Selasa, Juni 30, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Menkomdigi Siap Rem Thrifting Online, Siapa Kena Sikat?

by teguh
Mei 8, 2026
in Reality, Teknologi
A A
Home Reality
Share on FacebookShare on Twitter

Pemerintah Kompak: Thrifting Berpotensi Direm Total

Tabooo.id: Teknologi – Menkomdigi Meutya Hafid menegaskan bahwa kementeriannya akan mengikuti arah kebijakan besar pemerintah bila aktivitas penjualan barang bekas akhirnya dilarang. Sikapnya jelas jika regulasi turun, maka pasar online ikut terimbas.

“Kalau memang aturannya pelarangan, ya kita mengikuti,” kata Meutya di Jakarta, Kamis (20/11/2025). Karena banyak yang bertanya soal teknis penindakan, ia menyebut penjelasan lengkap akan disampaikan Direktorat Jenderal Pengawasan Ruang Digital yang dipimpin Alex. Dengan kata lain, aturan main tinggal menunggu waktu.

Langkah ini tidak berjalan sendirian. Sebelumnya, Menteri UMKM Maman meminta pedagang thrift berpindah ke produk lokal. Ia menilai perpindahan itu penting karena industri dalam negeri terus terpukul oleh banjir barang bekas impor yang harganya sangat murah.

Sementara itu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sudah memerintahkan Bea Cukai memperketat pintu masuk balpres ilegal. Ia mendesak aparat menindak importir yang masih nekat membawa barang bekas ke Indonesia.

Thrifting Itu Budaya, Bukan Sekadar Belanja Hemat

Tren thrifting lahir dari kebutuhan. Dari Cimol Bandung sampai Poncol Senen, pasar barang bekas tumbuh karena masyarakat ingin tampil gaya tanpa merusak dompet. Selain itu, generasi muda juga melihat thrifting sebagai cara mengurangi limbah fesyen sekaligus menemukan barang unik yang tidak ada duanya.

Ini Belum Selesai

Danantara Libatkan KPK Sebelum Hilirisasi Dimulai, Tata Kelola Jadi Sorotan

Beras Sulit Laku, Mentan Bicara Produksi Melimpah, Pedagang Soroti Daya Beli

Tren ini punya sejarah panjang. Di Amerika, thrifting mulai berkembang sejak akhir abad ke-19. Produksi massal membuat pakaian menjadi gampang dibuang, sehingga organisasi seperti Salvation Army dan Goodwill mengumpulkan baju bekas dan menjualnya murah untuk para imigran. Konsep ini kemudian menyebar dan menjadi bagian dari kultur fesyen global.

Siapa Untung, Siapa Kena Dampak?

Aturan baru ini menghadirkan dua sisi yang berbeda.

1. Yang Untung: Industri Lokal dan UMKM

Karena pasar akan lebih bersih dari barang bekas impor murah, produsen lokal bisa melebarkan pasar. Selain itu, pelaku UMKM yang menjual produk baru memiliki peluang lebih besar untuk bersaing.

2. Yang Rugi: Pedagang Kecil dan Konsumen

Para pedagang thrift kecil harus memikirkan ulang cara bertahan. Selain itu, konsumen berpenghasilan menengah-bawah kehilangan opsi belanja hemat yang selama ini membantu mereka menjaga gaya hidup tetap “aman di kantong.”

Di sisi lain, banyak anak muda yang menjadikan thrift sebagai hobi kreatif mulai dari mencari barang langka sampai merombak pakaian menjadi sesuatu yang baru. Bila aturan terlalu keras, kreativitas itu ikut terjepit.

Kebijakan Siap Jalan, Tapi Apakah Dampaknya Akan Adil?

Pemerintah mengklaim aturan ini demi industri dalam negeri. Namun, pertanyaannya tetap sama apakah perlindungan ini benar-benar untuk rakyat atau justru untuk pemain besar yang ingin pasar lebih steril dari kompetisi?

Di tengah perubahan cepat ini, publik berhak bertanya kalau thrifting harus hilang, siapa sebenarnya yang diminta berhemat?. @teguh

Tags: Bea CukaiGlobalIlegalIndustriMenkomdigiRegulasi

Kamu Melewatkan Ini

Papua 65 Tahun Konflik: Kenapa Luka Ini Tak Pernah Selesai?

Papua 65 Tahun Konflik: Kenapa Luka Ini Tak Pernah Selesai?

by jeje
Mei 18, 2026

“Papua bukan soal keamanan semata. Papua adalah soal keadilan, sejarah, dan rasa dipercaya.” Kalimat itu terus muncul dalam diskusi para...

Kenapa Kota Kita Makin Penuh Coffee Shop Tapi Miskin Ruang Dialog?

Kenapa Kota Kita Makin Penuh Coffee Shop Tapi Miskin Ruang Dialog?

by jeje
Mei 13, 2026

Di banyak kota, aroma kopi kini terasa lebih mudah ditemukan di coffee Shop daripada ruang bicara yang jujur. Sudut jalan...

22 Detik Video: Satu Indonesia Mendadak Jadi Penyidik

22 Detik Video: Satu Indonesia Mendadak Jadi Penyidik

by teguh
Mei 9, 2026

;: Cuma 22 detik. Namun video dua petugas Bea Cukai yang masuk ke Warung Madura pada malam hari langsung mengubah...

Next Post
MForce Bawa Zontes 368 Series ke Indonesia

MForce Bawa Zontes 368 Series ke Indonesia

Madilog Series

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026

Marx Series

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id