Yayasan Al-Ikhlas Surakarta membagikan 200 porsi makan gratis setiap Senin-Jumat di depan Taman Sriwedari. Antrean warga pun mengular.
Tabooo.id – Antrean warga mengular di depan Taman Sriwedari, Kota Surakarta, Senin hingga Jumat seusai salat Dzuhur. Mereka datang untuk mendapatkan makan gratis yang disediakan Yayasan Sosial dan Dakwah Al-Ikhlas Surakarta.
Dari pantauan Tabooo.id sekitar pukul 13.00 WIB, ratusan warga memadati lokasi pembagian makanan. Yayasan tersebut menyiapkan sekitar 200 porsi setiap hari untuk masyarakat.
Program makan gratis ini sudah berjalan kurang lebih enam bulan. Kegiatan tersebut menyasar siapa saja yang membutuhkan, terutama warga dengan kondisi ekonomi terbatas.
Antrean Panjang Demi Seporsi Makan
Nur, Sekretaris Yayasan Sosial dan Dakwah Al-Ikhlas Surakarta, mengatakan kegiatan itu berangkat dari kondisi nyata yang mereka temui di masyarakat.
Menurut dia, masih banyak warga yang kesulitan memenuhi kebutuhan makan sehari-hari. Beberapa di antaranya bahkan tidak memiliki tempat tinggal tetap.
“Kita buat kegiatan ini karena realitanya banyak masyarakat yang tidak mampu. Mereka mungkin tidak memiliki tempat tinggal dan untuk makan pun tidak mampu membeli. Kami wadahi lewat makan gratis ini,” kata Nur.
Setiap hari, 200 porsi makanan langsung habis. Bahkan, jumlah tersebut terkadang belum cukup untuk memenuhi kebutuhan warga yang datang.
Nur mengatakan sebagian warga menikmati makanan di lokasi. Namun, beberapa lainnya memilih membawa pulang makanan tersebut untuk disantap pada sore atau malam hari.
“Biasanya makan siang di sini. Ada juga yang meminta dibungkus untuk makan malam atau sore,” ujarnya.
Dari Tanjung Anom hingga Sriwedari
Program ini tidak langsung berlangsung di depan Taman Sriwedari. Yayasan Al-Ikhlas sebelumnya menggelar kegiatan serupa di kawasan Tanjung Anom dan Perempatan Konimex.
Namun, jumlah warga yang membutuhkan makanan terus bertambah. Yayasan kemudian mencari lokasi yang lebih luas agar kegiatan bisa menjangkau lebih banyak masyarakat.
“Kami awalnya mengadakan ini di Tanjung Anom dan Perempatan Konimex. Karena semakin hari permintaan makan gratis semakin bertambah, akhirnya kami pindah ke Sriwedari,” ungkap Nur.
Ia menyebut Yayasan Al-Ikhlas mendapat izin untuk menggunakan lokasi tersebut dari Dinas Pariwisata Kota Surakarta. Area di depan Taman Sriwedari juga memberi ruang lebih besar untuk menampung antrean warga.
Di tengah kota yang terus bergerak, antrean itu menjadi potret sederhana tentang satu hal: kebutuhan makan masih menjadi persoalan bagi sebagian warga.
Santri Belajar Berbagi Lewat Aksi Nyata
Kegiatan makan gratis ini juga menjadi bagian dari pembinaan santri Al-Ikhlas. Yayasan mengajak para santri terlibat langsung agar mereka memahami nilai berbagi melalui tindakan.
Nur mengatakan yayasan ingin mengajarkan kepada para santri bahwa ibadah tidak hanya berlangsung dalam ruang belajar atau tempat ibadah. Membantu sesama juga menjadi bagian dari amal kebaikan.
“Santri yang kami bina, kami ajarkan untuk menambah amal saleh sebagai ibadahnya,” katanya.
Lewat kegiatan tersebut, para santri belajar melihat langsung kondisi masyarakat. Mereka juga ikut membangun kepedulian terhadap warga yang menghadapi kesulitan ekonomi.
Rezeki Datang dari Berbagai Arah
Untuk menjaga program tetap berjalan, Yayasan Al-Ikhlas mengandalkan rezeki dan dukungan dari berbagai pihak. Nur mengaku banyak bantuan datang secara tidak terduga.
Salah satu dukungan datang dari para pedagang pasar. Menjelang pulang berdagang, beberapa pedagang menyumbangkan barang dagangan yang belum terjual kepada yayasan.
Bantuan tersebut kemudian membantu memenuhi kebutuhan program makan gratis.
“Kalau kita berbisnis di jalan Allah, pasti rezeki datang dari segala arah. Donasi juga ada. Pedagang pasar sering menyumbangkan dagangan yang tidak laku untuk kegiatan makan gratis,” terang Nur.
Bagi Yayasan Al-Ikhlas, program ini bukan sekadar membagikan 200 porsi makanan setiap hari. Di balik antrean panjang itu, ada upaya untuk memastikan warga yang kesulitan tetap bisa mendapatkan seporsi makan.
Nur berharap kegiatan tersebut terus berjalan dan mampu menjangkau lebih banyak masyarakat yang membutuhkan.
“Harapan kami, semua masyarakat yang kekurangan bisa terbantu lewat program makan gratis ini,” pungkasnya.
Di Sriwedari, seporsi makan mungkin tampak sederhana. Namun bagi mereka yang datang dan mengantre, bantuan itu bisa berarti satu hal yang jauh lebih besar: kesempatan untuk tetap bertahan hari ini.







