binaan Al-Ikhlas.

Pihak yayasan mengajak mereka untuk belajar berbagi dan memperbanyak amal saleh.

“Santri yang kita bina ini kita ajarkan untuk menambah amal saleh sebagai ibadahnya,” ujarnya.

Dengan begitu, program tersebut tidak hanya memberi manfaat bagi penerima makanan.

Kegiatan itu juga mengajarkan kepedulian kepada generasi yang ikut terlibat.

Solidaritas yang Masih Bekerja

Di tengah kota yang terus bergerak, antrean di Sriwedari menyimpan cerita tentang kebutuhan dan kepedulian.

Satu pihak memberi makanan. Pihak lain datang karena membutuhkan.

Tidak ada proses yang rumit.

Warga datang, mengantre, lalu menerima makanan.

Namun, kesederhanaan itu justru memunculkan pertanyaan penting.

Mengapa seporsi makan gratis bisa menjadi kebutuhan bagi begitu banyak orang?

Program ini tentu tidak dapat menyelesaikan seluruh persoalan ekonomi.

Seporsi nasi juga tidak langsung menghapus kesulitan hidup.

Namun, bagi warga yang datang hari itu, bantuan tersebut memiliki arti nyata.

Makanan bisa membantu mereka melewati satu hari.

Di depan Taman Sriwedari, solidaritas masih bekerja. Tetapi antrean yang terus datang juga mengingatkan bahwa masih ada warga yang berjuang untuk memenuhi kebutuhan paling dasar: makan.

Dan ketika makan gratis mulai menjadi andalan, persoalannya bukan hanya tentang siapa yang memberi.

Pertanyaannya, berapa banyak orang yang sebenarnya masih membutuhkan bantuan untuk sekadar makan hari ini?

Meta deskripsi: Makan gratis Al-Ikhlas di Sriwedari menyediakan 200 porsi setiap hari. Antrean warga menyoroti sulitnya memenuhi kebutuhan makan harian.@eko

Tags: Makan GratissriwedariSurakartaYayasan Al Ikhlas

Kamu Melewatkan Ini

200 Porsi Makan Gratis Al-Ikhlas Diserbu Warga di Sriwedari

200 Porsi Makan Gratis Al-Ikhlas Diserbu Warga di Sriwedari

by eko
Agustus 25, 2026

Yayasan Al-Ikhlas Surakarta membagikan 200 porsi makan gratis setiap Senin-Jumat di depan Taman Sriwedari. Antrean warga pun mengular. Tabooo.id -...

26 Tahun BBMC: Ketika Motor Menyatukan Bikers dari Berbagai Daerah

26 Tahun BBMC: Ketika Motor Menyatukan Bikers dari Berbagai Daerah

by eko
Agustus 24, 2026

BBMC Central Java merayakan 26 tahun perjalanan di Solo. Ratusan bikers dari berbagai daerah bertemu dalam semangat persaudaraan dan satu...

Datang dari Berbagai Arah, Pulang dengan Satu Persaudaraan

Datang dari Berbagai Arah, Pulang dengan Satu Persaudaraan

by eko
Agustus 24, 2026

Menggali arti persaudaraan di balik komunitas bikers. BBMC Central Java menunjukkan loyalitas, solidaritas, dan semangat satu aspal selama 26 tahun....

Next Post
Prabowo Disebut Sumbang Rp16 Triliun untuk Amazon, Ini Faktanya

Prabowo Disebut Sumbang Rp16 Triliun untuk Amazon, Ini Faktanya

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id