Viral klaim Prabowo menyumbang Rp16 triliun untuk hutan Amazon saat Kalimantan terbakar.
Tabooo.id – Kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan kembali memicu perhatian. Data Sipongi mencatat luas lahan terbakar sepanjang Januari-Juni 2026 mencapai 57.081,33 hektar.
Angka itu bahkan melampaui total luas karhutla Kalimantan sepanjang 2025, yaitu 55.717,27 hektar.
Di tengah situasi tersebut, sebuah narasi ramai di media sosial. Narasi itu menyebut Presiden Prabowo Subianto memberikan Rp16 triliun untuk memulihkan hutan Amazon di Brasil.
Klaim itu memicu kemarahan warganet. Sebagian orang lalu menilai Prabowo lebih peduli pada hutan negara lain daripada karhutla di Indonesia.
Namun, benarkah Prabowo memberikan Rp16 triliun untuk hutan Amazon?
Jawabannya, tidak. Klaim tersebut keliru.
Klaim Rp16 Triliun untuk Amazon
Sejumlah pengguna Facebook menyebarkan narasi itu pada Jumat, 21 Agustus 2026.
Salah satu unggahan menulis:
“Prabowo bantu 16 triliun untuk pemulihan hutan Amazon. Tapi hutan di Kalimantan Indonesia terbakar sekarang.”
Unggahan itu mengaitkan angka Rp16 triliun dengan bantuan untuk pemulihan hutan Amazon.
Narasi tersebut juga membandingkan isu itu dengan kebakaran hutan di Kalimantan.
Perbandingan itu kemudian mendorong kemarahan publik. Namun, narasi tersebut tidak menyertakan bukti yang mendukung klaimnya.
Tidak Ada Bukti Sumbangan Rp16 Triliun
Tim Cek Fakta Kompas.com menelusuri klaim tersebut melalui Google Search.
Tim tidak menemukan artikel kredibel yang menyebut Prabowo memberikan sumbangan Rp16 triliun untuk memulihkan hutan Amazon pada 2026.
Penelusuran itu juga menemukan pola yang sama. Narasi tentang Rp16 triliun ternyata pernah muncul sebelumnya dengan konteks berbeda.
Pada 2025, angka Rp16 triliun muncul sebagai target transaksi perdagangan karbon Indonesia.
Indonesia menyampaikan target itu dalam rangkaian Konferensi Perubahan Iklim PBB ke-30 atau COP30 di Belem, Brasil, pada November 2025.
Jadi, angka Rp16 triliun tidak merujuk pada dana bantuan untuk hutan Amazon.
Rp16 Triliun Merujuk Target Perdagangan Karbon
Perdagangan karbon melibatkan jual beli sertifikat pengurangan emisi karbon.
Dalam skema ini, pihak yang menghasilkan emisi dapat membeli kredit karbon. Kredit tersebut berasal dari kegiatan yang mengurangi atau menyerap emisi.
Indonesia menargetkan nilai transaksi perdagangan karbon hingga Rp16 triliun.
Angka inilah yang kemudian muncul dalam narasi viral.
Namun, narasi di media sosial mengubah konteks angka tersebut. Unggahan itu menggambarkan target perdagangan karbon sebagai uang sumbangan untuk pemulihan hutan Amazon.
Padahal, keduanya jelas berbeda.
Menteri Lingkungan Hidup saat itu, Hanif Faisol Nurofiq, juga pernah menjelaskan perkembangan perdagangan karbon Indonesia pada 2025.
Menurut Hanif, nilai transaksi perdagangan karbon saat itu hampir mencapai Rp7 triliun dari target Rp16 triliun.
Tidak ada bukti yang menunjukkan Prabowo memberikan uang Rp16 triliun kepada Brasil.
Karhutla Kalimantan dan Amazon Jadi Bahan Framing
Kebakaran hutan di Kalimantan merupakan masalah nyata.
Data Sipongi mencatat luas karhutla sepanjang Januari-Juni 2026 mencapai 57.081,33 hektar. Angka itu sudah melampaui total luas karhutla Kalimantan sepanjang 2025.
Namun, narasi viral mencampur fakta kebakaran dengan informasi keliru tentang Rp16 triliun.
Narasi tersebut memakai dua isu berbeda untuk membangun kemarahan publik.
Pertama, kebakaran hutan di Kalimantan. Kedua, target perdagangan karbon Indonesia.
Kemudian, narasi itu mengubah target transaksi perdagangan karbon menjadi sumbangan untuk Amazon.
Di sinilah konteksnya berubah.
Ini bukan sekadar soal angka. Ini menunjukkan bagaimana sebuah informasi bisa menyesatkan ketika seseorang menghilangkan konteks penting.
Publik tentu berhak mengkritik penanganan karhutla. Pemerintah juga perlu menjawab setiap persoalan lingkungan secara terbuka.
Namun, kritik membutuhkan fakta yang tepat.
Tanpa fakta, kemarahan publik justru bisa bergerak ke arah yang salah.
Jadi, Benarkah Prabowo Sumbang Rp16 Triliun untuk Amazon?
Tidak benar.
Klaim bahwa Presiden Prabowo Subianto menyumbangkan Rp16 triliun untuk memulihkan hutan Amazon di Brasil merupakan hoaks.
Angka Rp16 triliun merujuk pada target transaksi perdagangan karbon Indonesia. Angka itu bukan dana bantuan untuk hutan Amazon.
Sementara itu, kebakaran hutan di Kalimantan tetap menjadi persoalan serius. Data Sipongi menunjukkan luas lahan terbakar selama enam bulan pertama 2026 sudah melampaui total angka sepanjang 2025.
Dua fakta tersebut perlu publik lihat secara utuh.
Karhutla adalah masalah nyata. Namun, hoaks juga masalah nyata. Jangan biarkan satu informasi keliru mengaburkan persoalan yang sebenarnya.
Sebelum marah, cek faktanya. Sebelum membagikan, cek konteksnya. Jangan sampai api hoaks menyebar lebih cepat daripada kebenaran.@eko








